Setidaknya 58 orang utan Tapanuli endemik yang tinggal di sekitar Hutan Batang Toru, Sumatra Utara, tewas dalam banjir dan longsor tahun lalu, menurut laporan studi Borneo Futures yang berbasis di Brunei bersama Word Weather Attribution, dan John Moores University Liverpool.
Para peneliti menemukan bahwa 11?ri sekitar 8.300 hektar hutan, terdampak banjir dan longsor. Luas hutan yang terdampak dipadukan dengan peta kepadatan orang utan untuk menghasilkan perkiraan kehilangan populasi.
Bagian barat hutan tersebut telah menjadi rumah bagi 800 primata. Survei di bagian lain dari hutan tersebut tidak diberlakukan mengingat jumlah primata yang tewas bisa lebih tinggi.
Meningkatnya intensitas dan frekuensi curah hujan ekstrem di sekitar Selat Malaka tidak hanya dipicu oleh siklon Senyar tapi juga tindakan manusia. Hal ini kian mengancam habitat orangutan Tapanuli, jelas studi tersebut.
Erik Meijaard dari Borneo Futures, penulis utama studi tersebut, mengatakan hujan lebat meresap ke tanah. Hal ini menyebabkan sebagian besar bukit di hutan primer longsor dan longsoran tersebut bergerak dengan cepat. "Jika Anda terjebak sebagai seekor orang utan... jika ada sesuatu runtuh dengan kecepatan tinggi, peluang bertahan hidup akan sangat minim, hal ini sungguh mengkhawatirkan,” jelas peneliti tersebut.
Orang utan Tapanuli secara ilmiah diklasifikasikan pada tahun 2017 sebagai spesies sangat langka dan hanya ditemukan di sebagian wilayah kecil di Sumatra.
"Kehilangan ini sangatlah signifikan bagi spesies dengan total populasi yang begitu kecil. Jika digabungkan dengan tekanan yang terus berlangsung seperti degradasi habitat dan konflik antara manusia dan satwa liar, kondisi ini semakin mendesak penerapan aksi konservesi spesies yang terkoordinasi dan penyediaan sumber daya yang memadai untuk menjalankannya,” tambah Meijaard.
Peneliti lainnya, Panut Hadisiswoyo, mendesak pemerintah Indonesia untuk bekerja sama dengan LSM dan peneliti guna mencegah penurunan populasi orangutan lebih lanjut.
"Kita dapat meminimalkan perburuan liar, dan dengan demikian jumlah orang utan mungkin dapat stabil,” katanya, sambil menambahkan bahwa semua pihak harus mengantisipasi pemanfaatan lahan yang buruk yang juga berkontribusi terhadap penurunan populasi,” tegas oeneliti tersebut.
"Hilangnya sekitar 58 orangutan Tapanuli akibat satu peristiwa longsor yang dipicu perubahan iklim merupakan pukulan demografis yang menghancurkan bagi kera besar paling langka di dunia,” kata peneliti Jatna Supriatna dari Universitas Indonesia.
Para aktivis lingkungan telah lama menentang aktivitas industri di Batang Toru, terutama pembangunan bendungan hidroelektrik dan tambang emas.
Daerah dataran tinggi yang dihuni oleh orangutan Tapanuli bukanlah habitat pilihan mereka, tetapi terdesak oleh pembangunan manusia di tempat lain.
"Untuk mencegah kepunahan modern pertama spesies kera besar, Indonesia harus melindungi ekosistem Batang Toru secara permanen,” kata Jatna.
Editor: Rizki Nugraha