3 BERITA POPULER PADANG: Kebakaran Dekat Pasar Raya, Antre Lama BBM dan Untung Dagang Menipis
Rahmadi June 13, 2026 09:27 AM

Pertama, musibah kebakaran melanda kawasan padat penduduk di Kota Padang, Sumatra Barat, pada Jum'at (12/6/2026) sore. 

Api dengan cepat melumat puluhan bangunan yang berada di dalam area Pasar Raya Padang.

Kedua, kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax yang melonjak tajam memicu gelombang migrasi konsumen di Kota Padang, Sumatera Barat.

Masyarakat kini berbondong-bondong beralih ke BBM bersubsidi jenis Pertalite demi menghemat pengeluaran harian.

Ketiga, kenaikan harga sejumlah bahan pokok turut dirasakan para pedagang makanan di Kota Padang, Sumatera Barat. 

Kondisi tersebut membuat keuntungan pedagang semakin menipis meski harga jual makanan masih dipertahankan.

Baca selengkapnya berikut ini:

1. Kebakaran di Kawasan Pasar Raya Padang Hanguskan 34 Bangunan, 38 Warga Mengungsi

Musibah kebakaran melanda kawasan padat penduduk di Kota Padang, Sumatra Barat, pada Jum'at (12/6/2026) sore. 

Api dengan cepat melumat puluhan bangunan yang berada di dalam area Pasar Raya Padang.

Kepala Bidang Operasional dan Sarana Prasarana Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang, Rinaldi menuturkan peristiwa mencekam ini tepatnya terjadi di kawasan Kampung Jao Dalam, RT 002 / RW 005, Kelurahan Kampung Jao Dalam, Kecamatan Padang Barat. 

Lokasi yang berada di pusat perbelanjaan membuat kepulan asap hitam langsung memicu kepanikan warga dan pedagang sekitar.

Lanjut Rinaldi berdasarkan data yang dihimpun, kobaran api dilaporkan pertama kali muncul sekitar pukul 16.32 WIB. Menyadari adanya bahaya besar, warga setempat langsung bergerak cepat menghubungi pihak pemadam kebakaran demi meminimalisir dampak yang lebih luas.

KEBAKARAN PADANG - Kebakaran di Kawasan Pasar Raya, Kelurahan Kampung Jao, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang mendadak mencekam pada Jumat (12/6/2026) sekitar pukul 17.15 WIB. Api dengan cepat melumat puluhan bangunan yang berada di dalam area Pasar Raya Padang.
KEBAKARAN PADANG - Kebakaran di Kawasan Pasar Raya, Kelurahan Kampung Jao, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang mendadak mencekam pada Jumat (12/6/2026) sekitar pukul 17.15 WIB. Api dengan cepat melumat puluhan bangunan yang berada di dalam area Pasar Raya Padang. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Baca juga: Syarat Daftar Sekolah, Warga Urus Dokumen Kependudukan di Padang Melonjak 700 Orang per Hari

Petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang bergerak responsif dengan langsung memberangkatkan armada satu menit setelah menerima laporan, yakni pukul 16.33 WIB.

Mengingat jarak yang cukup dekat dari Pos 6 Pasar Raya, petugas tiba di lokasi kejadian pada pukul 16.40 WIB.

Objek yang menjadi amukan si jago merah kali ini terbilang cukup luas dan padat. Diketahui, api membakar bangunan rumah tinggal, deretan rumah petak, hingga sebuah bangunan yang berfungsi sebagai gudang penyimpanan suku cadang kendaraan roda dua.

Proses pemadaman di lapangan dihadapkan pada situasi yang cukup pelik dan menantang bagi para petugas. 

Pasalnya, akses jalan menuju titik api tergolong sempit, ditambah lagi dengan kondisi lokasi yang sangat ramai dipadati oleh masyarakat yang berkerumun melihat kejadian.

