Ujian Rakyat di Bulan Juni: Tertampar Kenaikan Harga Pangan Hingga BBM
Hari Susmayanti June 12, 2026 07:03 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kondisi masyarakat saat ini bagai sedang ditampar dan ekonominya diuji bertubi-tubi. 

Belum tuntas dampak kenaikan harga pangan dan barang, harga minyak dunia, serta melemahnya nilai tukar rupiah, pada Juni 20226 ini warga dibayangi efek domino dari melejitnya tarif bahan bakar minyak (BBM).

Kenaikan Pertamax per 10 Juni 2026 yang menembus angka Rp16.250 per liter mulai memicu dampak di hilir. 

Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Yogyakarta mulai dipadati antrean kendaraan warga yang diduga kuat bermigrasi ke jenis bensin Pertalite.

Hanafi, seorang pengemudi ojek online (ojol) di Kota Yogyakarta, mengeluhkan kondisi SPBU yang berbeda dari biasanya, pada Rabu (10/6) malam. 

Saat hendak mengisi bahan bakar di SPBU kawasan Jalan Wonosari, Rejowinangun, ia dikejutkan oleh antrean Pertalite yang mengular panjang meski waktu sudah menunjukkan hampir dini hari.

Menurut Hanafi, kondisi tersebut terbilang tidak wajar, lantaran pada hari-hari biasa di jam yang sama, antrean di SPBU tersebut cenderung sepi dan hanya menyisakan beberapa kendaraan. 

Untuk mendapatkan Pertalite, ia harus rela menghabiskan waktu hingga puluhan menit di atas sepeda motor yang jadi senjatanya mengais nafkah. 

Sebuah situasi yang cukup menyiksa baginya setelah mencari pundi-pundi rupiah dengan menyusuri jalanan seharian penuh.

"Antre sekitar 20 menit, ada lebih dari 20 motor itu di depan. Sudah posisi capek, ngantuk, habis narik, masih harus antre panjang buat ngisi bensin," tuturnya, Kamis (11/6/2026).

Baca juga: Pulihkan Total Korban Kekerasan, DPRD Kota Yogya Matangkan Raperda Perlindungan Perempuan dan Anak 

Tak terjangkau

Sebelum terjadi kenaikan harga, ia kadang beralih membeli Pertamax jika antrean Pertalite tampak panjang. 

Namun kini, dengan harga Pertamax Rp16.250 per liter, ia mantap menggelengkan kepala dan memilih antre BBM subsidi. 

Banderol Pertamax yang kini melejit begitu pesat sudah berada di luar jangkauan kantong para pekerja sektor informal seperti dirinya.

"Kalau dulu masih bisa, begitu antrean panjang, geser ke Pertamax. Lah, sekarang harganya Pertamax sudah Rp16.000 lebih. Kalau buat ojol kayak saya yang setiap hari mondar-mandir ke sana kemari, ya susah. Mau enggak mau, tetap bertahan pakai Pertalite, disabar-sabarkan saja lah, semoga segera ada kabar baik. Capek juga setiap hari gonjang-ganjing begini," tegasnya.

Arifin (38), pengemudi ojek asal Bantul, mengaku kecewa dan khawatir dengan kenaikan harga yang terjadi secara mendadak. 

Kondisi ini dikhawatirkan bisa memicu peralihan pengguna Pertamax ke Pertalite, sehingga stok BBM subsidi itu jadi kerap kosong. 

Ia juga khawatir harga barang lain terkena imbasnya.

"Ya pasti semua harga (komoditas) pasti naik ya, jadi ada dampaknya juga," tuturnya.

Warga Bantul, Sukma (24), mengaku terkejut dan baru mengetahui kenaikan harga Pertamax saat mengisi bensin pada Rabu pagi. 

Ia tentu saja kecewa atas kenaikan yang cukup tinggi itu, mengingat selama ini ia mengandalkan Pertamax demi menjaga kualitas performa sepeda motornya.

"Saya beli Rp70.000 biasanya full tank (sekarang tidak lagi)," ucapnya.

Ia turut khawatir kenaikan harga Pertamax berdampak kepada perekonomian dan jual beli barang di pasaran. Selain itu, masyarakat bisa saja beralih menggunakan Pertalite. 

