TRIBUNJAMBI.COM – Dunia nyaris menyaksikan pecahnya perang terbuka berskala besar di Timur Tengah pada Kamis (11/6/2026) malam waktu setempat.
Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan sudah berada pada tahap operasional paling akhir untuk meluncurkan hujan rudal ke wilayah Iran, sebelum akhirnya dibatalkan secara dramatis di menit-menit terakhir oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Laporan eksklusif dari NBC News mengungkapkan betapa gentingnya situasi di ruang komando Pentagon malam itu.
Pasukan tempur AS telah menerima perintah resmi untuk mengeksekusi serangan.
Unit angkatan laut bahkan sudah melakukan penyesuaian rencana operasi udara serta menyiapkan amunisi siap ledak.
Meskipun militer AS telah menyusun rencana darurat yang menyasar berbagai infrastruktur minyak Iran termasuk Pulau Kharg, pejabat berwenang mengonfirmasi bahwa lokasi tersebut pada akhirnya tidak masuk dalam daftar target yang disetujui untuk dieksekusi.
Aksi militer masif tersebut mendadak lumpuh setelah Trump merilis pengumuman mengejutkan melalui akun media sosialnya pada Jumat (12/6/2026) pukul 00.28 WIB.
Baca juga: Iran Luncurkan Rudal ke Selat Hormuz dan Bantah Klaim Donald Trump
Baca juga: Situasi Terkini Ribuan Mahasiswa Kepung Jakarta Tolak Kenaikan Harga BBM
Trump mengklaim draf perdamaian komprehensif ini mengikat belasan negara kunci di dunia internasional.
Tak lama setelah pengumuman di media sosial, Trump mempertegas klaim kemenangannya saat melakukan telekonferensi politik untuk mendukung kandidat Senat Alabama, Barry Moore.
Namun, klaim sepihak Donald Trump langsung memicu benturan informasi.
Jaringan internal Pentagon menyebut pengumuman media sosial Trump sebenarnya tidak sejalan dengan perencanaan operasional spesifik yang tengah berjalan di lapangan.
Teheran menegaskan bahwa bertentangan dengan klaim Trump, belum ada dokumen draf atau teks nota kesepahaman (MoU) awal yang disetujui oleh pihak Iran.
Berdasarkan bocoran data Axios, negosiasi maraton yang dimediasi oleh Qatar di Teheran pada Rabu lalu sebenarnya memang telah berhasil menjembatani beberapa kesenjangan krusial.
Poin-poin prinsip yang mulai teratasi meliputi mekanisme pelepasan aset Iran yang dibekukan, pengaturan teknis pembukaan kembali Selat Hormuz selama periode gencatan senjata 60 hari, serta draf negosiasi ulang program nuklir Iran.
Peluang Iran untuk menandatangani draf ini dinilai sangat tinggi karena Washington bersedia melunak dan menerima teks proposal yang diajukan oleh Teheran.
Kendati demikian, kesepakatan tersebut belum sepenuhnya sah karena masih harus menunggu keputusan dan persetujuan akhir dari Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Melansir Iran International, Donald Trump yang diwawancarai wartawan di Ruang Oval menyatakan optimisme tinggi bahwa kesepakatan besar ini akan resmi ditandatangani pada akhir pekan ini di benua Eropa, di bawah pengawasan langsung Wakil Presiden JD Vance.
Baca juga: Jadwal Bioskop Jamtos 12 Juni 2026, Ada Zombie Korea Colony
Baca juga: Jenazah Alaka Tiba, Suasana Duka Selimuti Keluarga di Sridadi Batang Hari
Baca juga: Hasil Visum Alaka Tak Ada Tanda Kekerasan, Korban Diduga Tenggelam di Kolam di Batang Hari
Baca juga: Visum Jenazah Alaka Atas Permintaan Keluarga dan Penyidik di Batang Hari Jambi