TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kenaikan harga Pertamax kembali menjadi perhatian berbagai kalangan, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta sektor kuliner yang dinilai paling rentan terhadap perubahan biaya operasional.
Dampak kenaikan harga bahan bakar non-subsidi tersebut mulai dirasakan oleh para pengusaha di Kota Bandung dan sekitarnya.
Biaya distribusi bahan baku, transportasi, hingga operasional harian usaha mengalami peningkatan yang berpotensi menekan margin keuntungan.
Kondisi ini terjadi di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Sejumlah pelaku usaha mengaku harus berpikir ulang untuk menaikkan harga jual produk karena khawatir pelanggan akan berkurang, sementara biaya produksi terus meningkat.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Bandung, Iwa Gartiwa menilai situasi tersebut menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan usaha, khususnya bagi UMKM yang memiliki keterbatasan modal dan ruang gerak dalam menyesuaikan harga.
Meski demikian, Iwa Gartiwa menegaskan bahwa kenaikan harga Pertamax tidak dapat dilepaskan dari dinamika ekonomi global yang saat ini masih penuh ketidakpastian.
Fluktuasi harga minyak dunia, kondisi geopolitik internasional, serta nilai tukar mata uang menjadi faktor yang ikut memengaruhi kebijakan harga energi di dalam negeri.
Menurut Kadin, pelaku usaha perlu bersiap menghadapi perubahan kondisi pasar dengan meningkatkan efisiensi dan melakukan penyesuaian strategi bisnis agar tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi yang terus berkembang.
Baca juga: Peringatan Keras Walkot Bandung Farhan ke ASN: Bolos Kerja saat Piala Dunia 2026 Akan Disanksi Berat
Kenaikan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 dinilai akan memberi tekanan cukup besar terhadap dunia usaha di Kota Bandung.
Meski dianggap sebagai konsekuensi yang sulit dihindari akibat dinamika ekonomi global, dampaknya diperkirakan akan langsung dirasakan pelaku usaha, terutama sektor yang mengandalkan distribusi berbasis darat.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Bandung, Iwa Gartiwa, mengatakan kenaikan harga BBM nonsubsidi harus dilihat sebagai realitas ekonomi yang tidak bisa dilepaskan dari berbagai faktor eksternal.
Menurutnya, harga minyak dunia, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, hingga kebijakan energi nasional menjadi faktor utama yang memengaruhi penyesuaian harga Pertamax.
“Kenaikan harga Pertamax merupakan realitas ekonomi global yang memang sulit dihindari. BBM nonsubsidi pada dasarnya mengikuti mekanisme pasar, sehingga ketika harga minyak dunia dan kurs mengalami perubahan, maka penyesuaian harga menjadi sesuatu yang tidak terelakkan,” ujar Iwa saat dihubungi, Jumat (12/6/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa Bandung memiliki karakteristik ekonomi yang membuat dampak kenaikan BBM terasa lebih besar dibanding daerah lain.
Bandung dikenal sebagai kota jasa dan kreatif, pusat pertumbuhan UMKM serta kuliner, sekaligus wilayah dengan aktivitas distribusi yang masih sangat bergantung pada transportasi darat.
“Kondisi itu membuat dampaknya cukup signifikan. Struktur biaya usaha akan naik karena distribusi last-mile menjadi lebih mahal. Di sisi lain, margin usaha juga tertekan karena pelaku UMKM tidak mudah menaikkan harga kepada konsumen,” katanya.
Iwa menjelaskan, kenaikan biaya operasional juga berpotensi memperketat arus kas pelaku usaha. Pengeluaran meningkat, sementara penjualan belum tentu mengalami kenaikan.
“Cashflow menjadi semakin ketat, biaya operasional naik, tetapi pendapatan belum tentu bertambah. Belum lagi ada efek psikologis pasar, di mana pelaku usaha menjadi lebih berhati-hati atau memilih wait and see, sementara konsumen juga cenderung menahan belanja,” ujarnya.
Menurut Iwa, sektor logistik dan distribusi menjadi kelompok usaha yang paling cepat merasakan dampak kenaikan Pertamax. Biaya bahan bakar bahkan dapat menyumbang 30 hingga 50 persen dari total operasional.
Selain itu, sektor kuliner dan food and beverage (F&B) juga menghadapi tekanan besar.
“Pelaku usaha kuliner menghadapi kenaikan biaya distribusi bahan baku dan biaya layanan pengantaran. Padahal sektor ini rata-rata memiliki margin yang relatif tipis sehingga paling cepat terdampak,” katanya.
Dampak serupa juga mengintai sektor ritel, baik tradisional maupun modern, karena ongkos pengiriman barang dari luar kota meningkat.
Sektor pariwisata dan transportasi, seperti usaha travel, rental mobil, hingga destinasi wisata di kawasan Lembang dan Ciwidey juga diprediksi terkena imbas karena wisatawan menjadi lebih selektif dalam mengeluarkan uang.
Sementara industri manufaktur ringan seperti konveksi, furnitur, dan makanan olahan harus menghadapi kenaikan biaya logistik yang turut mengerek biaya produksi.
Iwa menilai, dalam jangka pendek pelaku usaha kemungkinan belum akan langsung menaikkan harga jual.
“Hampir pasti akan ada penyesuaian harga, tetapi tidak langsung dan tidak merata. Tahap pertama biasanya pelaku usaha memilih menahan harga dengan mengurangi margin keuntungan serta melakukan efisiensi internal,” tuturnya.
Namun apabila tekanan biaya terus berlangsung, penyesuaian harga sulit dihindari.
“Pada tahap berikutnya akan terjadi kenaikan harga secara bertahap, bisa berkisar antara 3 sampai 10 persen tergantung sektor usahanya,” kata Iwa.
Ia berharap pelaku usaha mampu beradaptasi dengan cepat melalui berbagai langkah efisiensi agar tetap bertahan di tengah situasi yang penuh tantangan.
“Kenaikan Pertamax memang tidak bisa dihindari. Namun dampaknya masih bisa dikelola apabila pelaku usaha melakukan adaptasi cepat, efisiensi yang cerdas, dan reposisi bisnis sesuai kondisi pasar,” ucapnya.
(TribunNewsmaker.com/Eri Ariyanto)(TribunJabar.id)