Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur (Pemkot Jaktim) terus memperkuat berbagai langkah pencegahan tawuran melalui pendekatan rekonsiliasi dan peningkatan literasi digital di tengah masyarakat.

"Pendekatan rekonsiliasi, literasi, dan dialog antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat untuk memperkuat sinergi dalam menjaga keamanan lingkungan serta mencegah terjadinya tawuran," kata Sekretaris Kota (Sekko) Administrasi Jakarta Timur Eka Darmawan di Jakarta, Jumat.

Upaya tersebut dinilai penting mengingat perkembangan teknologi dan media sosial saat ini kerap menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya konflik antarkelompok, khususnya di kalangan remaja.

Menurut Eka, pencegahan tawuran memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Lalu, persoalan tawuran tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat keamanan, tetapi juga membutuhkan peran aktif keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, dan warga dalam melakukan pembinaan terhadap generasi muda.

Dia mengatakan, tawuran merupakan persoalan sosial yang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari korban jiwa, kerugian materiil, hingga terganggunya ketertiban dan kenyamanan warga.

Oleh karena itu, langkah pencegahan harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pendekatan yang lebih komprehensif dan menyentuh akar persoalan.

"Pencegahan tawuran harus menjadi tanggung jawab bersama. Kolaborasi seluruh unsur masyarakat sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif bagi tumbuh kembang generasi muda," ujar Eka.

Selain memperkuat pengawasan sosial di lingkungan, Pemerintah Kota Jakarta Timur juga menaruh perhatian terhadap penggunaan media sosial yang semakin masif di kalangan masyarakat.

Perkembangan teknologi informasi membawa banyak manfaat, namun di sisi lain juga berpotensi menjadi sarana penyebaran provokasi, ujaran kebencian, hingga ajakan yang dapat memicu konflik.

"Masyarakat, khususnya generasi muda, didorong untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, mampu memilah informasi yang benar, serta tidak mudah terpengaruh oleh konten yang bersifat provokatif," ucap Eka.

Eka juga menyoroti keterlibatan masyarakat yang menjadi faktor penting dalam mendukung upaya pencegahan yang dilakukan aparat keamanan.

Deteksi dini terhadap potensi konflik di lingkungan menjadi langkah strategis untuk mencegah terjadinya bentrokan yang lebih besar.

Masyarakat dapat berperan melalui pengawasan terhadap aktivitas remaja, membangun komunikasi yang baik antarwarga, serta segera melaporkan apabila terdapat indikasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.