TRIBUNJATIM.COM - Selama belasan tahun, sebuah keluarga di Kabupaten Cirebon menjalani kehidupan di rumah sederhana dengan kondisi yang jauh dari standar hunian layak.
Meski telah beberapa kali mengikuti proses pendataan bantuan perbaikan rumah, harapan untuk memperoleh bantuan belum juga terwujud.
Di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi bangunan yang semakin rapuh, keluarga tersebut tetap bertahan dengan mengandalkan pekerjaan serabutan.
Mereka kini hanya berharap ada perhatian agar tempat tinggal yang dihuni dapat diperbaiki dan memberikan rasa aman bagi seluruh anggota keluarga.
Baca juga: Skema Baru Bansos Rp5,4 Juta per Orang, Luhut Ungkap Seluruh Bantuan Digabung Jadi Uang Tunai
15 tahun terakhir, Kasiyati (36) bersama suami dan anaknya bertahan hidup di sebuah rumah sederhana yang lebih mirip gubuk daripada hunian layak.
Berdinding anyaman bambu dan berlantaikan tanah, rumah yang berdiri di Blok Karanganyar Wetan, Kelurahan Kemantren, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon itu menjadi saksi perjuangan keluarga kecil tersebut menjalani hari demi hari di tengah keterbatasan.
Ironisnya, meski berkali-kali mengajukan bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), harapan untuk memiliki tempat tinggal yang lebih layak tak kunjung terwujud.
Dari luar, bangunan itu tampak rapuh.
Dinding geribik bambu yang mulai lapuk membungkus seluruh bagian rumah.
Beberapa sisi bangunan terlihat miring dan hanya ditopang batang bambu seadanya.
Atap yang menggunakan kombinasi genteng, seng, dan asbes pun tampak sudah menua.
Saat memasuki bagian dalam rumah, pemandangan yang terlihat tak kalah memprihatinkan.
Lantai tanah yang tidak rata mendominasi ruangan.
Sekat-sekat bambu menjadi pembatas antarruang, sementara sejumlah perabot sederhana tersusun apa adanya.
Kondisi tersebut semakin menyulitkan saat musim hujan tiba.
Air hujan kerap masuk dari berbagai celah dan membuat lantai rumah berubah menjadi becek.
"Kalau hujan, air masuk dari berbagai sisi. Lantainya jadi becek karena masih tanah," ujar Kasiyati saat ditemui di kediamannya didampingi mertuanya, Talmi, Rabu (10/6/2026).
Meski hidup dalam kondisi serba terbatas, Kasiyati tetap berusaha menjalani keseharian bersama suaminya, Suhadi (40), dan putra sulung mereka yang kini duduk di bangku kelas VII SMP Negeri 3 Sumber.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mereka hanya mengandalkan penghasilan Suhadi yang bekerja serabutan sebagai kuli bangunan maupun pekerjaan apa saja yang tersedia.
Kasiyati mengaku, selama ini selalu berusaha mengikuti setiap pendataan bantuan yang dilakukan pemerintah maupun pihak terkait.
Namun, hingga kini, tidak satu pun bantuan perbaikan rumah yang berhasil ia terima.
"Setiap kali ada informasi pendataan bantuan, saya selalu berusaha mengikuti prosedur yang diminta. Namun hasilnya tetap sama. Tidak pernah realisasi. Nol," ucapnya.
Ia juga mengaku belum pernah mendapatkan bantuan sosial lainnya.
Bahkan untuk jaminan kesehatan, hanya dirinya dan sang anak yang terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan.
Sementara sang suami belum memperoleh fasilitas serupa.
"Jangankan bantuan rumah, bantuan lainnya juga tidak pernah saya dapatkan," jelas dia.
Di tengah kondisi tersebut, Kasiyati hanya bisa berharap suatu saat rumah yang ditempatinya dapat diperbaiki sehingga keluarganya bisa hidup lebih nyaman dan aman.
Harapan itu juga disuarakan tokoh masyarakat setempat, Karsiwan (58).
Menurutnya, rumah yang ditempati Kasiyati sudah sangat layak masuk prioritas program Rutilahu.
Ia menegaskan, tidak ada persoalan terkait status kepemilikan lahan karena rumah tersebut berdiri di atas tanah milik keluarga sendiri.
"Rumahnya memang sudah lama kondisinya seperti itu. Kami sudah beberapa kali menyampaikan, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut," kata Karsiwan.
Menurutnya, kondisi bangunan yang semakin rapuh membuat keluarga Kasiyati membutuhkan perhatian serius.
Terlebih, rumah tersebut dihuni oleh pasangan suami istri dan seorang anak yang masih bersekolah.
Di tengah berbagai program bantuan yang terus digulirkan pemerintah, keluarga Kasiyati masih menunggu harapan yang belum juga datang.
Selama 15 tahun, mereka bertahan di rumah bambu yang nyaris roboh, sembari berharap suatu hari ada bantuan yang benar-benar sampai ke pintu rumah mereka. (*)
Dilansir dari Kemenkeu, bantuan sosial adalah semua pengeluaran negara dalam bentuk transfer uang/barang yang diberikan kepada masyarakat melalui kementerian/lembaga, guna melindungi dari terjadinya berbagai risiko sosial.
Bansos (Bantuan Sosial) bentuk dukungan dari pemerintah atau lembaga berupa transfer uang, barang, atau jasa yang diberikan kepada masyarakat rentan, miskin, atau kurang mampu.
Tujuan utamanya adalah untuk melindungi masyarakat dari risiko sosial, membantu memenuhi kebutuhan dasar, serta meningkatkan kesejahteraan.