"Takutnya nanti pada turun (beralih membeli) Pertalite. Terus (harga jual) Pertalite naik. Kasihan ekonominya kita," tutur dia.

Penjualan anjlok

Tak hanya dikeluhkan warga, kenaikan harga BBM juga menimbulkan dampak tersendiri bagi kalangan pengusaha. 

Pemilik Pertashop Gunungkidul, Cokro, mengatakan, penjualan Pertamax per hari biasanya sekitar 800-1.000 liter, namun kini anjlok jadi 213 liter setelah harganya naik.

"Dan itu (penurunan penjualan) dirasakan semua pengelola Pertashop. Kita kan ada grup pengelola Pertashop di DIY, itu biasanya tebus Pertamax rata-rata per hari 85 ribu-110 ribu liter. Tadi saya lihat di grup tebus cuma 33 ribu liter. Turunnya drastis sekali," katanya, Kamis.

Ia mengeluh kesulitan menjual Pertamax lantaran disparitas harga yang tinggi dengan Pertalite. 

Sebelum harga Pertamax naik, Pertashop menjadi pilihan masyarakat lantaran selisih harga Rp2.000 per liter dengan Pertalite. 

Dengan disparitas harga yang tinggi, ia kini pesimistis dan memperkirakan bisnisnya hanya bertahan 2-3 bulan. 
Dalam waktu dekat, ia dan pengelola Pertashop di DIY dan Jawa Tengah akan mengadakan pertemuan untuk membahas masa depan usaha.

"Siapa yang mau bertahan di Pertashop kalau jual segitu. Teman-teman itu juga mengeluh penurunanya drastis, ada yang tadinya 400 liter jadi 150 liter. Padahal, untuk operasional saja, paling tidak Pertashop itu harus menjual sekitar 200 liter per hari. Baru opersionalnya saja lho," lanjutnya.

Pengusaha otomotif di Kulon Progo, Dedy Sujatmoko, menyebut imbas kenaikan Pertamax kini sudah mulai dirasakan oleh para karyawannya. 

"Mereka terpaksa membeli Pertamax karena beberapa SPBU kesulitan persediaan Pertalite, belum lagi antrean untuk membelinya juga panjang," ujarnya.

Menurut Dedy, selisih kenaikan hingga Rp4.000 untuk seliter Pertamax akan langsung membebani pengeluaran harian, apalagi bagi pekerja yang pendapatannya masih sebatas upah minimum kabupaten/kota (UMK). 

Belum lagi saat ini daya beli masyarakat juga sedang lemah. Pria yang memiliki usaha jual-beli mobil bekas ini mengaku omzetnya turun karena lemahnya daya beli saat ini. 

"Separuh pendapatan juga ikut turun," jelasnya.

Oli mahal

Selain kenaikan harga BBM nonsubsidi naik, masyarakat kini juga dihadapkan dengan kenaikan harga komponen kendaraan, seperti oli, yang dipengaruhi fluktuasi harga minyak dunia dan faktor lain. 

Kepala Unit Bengkel Binangun di Kapanewon Wates, Kulon Progo, Sulistyo Nur Abadi mengungkapkan harga oli melonjak cukup tinggi sejak awal Mei. 

"Salah satu produk oli misalnya, dari harga Rp340 ribu per botol, sekarang naik jadi kisaran Rp400 ribu," kata Sulistyo, Kamis.

Ia menilai kenaikan harga oli dipicu oleh konflik di Iran. 

Terutama sejak adanya blokade di Selat Hormuz, menyebabkan distribusi minyak seluruh dunia terhambat, termasuk Indonesia. 

Kondisi ini semakin diperparah dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus melemah, karena banyak merek oli kendaraan yang diimpor dari luar negeri.

Tak hanya harganya naik, Sulistyo mengungkapkan bahwa pasokan dari distributor kini dibatasi karena sedang terjadi kelangkaan. 

Ia pernah memesan 20 karton oli, namun yang datang hanya 3 karton. Tingkat pembelian pun ikut turun, karena pemilik kendaraan menunda ganti oli baru. 

"Penurunan omset cukup signifikan di awal Juni, antara 15-20 persen," ungkap Sulistyo.    

Keluhan serupa dirasakan oleh Fatma, pemilik bengkel Panggih Motor di Sleman. 

