Disperindag Jabar Fasilitasi Ekspor Kopi ke Mesir, Nilainya Capai Rp 4,6 Miliar
Muhamad Syarif Abdussalam June 12, 2026 08:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat melepas ekspor kopi asal Jawa Barat ke Mesir senilai Rp 4,6 miliar atau sekitar 172.200 dolar AS dalam gelaran West Java International Industry and Trade Expo (WIITEX) bertajuk The Golden Bean of Java: Coffee, Tea and Cacao for the Future di Summarecon Mall Bandung, Jumat (12/6/2026).

Kepala Disperindag Jabar, Nining Yuliastiani mengatakan, ekspor tersebut merupakan hasil pendampingan dan fasilitas yang diberikan pemerintah daerah, kepada pelaku usaha untuk memperluas akses pasar internasional.

Menurutnya, ekspor ke Mesir dilakukan oleh PT Zein Indo Trade, yang sebelumnya telah mengikuti kegiatan pitching dan business matching dengan sejumlah pembeli dari berbagai negara yang difasilitasi Disperindag Jabar.

"Jadi, tadi kita pelepasan ekspor ke Mesir dengan nilai total Rp 4,6 miliar atau hampir 172.200 dolar AS. Ini merupakan ekspor yang dilakukan oleh PT Zein Indo Trade yang sebelumnya kami fasilitasi untuk melakukan pitching dan business matching dengan buyer dari beberapa negara," ujar Nining, Jumat (12/6/2026).

Nining mengatakan, keberhasilan transaksi tersebut menjadi bukti bahwa pendampingan terhadap pelaku usaha, mampu membuka akses pasar dan mendorong realisasi ekspor produk unggulan Jawa Barat.

Nining optimistis WIITEX 2026 akan menghasilkan transaksi baru. Sebab, sebanyak 72 pelaku usaha kopi, teh, dan kakao yang mengikuti kegiatan tersebut telah mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan buyer mancanegara setelah sebelumnya menjalani sesi business matching.

Bahkan, kata dia, sudah ada empat pelaku usaha yang dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman dan kontrak dagang pada 14 Juni 2026 untuk komoditas kopi, teh, dan kakao.

Nining menjelaskan, tema The Golden Bean of Java dipilih karena kopi, teh, dan kakao merupakan komoditas perkebunan unggulan Jawa Barat yang memiliki sejarah panjang dan daya saing tinggi di pasar global.

Sekitar 70 persen luas perkebunan teh nasional, kata dia, berada di Jawa Barat, sementara 80 persen produksi teh Indonesia berasal dari provinsi tersebut.

Selain itu, permintaan pasar global terhadap kopi, teh, dan kakao terus meningkat seiring berkembangnya tren gaya hidup dan konsumsi minuman berbasis komoditas tersebut.

"Nilai ekspor kopi dan kakao terus meningkat. Sementara untuk teh, kami terus mendorong hilirisasi agar tidak hanya dijual dalam bentuk curah, tetapi menjadi produk premium seperti specialty tea, specialty cacao maupun produk wellness tea yang saat ini sedang berkembang di pasar global," katanya.

Nining menilai kondisi geopolitik global dan pelemahan nilai tukar rupiah, justru memberikan keuntungan bagi pelaku usaha berbasis sumber daya lokal.

Sebab, bahan baku, tenaga kerja hingga proses pengolahan komoditas tersebut berasal dari dalam negeri, sehingga biaya produksi tetap menggunakan rupiah, sementara hasil ekspor memperoleh nilai tambah dari penguatan dolar AS.

Dalam kesempatan yang sama, Disperindag Jabar juga meluncurkan penguatan Sistem Resi Gudang (SRG) untuk mendukung petani kopi, teh, dan kakao.

Melalui sistem tersebut, petani dapat menyimpan hasil panen di gudang terakreditasi tanpa harus menjual produknya saat harga rendah. Resi penyimpanan itu juga dapat digunakan sebagai agunan untuk memperoleh pembiayaan dari perbankan.

"Ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat rantai pasok karena komoditas dapat terkumpul dalam jumlah besar dan memiliki kualitas yang lebih terjaga," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Tirta Karma Senjaya, menilai WIITEX menjadi momentum penting untuk memperkuat ekspor Jawa Barat, di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Menurutnya, Jawa Barat memiliki kontribusi besar terhadap kinerja ekspor nasional yang hingga saat ini masih mencatat surplus perdagangan selama 68 bulan berturut-turut.

"Di tengah tantangan geopolitik global, justru ini momentum yang bagus. Jawa Barat memberikan kontribusi besar terhadap ekspor nasional dan kita harus optimistis melihat peluang perdagangan internasional ke depan," ujar Tirta Karma.

Tirta Karma menambahkan, pasar ekspor potensial bagi produk unggulan Jawa Barat tidak hanya Mesir, tetapi juga Pakistan, India, China hingga sejumlah negara di kawasan Afrika yang akan terus dibidik pemerintah.

Tirta mendorong peningkatan kualitas produk, penguatan sumber daya manusia ekspor, serta perluasan business matching agar semakin banyak pelaku usaha daerah yang mampu menembus pasar internasional.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.