Baca juga: Kebakaran Kampung Jao Padang, Anik Pasrah Kontrakan Hangus, Ternyata Selamat dari Api

Guna menjinakkan amukan api yang terus membesar, Dinas Damkar Kota Padang tidak main-main dalam menerjunkan kekuatannya. 

“Sebanyak 10 unit armada mobil pemadam kebakaran dikerahkan secara bertahap ke lokasi kejadian guna menyuplai air secara nonstop,”terangnya secara tertulis.

Tidak hanya armada, kekuatan personel pun dikerahkan secara maksimal. Tercatat ada sekitar 100 orang petugas pemadam kebakaran yang bahu-membahu di lapangan guna memblokade pergerakan api agar tidak merembet ke bangunan lain di sekitarnya.

Upaya keras para petugas yang diselimuti asap tebal akhirnya membuahkan hasil setelah berjuang lebih dari satu jam. Proses penanganan kebakaran di Kampung Jao Dalam tersebut dinyatakan selesai secara total pada pukul 17.49 WIB.

Akibat insiden mengerikan ini, sebanyak 2 unit rumah warga dan 32 pintu rumah petak (kontrakan) dilaporkan mengalami kerusakan yang sangat berat. 

Baca juga: Kebakaran Kampung Jao Padang, Rizko Dengar Ledakan dari Kos Putri, Hanya Baju yang Tersisa

Bangunan-bangunan tersebut nyaris rata dengan tanah setelah dilalap api yang berkobar hebat.

Selain bangunan tempat tinggal, dampak kerusakan juga menyasar pada infrastruktur usaha warga. 

Satu unit gudang tempat penyimpanan sparepart motor di kawasan tersebut dilaporkan turut mengalami kerusakan, meskipun dalam kategori rusak ringan.

Berdasarkan keterangan saksi mata di lokasi, Agha Bernarco (36), ia melihat kobaran api sudah dalam kondisi membesar dari salah satu arah rumah petak. 

Sentra api yang membesar dengan cepat itu langsung memicu kepanikan sebelum akhirnya dilaporkan ke pihak berwajib.

Baca juga: PLN UP3 Solok Percepat Pasang Listrik RSIA Permata Bunda 555 kVA Demi Dukung Layanan Kesehatan

Hingga saat ini, penyebab pasti dari munculnya titik api di rumah petak tersebut masih belum bisa dipastikan. 

Pihak kepolisian bersama instansi terkait masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengetahui pemicu utama kebakaran.

Meski menghanguskan puluhan tempat tinggal, pihak Damkar memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini. Namun, sebanyak 38 jiwa terpaksa harus mengungsi karena kehilangan tempat tinggal mereka dalam sekejap.

Kerugian materil akibat kebakaran besar di kawasan Pasar Raya ini ditaksir mencapai Rp 1,2 Milyar. 

Kendati demikian, kesigapan petugas di lapangan berhasil menyelamatkan aset dan bangunan di sekitar lokasi dengan nilai estimasi mencapai Rp 2,5 Milyar.

Dalam melakukan evakuasi dan pemadaman, Damkar Padang tidak bekerja sendiri. Proses pengamanan di lokasi turut dibantu secara sinergis oleh personel POLRI, SATGAS, petugas PLN untuk memutus aliran listrik, relawan PMI, serta dibantu oleh warga sekitar.

Baca juga: PLN dan Pemkab Dharmasraya Inventarisasi Data PJU untuk Tingkatkan Akurasi Layanan

Anik Pasrah Kontrakan Hangus

Suasana sore di Kawasan Pasar Raya, Kelurahan Kampung Jao, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang mendadak mencekam pada Jumat (12/6/2026) sekitar pukul 17.15 WIB.

Pantauan dilokasi terlihat kobaran api yang disertai kepulan asap hitam pekat mengejutkan warga setempat dan para pedagang yang sedang beraktivitas.

Amukan si jago merah dilaporkan melahap beberapa bangunan, termasuk sejumlah rumah kos dan kontrakan yang berada di area padat penduduk tersebut.

