TRIBUN-MEDAN.COM - Kericuhan sempat kembali terjadi dalam aksi massa di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026) malam.
Insiden ini berlangsung tepat sebelum massa aksi membubarkan diri, sekitar pukul 20.00 WIB, dan sempat membuat suasana memanas di pusat ibu kota.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold Hutagalung maju ke depan barikade untuk berbicara langsung dengan massa.
Reynold menyampaikan apresiasi atas keteguhan massa menyuarakan aspirasi hingga malam hari, sekaligus meminta mereka membubarkan diri agar jalur umum kembali bisa digunakan.
Ia menyinggung agenda Jakarta International Marathon (Jakim) yang akan digelar di Bundaran HI esok pagi, sehingga jalur Sudirman–Thamrin perlu dibuka.
"Tentu dalam hal ini, silakan memberikan aspirasi yang terbaik. Sampaikan perjuangan aspirasi dengan tidak mencederai atas perbuatan-perbuatan yang akhirnya berdampak merugikan kita semua," ujar Reynold.
Massa aksi menolak permintaan polisi, mempertanyakan alasan blokade jalan.
Sorakan keras terdengar: "Buka, buka, buka jalannya sekarang juga!"
Ketegangan meningkat ketika sejumlah botol air dilempar dari arah belakang massa ke barisan polisi.
Terjadi aksi saling dorong, namun polisi segera mundur ke belakang barikade.
"Bapak sebagai representatif untuk membantu kita menyampaikan aspirasi rakyat terhadap pemerintah, tapi memang bapak tahu apa saja tuntutan kami?" tanya salah satu massa aksi, disambut riuh sorakan.
Massa di barisan depan mencoba menenangkan agar tidak ada pelemparan.
Untuk meredakan provokasi, massa menyanyikan lagu bersama: "Hati-hati, hati-hati, hati-hati provokasi."
Setelah situasi mereda, dialog kembali dilakukan dengan Kapolres Reynold.
Tak lama kemudian, barikade besi diturunkan. Polisi mendorong massa mundur perlahan hingga akhirnya aksi mulai bubar.
Hingga pukul 21.40 WIB, masih ada sebagian massa bertahan di sekitar Jalan Jenderal Sudirman.
Arus lalu lintas berangsur normal, polisi mengarahkan kendaraan dari arah Semanggi menuju Bundaran HI.
Kericuhan ini menegaskan tantangan aparat dalam menjaga keseimbangan antara kebebasan berpendapat dan ketertiban umum di ruang publik ibu kota.
(*/Tribun-medan.com)
Baca juga: SUASANA Terkini Aksi Demo di Jakarta Malam Hari, Mahasiswa Bertahan Tunggu Prabowo Akui Kesalahan
Baca juga: DEMONSTRASI Ribuan Mahasiswa Makin Memanas Menjelang Malam Hari di Jakarta, Ancam Reformasi Jilid II