TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Euforia Piala Dunia 2026 tak hanya terasa di lapangan hijau maupun layar televisi.
Demam sepak bola juga merambah dunia game digital yang digemari kalangan remaja.
Hal itu diungkapkan oleh Racshele Iva Renata (18), remaja asal Balikpapan yang mengaku banyak teman-temannya semakin sering bermain game sepak bola seperti FIFA saat gelaran Piala Dunia 2026.
"Teman-temanku banyak yang main PS, Nintendo, dan gim sepak bola seperti FIFA. Apalagi sekarang lagi Piala Dunia 2026, jadi makin sering main," ujarnya kepada TribunKaltim.co.
Baca juga: Jadwal Portugal di Piala Dunia 2026, Fans MU di Balikpapan Yakin Bruno Fernandes dkk Tembus 3 Besar
Meski tidak terlalu memahami cara bermain game sepak bola, Racshele kerap ikut meramaikan suasana saat teman-temannya bermain bersama.
"Kalau diajak main aku mau saja, tapi sebenarnya nggak terlalu ngerti cara mainnya. Jadi lebih ikut meramaikan saja," katanya sambil tertawa.
Menurutnya, permainan sepak bola virtual menjadi salah satu hiburan favorit di kalangan teman-temannya.
Bahkan di luar momen Piala Dunia 2026 sekalipun, game sepak bola tersebut sudah cukup populer.
Baca juga: Jadwal Piala Dunia 2026 Sabtu 13 Juni dan Lokasi Nobar di Balikpapan
"Walaupun nggak ada Piala Dunia, mereka memang sering main. Tapi sekarang jadi lebih sering lagi," ungkapnya.
Biasanya, aktivitas bermain dilakukan di rumah teman maupun tempat penyewaan konsol permainan yang ada di kawasan Grand City Balikpapan.
Dalam satu kesempatan, jumlah pemain dan teman yang berkumpul bisa mencapai enam hingga tujuh orang.
"Nggak tentu tempatnya. Kadang di rumah teman, kadang di rental PS. Kalau kumpul biasanya sekitar enam sampai tujuh orang," jelasnya.
Baca juga: Prediksi Brasil vs Maroko di Grup C Piala Dunia 2026, Tim Samba Negara Favorit Ketua DPRD Samarinda
Racshele mengaku sesekali merasa diabaikan ketika teman-temannya terlalu fokus bermain.
Namun, ia memahami kondisi tersebut karena dirinya juga merupakan pemain Mobile Legends.
"Kalau kesel pasti ada, tapi aku juga main Mobile Legends. Jadi tahu rasanya kalau lagi main terus diganggu," katanya.
Dibandingkan game sepak bola, Racshele mengaku lebih nyaman bermain game di telepon genggam.
Baca juga: Cerita Danlanal Balikpapan Dukung Timnas Belanda pada Piala Dunia 2026
Menurutnya, mengendalikan permainan sepak bola di konsol jauh lebih sulit.
"Kalau Mobile Legends aku sudah ngerti. Kalau game sepak bola aku nggak ngerti dan susah kontrolnya," ujarnya.
Meski demikian, ia melihat permainan sepak bola tetap menjadi sarana berkumpul yang menyenangkan bagi para remaja.
Setelah berbagai kegiatan bersama, teman-temannya kerap mengajak bermain untuk menghabiskan waktu.
Baca juga: Nonton Piala Dunia 2026 Bareng Polisi, Polda Kaltim Siapkan Nobar hingga Tingkat Polsek
Selain itu, di lingkungan pergaulannya, termasuk komunitas Duta Wisata yang diikuti sejumlah temannya, sesekali juga digelar turnamen atau pertandingan persahabatan yang berlangsung meriah.
"Banyak teman yang senang ikut kegiatan seperti itu. Kalau habis kegiatan biasanya lanjut kumpul atau main bareng," katanya.
Bagi Racshele, momen Piala Dunia 2026 bukan hanya soal pertandingan tim nasional di lapangan, tetapi juga menjadi alasan bagi banyak anak muda untuk berkumpul, bersosialisasi, dan menikmati kebersamaan melalui berbagai aktivitas, termasuk bermain game sepak bola.
Baca juga: Demam Piala Dunia 2026 di Samarinda: Toko Jersey Diserbu, Ini Beda Grade Ori dan Player Issue
BIOFILE:
(*)