Petugas pemadam kebakaran yang menerima laporan langsung bergerak cepat menuju lokasi untuk menjinakkan api.

Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang mengerahkan sedikitnya enam unit mobil pemadam ke lokasi kejadian.

KEBAKARAN DI PADANG - Kebarkan di Kawasan Pasar Raya, Kelurahan Kampung Jao, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang mendadak mencekam pada Jumat (12/6/2026) sekitar pukul 17.15 WIB. Anik, salah seorang penghuni kontrakan yang posisinya berada tepat di samping bangunan utama yang menjadi pusat kebakaran.
KEBAKARAN DI PADANG - Kebarkan di Kawasan Pasar Raya, Kelurahan Kampung Jao, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang mendadak mencekam pada Jumat (12/6/2026) sekitar pukul 17.15 WIB. Anik, salah seorang penghuni kontrakan yang posisinya berada tepat di samping bangunan utama yang menjadi pusat kebakaran. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Baca juga: PLN UP3 Solok Gandeng PT KSI, Buka Peluang Tambah Beban Listrik 304,6 kVA di Solok Selatan

Namun, petugas di lapangan sempat menghadapi kendala lantaran akses jalan yang sempit. 

Akibatnya, hanya ada satu mobil damkar yang berhasil masuk ke dalam gang untuk mendekati titik api secara langsung.

Anik, salah seorang penghuni kontrakan yang posisinya berada tepat di samping bangunan utama yang menjadi pusat kebakaran.

Sore itu, Anik sedang sibuk melayani pembeli di kedai miliknya yang berjarak tidak terlalu jauh dari lokasi kejadian.

Fokusnya mendadak pecah ketika mendengar suara jeritan histeris dari warga yang berada di sebelah kontrakannya.

"Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari sebelah, pas saya lihat keluar, ternyata ada api sudah membesar," kata Anik mengisahkan kepanikannya.

Baca juga: PLN UP3 Solok Percepat Pasang Listrik RSIA Permata Bunda 555 kVA Demi Dukung Layanan Kesehatan

Melihat kobaran api yang sudah membubung tinggi, Anik langsung mengambil langkah seribu untuk menyelamatkan diri tanpa memikirkan hal lain.

Saat itu, ia sudah sangat yakin bahwa rumah kontrakan yang dihuninya juga akan ikut hangus terbakar melihat posisi api yang begitu dekat.

Namun, keajaiban justru menghampiri Anik setelah petugas damkar berhasil mengendalikan situasi di lapangan.

Begitu api berhasil dipadamkan sepenuhnya, ia terkejut sekaligus bersyukur mendapati bangunan kontrakannya ternyata luput dari jilatan api.

Meskipun hawa panas sempat mengepung area tersebut, bangunan kontrakan Anik tetap berdiri utuh.

Seluruh barang-barang berharga yang berada di dalam rumahnya pun dipastikan aman dan tidak mengalami kerusakan sedikit pun.

Baca juga: PLN dan Pemkab Dharmasraya Inventarisasi Data PJU untuk Tingkatkan Akurasi Layanan

Sementara itu penghuni bangunan lain yang terdampak, bernama Rizko.

Pria yang sehari-hari bekerja di pasar ini hanya bisa tertunduk lesu meratapi tempat tinggalnya yang kini sudah rata dengan tanah.

Saat api mulai berkobar hebat, Rizko mengaku sedang berada di tempat kerjanya di kawasan pasar.

Ia langsung bergegas kembali setelah mendapat kabar bahwa area tempat kosnya ikut dilanda kebakaran besar.
Menurut kesaksian Rizko, sebelum api membesar, beberapa warga sempat mendengar suara ledakan yang cukup keras.

Suara ledakan tersebut disinyalir berasal dari arah kos putri yang posisinya tepat berada di samping bangunan kos yang dihuninya.

"Terdengar ledakan dari arah kos putri di sebelah," ungkap Rizko dengan nada lirih saat ditemui di lokasi kejadian, Jumat sore.