Fatma mengatakan kenaikan harga oli 10-20 persen sudah dirasakan sejak sebulan terakhir.

"Kenaikannya lumayan sih, yang biasanya aku jual Rp40.000 bisa jadi Rp60.000, naiknya 10-20 persen. Rata-rata kenaikannya Rp20.000," katanya.

Guna menyiasati kenaikan harga, ia memilih memperbanyak stok oli harga murah. 

Di bengkelnya, ia menyediakan oli mulai dari harga Rp40.000 hingga Rp 100.000, termasuk jasa. 

"Karena banyak konsumen yang kemudian beralih ke oli yang murah. Ada juga konsumen yang akhirnya nggak jadi ganti oli, ya tidak apa-apa," terangnya.

Endang, pemilik Gion Motor, menyebut kenaikan harga oli sudah terjadi sejak April 2026 lalu secara bertahap, dan kini rata-rata naik Rp10.000-15.000.  

Kini bengkelnya menjual oli dengan harga Rp45.000 hingga Rp150.000, tergantung merek.

"Banyak konsumen yang kaget juga karena kenaikannya lumayan tinggi, bengkel jadi sepi. Karena orang sekarang itu selisih Rp 1.000 aja nggak mau, biar ngirit," ungkapnya.

Bahan pangan

Harga kebutuhan pokok yang cenderung terus merangkak naik, tak ayal membuat masyarakat khawatir. 

Anis, warga Kota Yogya, mengatakan, kenaikan sejumlah bahan pokok membuatnya harus merogoh kantong lebih dalam. 

Ia mencontohkan harga telur yang kini masih di kisaran Rp28.000 per kilogram. 

Meski harga telur pernah menyentuh angka Rp 30.000, namun ia pernah merasakan harga telur hanya Rp25.000.

"Sekarang apa-apa mahal, telur sekarang Rp28.000, padahal kan telur itu bahan pokok yang wajib ada. Yang paling gampang dimasak, dan istilahnya lauk yang paling murah juga, tapi ya sekarang mahal," katanya, Senin (8/6/2026).

Selain telur, ia menyebut ada kenaikan harga daging ayam ras. Meski tidak mengetahui secara pasti harga per kilogramnya, namun ia mengklaim jumlah daging yang ia terima lebih sedikit untuk harga beli yang sama.

Warga lainnya, Umi, mengeluhkan kian tingginya harga minyak goreng, bawang merah, bawang putih, dan telur. 

Ia juga menyoroti perbedaan harga di eceran dan saat pasar murah. 

"Telur itu kalau di warung tetangga bisa Rp28.000, tetapi pernah beli di bazar (pasar murah) cuma Rp22.000, bedanya jauh banget. Minyak goreng juga mahal, sekarang per liter sekitar Rp20.000 sampai Rp 23.000. Yang Minyakita itu sekarang sudah enggak, mau enggak mau ya beli minyak yang mahal," terangnya. 

Widiyati (64), ibu rumah tangga asal Wates, mengatakan harga beras, bawang merah, bawang putih, hingga bumbu dapur kini meninggi. 

Ia biasanya membeli seperempat kilogram (kg) bawang merah dengan harga Rp10.000-12.000, namun sekarang tembus Rp15.000. 

Belum lagi dengan harga bawang putih yang ikut-ikutan naik sepekan terakhir, yang harganya nyaris mencapai Rp40 ribu per kg. 

Padahal, harga beras yang biasa ia beli pun juga sudah tinggi, yaitu sekitar Rp15 ribu per kg.

"Harga (bahan pokok dan bumbu dapur) banyak yang mahal, membuat pengelolaan uang belanja jadi pusing," ujar Widiyati.

Ia tidak bisa asal mengurangi volume pembelian bahan pokokkarena  menjadi kebutuhan utama. 
Meski begitu, ia tetap bersyukur karena kebutuhan sehari-harinya masih bisa terpenuhi.

Sutiyah, ibu rumah tangga yang juga pedagang daging ayam di Pasar Wates, juga mengeluhkan hal serupa. 

Banyak harga bapok yang naik, namun pendapatannya justru kurang.

"Penghasilan sekarang tidak seperti dulu, rasanya makin susah cari uang sekarang ini," kata warga Kapanewon Panjatan ini. (aka/maw/nei/alx)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.