Pedagang Es Teller Keliling di Labuan Bajo Flores Pilih Pangkas Biaya Transportasi 
Hilarius Ninu June 12, 2026 11:58 AM

 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Tari Rahmaniar

TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO - Di tengah teriknya cuaca Labuan Bajo, Salsim setia menyusuri jalanan dengan sepeda motor Scoopy merah miliknya untuk menjajakan es teler.

Berdasarkan pantauan TRIBUNFLORES.COM di Pasar Wae Kesambi Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat di bagian belakang motor, sebuah box besar yang diisi puluhan gelas es teler terikat kuat, lengkap dengan potongan es batu yang berfungsi menjaga minuman tetap dingin hingga sampai ke tangan pembeli.

Pemandangan itu telah menjadi rutinitas Salsim selama dua tahun terakhir. Namun, belakangan ini biaya yang harus ia keluarkan untuk berkeliling semakin besar seiring kenaikan harga Pertamax.

"Sebenarnya sangat memberatkan juga. Tapi mau bagaimana lagi, kalau pemerintah sudah buat seperti itu, mau tidak mau kita harus ikut saja," ujar Salsim, Jumat (12/06/2026).

Baca juga: Dampak Kenaikan BBM, Harga Bawang Merah dari Rp 45 Ribu Menjadi 80 Ribu di Pasar Bobou Bajawa

 

 

Menurutnya pilihan lain memang ada seperti pertalite tetapi pertalite harus mengantri untuk mendapatkan. 

"Sebagai pedagang kita butuh cepat, nah pilihannya di pertamax karena selalu ada juga kalau pertamax sementara pertalite cepat habis juga," ungkapnya. 

Setiap hari, ia mulai berjualan sejak pukul 09.00 Wita. Setelah melayani pembeli di pasar Wae Kesambi Labuan Bajo Sams melanjutkan perjalanan berkeliling menggunakan Scoopy merah keluaran tahun 2024. Dalam sehari, ia mampu menjual sekitar 80 gelas es teler full cream.

Meski biaya bahan bakar meningkat, Salsim memilih tidak menaikkan harga jual. Satu gelas es teler buatannya tetap dibanderol Rp10 ribu.

Menurutnya, kenaikan harga Pertamax memang tidak terlalu memengaruhi jumlah pembeli. Namun, biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk berkeliling menjadi lebih besar.

"Kalau masalah jualan tidak juga. Pendapatan tetap sama, cuma ada potongan di transportasi. Dulu isi Rp15 ribu atau Rp20 ribu sudah lumayan, sekarang sekitar Rp16 ribu baru dapat satu liter," ungkapnya.

Ia mengaku kini harus lebih cermat mengatur penggunaan bahan bakar. Jika sebelumnya dengan jumlah liter tertentu ia bisa menempuh rute yang lebih panjang, sekarang biaya yang sama tidak lagi cukup.

"Sebelumnya mungkin dengan jumlah liter yang sama bisa beberapa kali keliling. Sekarang harus keluar biaya lagi," ungkapnya.

Usaha es teler keliling yang dijalankannya masih bertahan karena ia tetap menjaga kualitas dagangan. Dalam satu gelas es teler, terdapat campuran sagu mutiara, nutrijel, nutrijel kelapa, cincau, melon, dan agar-agar.

Untuk kuahnya, Salsim menggunakan perpaduan bubuk creamer, susu, dan gula asli tanpa campuran bahan lain. Beruntung, harga bahan baku utama tersebut masih relatif stabil sehingga ia belum perlu menaikkan harga jual.

"Harga bubuk cream dan bahan-bahan lain masih tetap. Cuma harapannya kalau bisa harga-harga bahan baku, termasuk Pertamax, kembali seperti biasa lagi," katanya.

Biasanya, seluruh dagangannya sudah habis terjual paling lambat pukul 14.00 Wita.

Dengan box es teler yang terikat di belakang Scoopy merahnya, Salsim terus berkeliling dari satu sudut kota ke sudut lainnya.

Bagi pelaku UMKM seperti dirinya, kenaikan harga BBM bukan sekadar angka di papan SPBU, tetapi biaya tambahan yang perlahan mengurangi keuntungan setiap hari.

Namun, demi mempertahankan pelanggan, ia memilih tetap menjual dengan harga lama sambil berharap harga bahan bakar dan kebutuhan pokok kembali stabil. (Iar) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.