TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah lautan massa yang memadati kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Jumat (12/6/2026), terlihat sosok Muarman berdiri dengan membawa tas berisi perlengkapan pertolongan pertama.
Pria yang berasal dari Curug, Tangerang, ini hadir bukan sebagai bagian dari organisasi kemanusiaan ataupun lembaga medis formal.
Ia memilih bergerak secara mandiri sebagai relawan medis yang datang atas inisiatif pribadinya sendiri.
Muarman menuturkan bahwa keputusannya turun ke lokasi aksi didorong oleh rasa kemanusiaan serta kepedulian terhadap kondisi bangsa saat ini.
Menurutnya, demonstrasi merupakan sarana bagi masyarakat untuk menyuarakan keresahan yang sedang mereka rasakan.
Di sisi lain, ia juga memahami bahwa aparat keamanan tetap menjalankan tugas sesuai kewenangan negara.
Baca juga: Ojol dan Artis Kirim Logistik untuk Pendemo Bundaran HI, Zaskia Mecca: Gratis Gak Pakai Uang Pajak
Berangkat dari situ, ia merasa kehadirannya dibutuhkan untuk membantu jika terjadi insiden di lapangan.
Ia bersiap memberikan pertolongan kepada peserta aksi maupun petugas yang mengalami luka saat situasi memanas.
"Adik-adik kita, ya kan, keresahan-keresahan masyarakat hari ini kan memang diwakilin. Sementara juga adik-adik kita yang Brimob juga melaksanakan tugas. Apabila terjadi clash, kan ada korban. Ya mungkin hal yang paling kecil yang bisa saya lakukan, hanya ini," kata Muarman saat ditemui di lokasi aksi.
Muarman datang bersama sejumlah anggota keluarganya. Ia membawa perlengkapan medis sederhana yang dibeli menggunakan uang pribadi.
Di dalam tasnya terdapat obat merah, alkohol medis, perban, plester luka, dan berbagai kebutuhan dasar pertolongan pertama.
"Perlengkapan semuanya ada, dari obat merah, perban, pokoknya untuk P3K. Kalau misalnya ada luka robek, paling tidak bisa mengurangi pendarahan," ujarnya.
Ia menegaskan seluruh perlengkapan tersebut disiapkan secara mandiri tanpa bantuan organisasi atau sponsor.
"Modal sendiri. Tidak ada organisasi, tidak ada. Inisiatif sendiri, kemanusiaan," ucapnya.
Bagi Muarman, menjadi relawan bukan hal baru. Ia mengaku telah terlibat dalam kegiatan kemanusiaan sejak masa Reformasi 1998.
Saat itu, ia bergabung bersama Palang Merah Indonesia (PMI) untuk membantu korban kerusuhan yang terjadi di sejumlah wilayah.
"Saya dari '98 waktu kerusuhan dulu reformasi memang sudah turun. Dulu dari PMI," katanya.
Pengalaman di lapangan membuatnya beberapa kali menangani korban dengan berbagai jenis luka, mulai dari luka akibat benturan hingga terkena peluru karet saat terjadi kericuhan.
Bahkan, pada masa Reformasi 1998, ia mengaku pernah menemukan korban yang terkena peluru tajam.
Baca juga: Demo BEM UI di Bundaran HI 12 Juni, Tuntut Stop MBG & Turunkan BBM, Rute Alternatif Hindari Macet
Meski kini tidak lagi bergabung dengan organisasi tertentu, semangat kemanusiaan itu tetap ia pegang hingga sekarang.
"Untuk bangsa dan negara, yang paling bisa saya lakukan, saya lakukan," tutur Muarman.
Dalam aksi kali ini, Muarman memilih bergerak secara mobile dan menempatkan diri di titik-titik yang dianggap rawan terjadi kericuhan.
Apabila ada korban yang membutuhkan pertolongan, ia akan segera membantu proses evakuasi dan memberikan penanganan awal.
"Kalau misalnya kita biasanya mobile aja. Begitu ada, kita evakuasi sebisa-bisanya," katanya.
Sehari-hari Muarman bekerja sebagai pedagang kelontong di rumahnya di kawasan Curug, Tangerang.
Saat ia turun menjadi relawan, usaha tersebut dijaga oleh putrinya yang masih berstatus mahasiswa.
Menurut Muarman, selama kondisi fisiknya masih memungkinkan, ia akan terus hadir sebagai relawan setiap kali dibutuhkan.
"Setiap ada kegiatan seperti ini memang saya sering turun," ujarnya.
(TribunTrends/TribunJakarta)