Baca juga: Kebakaran di Kampung Jao Padang, 6 Mobil Damkar Dikerahkan, Cuma Satu Armada Bisa Masuk Lewat Gang

KEBAKARAN DI PADANG - Salah seorang saksi mata sekaligus korban yang melihat langsung detik-detik mencekam tersebut adalah Rizko, salah satu penghuni kos-kosan di lokasi kejadian, Jumat (12/6/2026).Rizko menceritakan, kepulan asap hitam pekat dan kobaran api yang membubung tinggi langsung melalap bangunan tempat tinggalnya dalam waktu singkat.
KEBAKARAN DI PADANG - Salah seorang saksi mata sekaligus korban yang melihat langsung detik-detik mencekam tersebut adalah Rizko, salah satu penghuni kos-kosan di lokasi kejadian, Jumat (12/6/2026).Rizko menceritakan, kepulan asap hitam pekat dan kobaran api yang membubung tinggi langsung melalap bangunan tempat tinggalnya dalam waktu singkat. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Saking cepatnya api menjalar, Rizko mengaku sama sekali tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga miliknya.

Ketika ia tiba di lokasi, seluruh bangunan tempat tinggalnya sudah dikepung oleh kobaran api yang sangat besar.

Praktis, tidak ada harta benda yang bisa diselamatkan dari dalam kamarnya selain pakaian yang saat itu sedang melekat di tubuhnya.

Seluruh fasilitas dan barang pribadi miliknya habis dilalap api tanpa sisa dalam waktu singkat.

"Semua habis terbakar, ada handphone juga di dalam, dan banyak baju-baju yang tidak bisa dibawa keluar," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Baca juga: Cegah Penimbunan BBM Subsidi, Satreskrim Polres Solok Turun Langsung ke SPBU Koto Baru

Saat melihat keganasan api yang meruntuhkan tempat tinggalnya, Rizko mengaku hanya bisa pasrah dan linglung.

Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi melihat kenyataan bahwa seluruh ruang kehidupannya telah hangus menjadi abu.

Berdasarkan pantauan Rizko di sekitar lokasi, dampak kebakaran ini memang tergolong cukup parah.

Setidaknya ada tiga bangunan kos lain di sekitar tempat tinggalnya yang nasibnya sama, yakni ikut terbakar habis dilumat api.

Terkait penyebab pasti dari peristiwa kebakaran hebat ini, pihak berwenang mengaku belum bisa memberikan keterangan karena masih dalam penyelidikan.

Baca juga: PLN UP3 Solok dan Pemkab Dharmasraya Perkuat Sinergi Melalui Inventarisasi Ulang Data PJU

6 Mobil Dikerahkan

Kebakaran melanda kawasan Pasar Raya Padang, tepatnya di Kelurahan Kampung Jao, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat pada Jumat (12/6/2026) sore.

Peristiwa yang mengejutkan warga dan pedagang setempat tersebut terjadi di tengah kepadatan aktivitas menjelang akhir pekan. 

Berdasarkan pantauan reporter TribunPadang.com, Arif Ramanda di lokasi kejadian pada pukul 17.15 WIB, kobaran api terlihat membubung tinggi dan melahap beberapa bangunan di kawasan padat penduduk tersebut.

Asap hitam pekat berukuran besar tampak menggumpal ke udara, bahkan dapat terlihat dari jarak beberapa kilometer. 

Kondisi ini sempat memicu kepanikan luar biasa bagi warga sekitar dan para pedagang yang berada di area Pasar Raya.

Baca juga: Harga Bahan Pokok Naik, Pedagang Lontong Sayur di Padang Pertahankan Harga Meski Untung Menipis

KEBAKARAN DI PADANG - Kebakaran melanda kawasan Pasar Raya Padang, tepatnya di Kelurahan Kampung Jao, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat pada Jumat (12/6/2026) sore. Peristiwa yang mengejutkan warga dan pedagang setempat tersebut terjadi di tengah kepadatan aktivitas menjelang akhir pekan. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang yang menerima laporan langsung bergerak cepat menuju lokasi. 

