BANJARMASINPOST.CO.ID - Langkah panjang Ruben Onsu jika mau rebut hak asuh anak dari Sarwendah, praktisi hukum uraikan tahapannya.
Perselisihan presenter Ruben Onsu dan Sarwendah memanas diwarnai aksi saling sindir di media sosial.
Berawal dari protes Ruben tentang waktu bertemu dengan anak, persoalan itu kini semakin meluas.
Ruben nampak gerah dengan lingkungan tempat anak-anaknya bertumbuh kembang.
Ia juga tak ragu menyentil tindakan Sarwendah yang dinilainya terlalu cepat mendekatkan anak-anaknya dengan orang lain. Padahal, mereka masih memiliki ayah kandung.
Di tengah situasi, itu arah tindakan Ruben mulai mengerucut. Ia sudah mengutarakan niat untuk merebut hak asuh anak dari sang mantan istri.
Di sisi lain, praktisi hukum Deolipa Yumara memberi pandangan tentang niatan Ruben.
Ia menilai, hal tersebut memang bisa diupayakan, namun bukan berarti jadi hal yang mudah diwujudkan.
Ada proses panjang yang harus ditempuh Ruben untuk mengubah pemegang hak asuh anak setelah diputuskan dalam sidang cerai.
Berkaca dari kasus-kasus sebelumnya, menurut Deolipa, pihak dari Sarwendah tak mungkin diam dan pastinya mempertahankan hak asuh tersebut.
"Itu bisa digugat lagi tuh permohonan pemindahan hak asuh anak, apakah mudah? Yang kita sudah pengalaman di dunia seperti ini, kita jawabnya sulit."
"Kenapa sulit? Karena tetap seorang wanita atau lawan perkara akan mengadakan perlawanan," ungkap Deolipa Yumara, dikutip dari YouTube Intens Investigasi, Jumat (12/6/2026).
Selain adanya perlawanan dari Sarwendah, Deolipa juga menyebut proses pengalihan hak asuh anak akan memakan waktu lama.
"Kan yang digugat si Sarwendah lagi, berapa lama waktu untuk menggugatnya? Kan bisa sampai 6 bulan 7 bulan secara perdata itu."
"Kalau Sarwendah banding bagaimana? Tambah lagi setahun dia banding lagi dia kasasi lagi tambah lagi setahun lagi," beber Deolipa.
Baca juga: Ramai-ramai Artis Diperiksa Polisi Efek Kasus Hanania Group, Ada Paula Verhoeven sampai Praz Teguh
Tak berhenti di situ, Ruben disebutnya juga harus menyiapkan banyak hal untuk gugatan hak asuh anak.
Psikolog, dokumen, hingga saki-saksi harus dipersiapkan Ruben untuk memperkuat gugatannya terhadap Sarwendah.
"Kalau Ruben Onsu nanti menggugat, Ruben harus menyiapkan psikolog, menyiapkan komnas anak, menyiapkan saksi-saksi, menyiapkan bukti-bukti dokumen itu, dan itu prosesnya 4 tahun," ucap Deolipa.
Tak cuma Deolipa, Pengacara kondang Hotman Paris turut memberikan pandangannya terkait konflik Ruben dan Sarwendah.
Ia secara tersirat mendukung Ruben untuk mengambil tindakan hukum.
Menurut Hotman, apabila memang terdapat pelanggaran terhadap putusan pengadilan yang telah ditetapkan sebelumnya, maka Ruben memiliki hak untuk menempuh jalur hukum dan meminta perubahan terhadap pengaturan hak asuh maupun pola pengasuhan anak.
Hotman menilai, langkah hukum bisa menjadi opsi apabila terdapat bukti yang cukup kuat mengenai dugaan pelanggaran terhadap putusan yang berlaku.
"Kalau putusan pengadilan sebelumnya dilanggar, gugat saja minta diubah," ujar Hotman Paris, dikutip dalam YouTube Cumicumi, Kamis (11/6/2026).
"Gugat minta hak asuh sepenuhnya."
Meski demikian, Hotman menegaskan bahwa langkah tersebut tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan asumsi atau perasaan semata.
Menurutnya, semua tudingan harus dapat dibuktikan secara hukum di hadapan pengadilan.
Ia menjelaskan bahwa Ruben perlu menunjukkan apakah benar kondisi pengasuhan saat ini tidak mampu memberikan kesejahteraan yang optimal bagi anak-anak.
"Makanya dia (Ruben Onsu) harus buktikan bahwa apakah benar ibunya tidak mampu memberikan kesejahteraan sama anaknya."
Selain itu, ia juga menilai penting untuk membuktikan apakah benar terdapat pelanggaran terhadap putusan pengadilan yang mengatur soal pengasuhan anak dan pembagian waktu pertemuan.
