TRIBUNNEWS.COM - Banyak pria menganggap gangguan ereksi hanya berkaitan dengan masalah seksual.
Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa tubuh sedang mengalami gangguan kesehatan yang lebih besar.
Dokter Spesialis Urologi Eka Hospital MT Haryono dr. Dyandra Parikesit, BMedSc., Sp.U, FICS, mengatakan disfungsi ereksi tidak seharusnya hanya dilihat dari sisi hubungan intim.
Menurutnya, gangguan ereksi dapat menjadi petunjuk awal adanya masalah pada pembuluh darah.
“Disfungsi ereksi itu sebenarnya marker, indikator terhadap sesuatu yang lebih berat,” ujar dr. Dyandra pada media briefing di Jakarta Selatan, Kamis (12/6/2026).
Ia menjelaskan, kemampuan ereksi sangat berkaitan dengan kondisi pembuluh darah. Sebab, proses ereksi membutuhkan aliran darah yang baik menuju penis.
Baca juga: Jill Biden Bongkar Momen Mencekam Debat 2024: Saya Pikir Joe Kena Stroke
“Di tubuh laki-laki, pembuluh darah yang paling kecil, paling kayak serabut itu ada di penis,” katanya.
Karena ukurannya yang kecil, pembuluh darah di penis bisa lebih cepat menunjukkan adanya gangguan.
Lebih lanjut, dr. Dyandra memberikan gambaran sederhana untuk memahami hubungan ereksi dan pembuluh darah.
Menurutnya, gangguan pembuluh darah dapat dianalogikan seperti pipa air.
“Kalau kita punya pipa di rumah, ada pipa yang besar, ada pipa yang kecil. Kalau ada sumbatan, pipa yang kecil dulu yang tersumbat,” jelasnya.
Menurutnya, ukuran sumbatan yang sama bisa memberikan dampak berbeda tergantung ukuran pembuluh.
“Walaupun ukuran sumbatannya sama, tapi pipa yang besar masih bisa lewat. Tapi begitu pipanya kecil, tersumbat,” ujarnya.
Hal tersebut yang membuat gangguan ereksi dapat muncul lebih awal ketika pembuluh darah mulai bermasalah. Salah satu penyebabnya adalah faktor risiko seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan kolesterol.
“Disfungsi ereksi salah satu penyebabnya adalah pembuluh darahnya yang tidak baik,” kata dr. Dyandra.
Menurut dr. Dyandra, pria yang mengalami disfungsi ereksi di usia relatif muda perlu lebih waspada.
Terutama jika kondisi tersebut muncul pada usia 30 hingga 40 tahun.
“Ada penelitian bahwa kalau orang yang punya disfungsi ereksi muda, jadi usia 30-40 tahun, biasanya berkaitan dengan insidensi serangan jantung atau stroke,” ungkapnya.
Hal ini terjadi karena gangguan pembuluh darah kecil dapat menjadi tanda awal bahwa sistem pembuluh darah tubuh tidak optimal.
Karena itu, pria sebaiknya tidak langsung menganggap gangguan ereksi hanya sebagai masalah usia.
“Banyak yang mikir, yaudah lah saya sudah tua, saya sudah nggak pikir soal itu lagi,” katanya.
Padahal, menurutnya, kondisi tersebut perlu dilihat lebih luas.
“Tapi melihatnya itu bukan hanya masalah seksual saja, tapi ini adalah suatu warning bahwa tubuhnya nggak optimal, nggak sehat,” jelas dr. Dyandra.
Memasuki usia 40 tahun, pria mulai masuk kelompok yang perlu memperhatikan risiko penyakit kronis.
dr. Dyandra mengatakan pada usia ini berbagai faktor risiko bisa mulai muncul.
“Usia 40 ini biasanya mereka sudah mulai ada penyakit kronisnya, misalkan diabetes, darah tinggi, kolesterol, dan lain-lain,” ujarnya.
Karena itu, pemeriksaan tidak hanya dilakukan ketika muncul keluhan.
Screening diperlukan untuk mengetahui apakah seseorang memiliki faktor risiko yang dapat dicegah sejak awal.
“Dengan faktor risiko, kalau kita ketahui faktor risiko di umur 40 tahun dibanding di umur 50-60 tahun, itu beda prognosisnya,” kata dr. Dyandra.
Artinya, semakin cepat diketahui, semakin banyak kesempatan untuk melakukan perbaikan.
Menurut dr. Dyandra, kebiasaan screening kesehatan masih belum menjadi budaya bagi banyak masyarakat Indonesia. Padahal, pemeriksaan rutin dapat membantu menemukan masalah sebelum berkembang menjadi penyakit berat.
“Screening itu intinya adalah menjaga diri, preventif. Jangan sampai kita yang sehat saat ini menjadi sakit,” ujarnya.
Ia mengatakan pencegahan bukan hanya dilakukan sebelum seseorang terkena penyakit.
“Preventif itu nggak cuma di awal penyakit, sebelum penyakit. Preventif itu namanya secondary prevention, dimana orang kalau sudah sehat jadi sakit, sudah sembuh jangan sampai sakit lagi,” jelasnya.
Karena itu, pola hidup sehat dan pemeriksaan berkala perlu berjalan bersama.
“Screeningnya tadi bisa disesuaikan dengan gaya hidup dan juga usianya masing-masing,” pungkasnya.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)