Setidaknya, enam unit armada mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke tempat kejadian perkara (TKP) guna menjinakkan si jago merah.

Namun, upaya petugas di lapangan tidak berjalan mulus begitu saja. Tim pemadam kebakaran menghadapi kendala aksesibilitas yang cukup sulit karena letak bangunan yang terbakar berada di kawasan yang padat.

Dari enam unit mobil damkar yang diterjunkan, hanya ada satu armada berukuran lebih kecil yang berhasil menerobos masuk ke dalam gang. 

Hal ini dikarenakan kondisi gang di sekitar lokasi kejadian tergolong sangat sempit dan dipadati warga.

Baca juga: Harga Emas di Padang Melejit Hari Ini, Satu Ameh Tembus Rp 6 Juta di Pasar Raya

Petugas damkar dibantu warga sekitar bahu-makhambu menyemprotkan air ke titik-titik api agar tidak semakin meluas ke bangunan lain.

Kondisi angin yang bertiup cukup kencang di sore hari menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. 

Mengenai penyebab pasti dari musibah kebakaran ini, pihak berwenang mengaku belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut. 

Fokus utama petugas saat ini adalah melakukan pemadaman total dan memastikan api tidak merembet ke pertokoan utama Pasar Raya.

Pihak kepolisian setempat juga sudah berada di lokasi untuk mengamankan jalur evakuasi dan mengatur lalu lintas di sekitar Kampung Jao yang sempat mengalami kemacetan parah akibat banyaknya warga yang berkerumun melihat kejadian tersebut. 

2. Curhat Driver Ojol di Padang Soal Pertamax Naik: Rela Antre Panjang, Demi BBM Subsidi Pertalite

Kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax yang melonjak tajam memicu gelombang migrasi konsumen di Kota Padang, Sumatera Barat.

Masyarakat kini berbondong-bondong beralih ke BBM bersubsidi jenis Pertalite demi menghemat pengeluaran harian.

Diketahui bahwa terjadi penyesuaian harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax pada Rabu (10/6/2026). Harga BBM Pertamax untuk wilayah Sumatera Barat naik menjadi Rp17.000 per liter.

Baca juga: Pemprov Sumbar Tegaskan Pengecekan STNK di SPBU Hanya untuk Kendaraan yang Dicurigai

Antrean BBM Subsidi Ramai daripada Nonsubsidi

ANTREAN BBM- Deretan pengendara yang sedang antre untuk pengisian BBM jenis Pertalite di SPBU Pertamina Kayu Gadang, kawasan Simpang Kampus, Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Jumat (12/6/2026).
ANTREAN BBM- Deretan pengendara yang sedang antre untuk pengisian BBM jenis Pertalite di SPBU Pertamina Kayu Gadang, kawasan Simpang Kampus, Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Jumat (12/6/2026). (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Pantauan Reporter TribunPadang.com, Arif Ramanda langsung di lapangan pada Jumat (12/6/2026) sekitar pukul 10.52 WIB, pemandangan kontras terlihat jelas di SPBU Pertamina Kayu Gadang, kawasan Simpang Kampus Unand, Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Lokasi SPBU yang berjarak sekitar 800 meter dari kantor Pengadilan Agama Padang Kelas 1-A ini, terdapat antrean kendaraan roda dua sangat panjang di jalur pengisian Pertalite.

Baca juga: Antrean Pertalite Mengular di Padang, Warga Terpaksa Beli Pertamax Rp 17.000 per Liter

Antrean yang padat merayap ini didominasi oleh sepeda motor milik masyarakat dari berbagai elemen.

Tidak hanya kendaraan roda dua, antrean jalur Solar subsidi juga terpantau ramai oleh kendaraan bertubuh besar. Antrean truk-truk tersebut bahkan meluber hingga memakan bahu jalan di sekitar area SPBU.