"Dan dia harus buktikan apakah melanggar putusan pengadilan tentang pengasuhan, pembagian waktu dan sebagainya."
Bagi Hotman, keberhasilan gugatan tidak ditentukan oleh opini publik, melainkan oleh bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Karena itu, ia menekankan bahwa langkah hukum sebaiknya ditempuh hanya jika pihak yang menggugat memiliki dasar yang kuat.
"Harus gugat kalau punya bukti cukup kuat," pungkasnya.
Ruben Onsu mengungkapkan kegelisahannya terkait kedekatan anaknya dengan Giorgio Antonio, yang kini dikabarkan menjalin hubungan dengan mantan istrinya, Sarwendah.
Melalui unggahan di Instagram-nya @ruben_onsu, Ruben menyoroti sebuah video yang memperlihatkan putrinya memanggil Giorgio dengan sebutan "Papa".
Momen tersebut rupanya membuat presenter tersebut merasa perlu menyampaikan pandangannya secara terbuka.
Ruben mengaku tak mempermasalahkan soal jalinan hubungan Giorgio Antonio dengan Sarwendah.
Namun dalam hal ini Ruben menegaskan dirinya masih memiliki hak sebagai ayah untuk kebaikan anaknya.
"Terlepas dari siapa Anda dan bagaimana masa lalu Anda, itu bukan urusan saya. Namun, saya berhak menentukan lingkungan yang berada di sekitar anak saya demi masa depannya," tulis Ruben dalam keterangan caption unggahannya, dikutip Kamis (11/6/2026).
Ruben juga meminta pria yang dikenal sebagai pengusaha sekaligus konten kreator itu, untuk bisa menjaga sikap di hadapan anak-anaknya.
Dirinya tak ingin anak-anaknya terkena pengaruh buruk akibat melihat orang-orang di sekitarnya.
"Oleh karena itu, mohon menjaga sikap dan ucapan terutama ketika berada di sekitar anak-anak. Perilaku yang ditampilkan secara langsung (live) dapat dengan mudah direkam oleh orang lain dan menjadi jejak digital yang akan melekat pada anak kami di kemudian hari," sambung Ruben.
Presenter kelahiran Jakarta 15 Agustus 1983 ini, juga menyinggung batasan Giorgio dengan anak-anaknya.
Hal ini lantaran Ruben menilai Giorgio dan Sarwendah belum resmi menikah.
Ruben pun tak tak tinggal diam jika ada hal yang berkaitan dengan anak-anaknya.
Di akhir, Ruben tak lupa menyampaikan permintaan maafnya jika ada perkataan yang kurang berkenan dari dirinya.
"Saya harap Anda dapat memahami dan mengetahui batasan-batasan yang berkaitan dengan anak. Saya tidak akan tinggal diam jika menyangkut yg berkaitan dengan anak saya."
"Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan. Terima kasih atas pengertian dan kesediaannya untuk memahami hal ini," tutup Ruben.
Perseteruan Ruben dengan Sarwendah yang kini memanas turut disorot Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak).
Ketua Umum Komnas Anak, Agustinus Sirait, turut menyayangkan adanya perseteruan tersebut hingga melibatkan anak dan menjadi konsumsi publik.
Banyak kasus serupa, Agustinus menyebut para orang tua sering kali tanpa sadar menempatkan anak sebagai korban atas perceraiannya.
"Seringkali orang tua tanpa sadar ya menempatkan anak sebagai korban," ujar Agustinus, dikutip dari YouTube Reyben Entertainment, Kamis (11/6/2026).
Agustinus menilai kini banyak orang tua yang akhirnya menghiraukan dampak perceraiannya terhadap anak.
Padahal seharusnya, lanjut Agustinus, kepentingan anak menjadi fokus utama dari orang tua.
"Jadi seringkali akibat perceraian itu, orang tua merasa bahwa anak ini hanya sampingan aja padahal seharusnya yang paling dipikirkan adalah bagaimana anak-anaknya," tuturnya.
Melihat kasus Ruben dan Sarwendah, Agustinus secara tegas meminta keduanya untuk sama-sama menurunkan ego.
Dirinya ingin keduanya memikirkan kepentingan anak demi masa depan.
"Ego orang tua dikedepankan, ya seharusnya yang dikedepankan adalah kepentingan terbaik untuk anak," ucapnya.
Agustinus juga mengingatkan bahwa orang tua harus menebus kesalahannya atas perceraian, dengan menjadi sosok figur yang baik untuk anak.
"Orang tua kan sudah pernah gagal ya untuk menjadi pasangan suami istri. Seharusnya untuk menebus rasa berdosanya kepada anaknya, dia harus menjadi orang tua yang layak untuk anak."
"Artinya buang semua ego-ego suami istri, mantan suami istri, tapi utamakan kepentingan terbaik anak," ujarnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Tribunnews.com)