Pemandangan ini berbanding terbalik dengan jalur pengisian Pertamax. Di jalur BBM nonsubsidi tersebut, suasana tampak lengang dan hanya terlihat satu unit sepeda motor serta satu unit mobil yang melakukan pengisian.

Jeritan Pekerja Jalanan: Rela Antre Asal Dapat BBM Subsidi

Berdasarkan pengamatan di jalur antrean Pertalite, konsumen yang rela berdiri lama di bawah terik matahari datang dari berbagai kalangan. Terlihat di antaranya para pengemudi ojek online (ojol), ibu rumah tangga, hingga mahasiswa.

Melonjaknya jumlah kendaraan di jalur Pertalite ini merupakan imbas langsung dari kenaikan harga Pertamax. Diketahui, harga Pertamax telah meroket dari Rp 12.500 menjadi Rp 17.000 per liter sejak beberapa hari yang lalu.

Salah seorang pengemudi ojol yang ikut mengantre, Wahyu, mengaku dirinya memang jarang menggunakan Pertamax dan lebih memilih Pertalite.

Baca juga: Bupati Dharmasraya Tinjau Proyek Sekolah Rakyat di Sungai Kambut, Progres Fisik Capai 74 Persen

Terlebih dengan kondisi saat ini, di mana harga Pertamax dinilai sudah semakin tidak terjangkau bagi dompet pekerja jalanan.

Menurut Wahyu, jika dirinya memaksakan diri untuk tetap mengonsumsi Pertamax dengan harga baru, maka pendapatan dari tarif ojol akan terkuras habis.

Akibatnya, ia tidak akan memiliki sisa uang yang cukup untuk makan atau memenuhi kebutuhan keluarga lainnya.

Senada dengan Wahyu, driver ojol lainnya bernama Budi Arsya juga memilih bersabar dalam antrean Pertalite yang panjang.

Bagi Budi, tidak masalah harga Pertamax melambung tinggi, asalkan pemerintah tidak mengusik harga Pertalite.

Budi mengutarakan bahwa Pertalite yang saat ini dibanderol dengan harga Rp10.000 per liter sudah sangat menolong kelangsungan dapurnya.

Oleh karena itu, ia rela menghabiskan waktu mengantre agak lama asalkan bisa mendapatkan bensin bersubsidi tersebut.

Pengamat: Konsumen Kelas Menengah 'Turun Kelas'

Sebelumnya, Melihat fenomena ini, pengamat ekonomi sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Padang (FEB UNP), Doni Satria, memberikan analisisnya.

Ia memprediksi kenaikan tajam Pertamax ini akan mengubah total peta konsumsi energi di tingkat tapak.

Doni menyatakan bahwa selisih harga yang kian melebar jauh antara Pertalite dan Pertamax otomatis memaksa konsumen untuk berpikir lebih realistis.

Baca juga: Bahan Baku Naik, Warung Makan Mahasiswa di Padang Terpaksa Naikkan Harga Rp1.000 per Porsi

Golongan masyarakat kelas menengah yang selama ini menjadi pelanggan setia Pertamax diperkirakan bakal turun kelas dan ikut mengantre di jalur subsidi.

Menurut Doni, fenomena eksodus massal konsumen ini secara otomatis memicu lonjakan permintaan yang luar biasa terhadap Pertalite.

Dampaknya, pemandangan antrean kendaraan yang mengular di berbagai SPBU kini berpotensi menjadi rutinitas baru yang menjemukan bagi warga Kota Padang.

Kerugian Waktu Produktif yang Terbuang

Lebih lanjut, Doni menyoroti dampak sosiologis dan ekonomi makro dari fenomena ini. Ia menegaskan bahwa antrean panjang di SPBU bukan sekadar masalah gangguan visual atau kenyamanan pengendara, melainkan sebuah kerugian ekonomi yang nyata bagi daerah.

Masyarakat urban sering kali tidak menyadari bahwa waktu produktif yang mereka habiskan untuk berdiri atau duduk di atas motor saat mengantre sebenarnya memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi.

“Antre itu adalah biaya. Ketika seseorang harus menghabiskan waktu hingga satu jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar, maka ada waktu produktif yang terbuang sia-sia, begitu pula dengan energi kendaraan yang tetap menyala selama proses antrean," ujar Doni.

Baca juga: Konsumen di Pasar Raya Padang Tak Masalah Harga Bahan Pokok Naik Asalkan Upah Ikut Naik

Kerugian berupa hilangnya waktu produktif dan terbuangnya energi kendaraan tersebut pada akhirnya menumpuk.

Hal ini dinilai memicu pembengkakan biaya operasional hidup masyarakat secara keseluruhan, yang sebenarnya bertolak belakang dengan niat awal mereka untuk berhemat.

Doni menambahkan, situasi yang dihadapi masyarakat saat ini kian pelik lantaran tekanan ekonomi sebenarnya sudah dirasakan jauh sebelum penyesuaian harga Pertamax diberlakukan resmi oleh pemerintah.

Inflasi pada sejumlah komoditas bahan pokok sudah terjadi lebih awal di pasar-pasar tradisional.

Faktor eksternal global, seperti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS serta ketegangan geopolitik yang berkecamuk di kawasan Timur Tengah, ditengarai menjadi hulu dari segala persoalan ini karena sukses menekan stabilitas harga domestik terlebih dahulu.

"Jadi, kondisi di lapangan menunjukkan harga-harga barang sudah merangkak naik bahkan sebelum harga Pertamax resmi disesuaikan. Kenaikan BBM nonsubsidi ini seolah menjadi beban tambahan di atas beban ekonomi yang sudah bertubi-tubi dipikul masyarakat," pungkas Doni.

3. Harga Bahan Pokok Naik, Pedagang Lontong Sayur di Padang Pertahankan Harga Meski Untung Menipis

Kenaikan harga sejumlah bahan pokok turut dirasakan para pedagang makanan di Kota Padang, Sumatera Barat. 

Kondisi tersebut membuat keuntungan pedagang semakin menipis meski harga jual makanan masih dipertahankan.

Salah seorang pedagang lontong sayur di Pasar Raya Padang, Siti Aisyah, mengaku saat ini harus menghadapi kenaikan harga berbagai bahan baku yang digunakan untuk berjualan setiap hari.

Menurutnya, hampir seluruh kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga, mulai dari sayuran, kacang-kacangan, minyak goreng hingga beras.

Siti mencontohkan harga kangkung yang biasa dibelinya seharga Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per ikat kini naik menjadi sekitar Rp 10.000 per ikat. 

Baca juga: Harga Emas di Padang Melejit Hari Ini, Satu Ameh Tembus Rp 6 Juta di Pasar Raya

Kangkung tersebut digunakan sebagai salah satu bahan untuk membuat lontong pical yang dijualnya.

"Semuanya bahan pokok mahal, mulai dari sayur, kacang, minyak goreng, beras, kerupuk merah, mi, hingga kangkung," kata Siti Aisyah kepada TribunPadang.com, Jumat (12/6/2026).

Kenaikan harga bahan baku tersebut, menurutnya, berdampak langsung terhadap keuntungan yang diperoleh dari hasil berjualan.

"Tentu keuntungan semakin tipis saat berjualan karena semuanya mahal," ujarnya.

Untuk tetap bertahan, Siti mengaku harus lebih cermat saat berbelanja kebutuhan dagangan di pasar.

"Tentunya saat belanja harus pandai-pandai. Karena keuntungan semakin tipis akibat harga bahan pokok naik," katanya.

Baca juga: Harga Bahan Pokok Naik, Penjual Soto di Padang Ogah Naikkan Harga, tapi Pembeli Tetap Sepi

Meski biaya produksi terus meningkat, Siti memilih tidak menaikkan harga lontong sayur yang dijualnya. 

Ia khawatir pelanggan akan beralih ke tempat lain apabila harga dinaikkan.

"Tentu saat ini harus sabar. Karena kalau harga dinaikkan, takut pelanggan mencari tempat yang lain," jelasnya.

Ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga bahan pokok sehingga pedagang kecil tetap bisa memperoleh keuntungan yang layak.

"Tentu kami berharap harga bahan pokok kembali normal agar kami bisa mendapatkan keuntungan. Kalau saat ini hanya capek berjualan, untungnya tipis," ujarnya.

Pantauan TribunPadang.com di warung lontong sayur milik Siti pada pukul 12.27 hingga 12.50 WIB tidak terlihat adanya pembeli yang datang. 

Baca juga: Penjualan TV di Pasar Raya Padang Masih Sepi Meski Piala Dunia 2026 Sudah Bergulir

Sementara itu, di meja dagangannya masih tampak sekitar setengah porsi lontong sayur yang belum terjual.

Di sela menunggu pelanggan, Siti terlihat duduk bersama anaknya sambil berbincang dengan pedagang lain di sekitar lokasi.

Pedagang Soto Tak Naikkan Harga

Kenaikan harga sejumlah bahan pokok dikeluhkan para pedagang makanan di Kota Padang, Sumatera Barat. 

Kondisi tersebut membuat keuntungan yang diperoleh pedagang semakin menipis, terlebih di tengah kondisi pembeli yang dinilai masih sepi.

Pantauan reporter TribunPadang.com, Muhammad Afdal Afrianto, pada pukul 12.27 WIB terlihat aktivitas jual beli di warung soto milik Asna masih terbilang sepi.

Hanya terlihat seorang pelanggan yang sedang menikmati makanan di warung tersebut.

Di sela menunggu pembeli, Asna tampak menawarkan dagangannya kepada warga yang melintas di depan lapaknya dengan harapan dapat menarik lebih banyak pelanggan.

Baca juga: Penjualan TV di Pasar Raya Padang Masih Sepi Meski Piala Dunia 2026 Sudah Bergulir

PEDAGANG- Penampakan lapak pedagang soto di kawasan Pasar Raya Padang, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Jumat (12/6/2026) siang.
PEDAGANG- Penampakan lapak pedagang soto di kawasan Pasar Raya Padang, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Jumat (12/6/2026) siang. (TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto)

Salah seorang penjual soto di Pasar Raya Padang, Asna, mengaku saat ini harus menghadapi kenaikan harga berbagai bahan kebutuhan pokok yang digunakan untuk berdagang.

Diketahui bahwa Pasar Raya Padang berada di dalam kawasan Kelurahan Kampung Jao, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang.

Menurutnya, hampir seluruh bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat soto mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir.

"Semua bahan pokok saat ini mengalami kenaikan. Sementara pembeli juga sepi," kata Asna saat ditemui TribunPadang.com, Jumat (12/6/2026).

Baca juga: Harga Plastik di Padang Meroket, Beli Nasi Minta Lauk Dipisah Kini Kena Biaya Tambahan Rp1.000

Meski biaya produksi meningkat, Asna mengaku belum menaikkan harga jual soto yang ia tawarkan kepada pelanggan.

"Soto tidak ada kami naikkan harganya. Harganya masih normal," ujarnya.

Keputusan untuk mempertahankan harga jual tersebut berdampak pada menurunnya keuntungan yang ia peroleh setiap hari.

"Karena harga tidak saya naikkan, tentu keuntungan yang saya peroleh jadi tipis," katanya.

Asna menjelaskan, kenaikan harga terjadi pada sejumlah komoditas penting, mulai dari beras, minyak goreng, cabai hingga telur.

Meski demikian, ia memastikan porsi dan cita rasa soto yang dijualnya tetap dipertahankan agar pelanggan tidak kecewa.

"Meski harga bahan naik, porsi dan rasa soto tidak ada yang berubah. Kalau diubah, nanti orang tidak mau membeli," jelasnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.