TRIBUNJAKARTA.COM, PULOGADUNG - Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun turut serta dalam aksi demo UNJ Melawan di Jalan Pemuda, Jakarta Timur, Jumat (12/6/2026).
Melalui mimbar di atas mobil komando, Ubedilah sempat menyampaikan keresahannya terhadap pemerintahan Presiden RI, Prabowo Subianto dan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka.
Di antaranya terkait masyarakat terhimpit tekanan ekonomi, program makan bergizi gratis (MBG) dinilai tidak efektif, hingga pengesahan revisi Undang-undang Polri yang instan.
Menurutnya banyak akademisi yang juga merasa gelisah dengan kondisi pemerintahan sekarang, namun karena beberapa pertimbangan pribadi mereka belum menunjukkan sikap.
"Banyak dosen, akademisi yang sebetulnya juga gelisah. Tapi mereka mungkin masih ada rasa takut, ada khawatir, ada mungkin nunggu momentum dan sebagainya," kata Ubedilah, Jumat (12/6/2026).
Di lingkup mahasiswa saja Ubedilah menyebut saat ini sebanyak 400 persen mahasiswa kesulitan membayar uang kuliah tunggal (UKT), kondisi ini jadi cermin sulitnya ekonomi masyarakat.
Atas hal tersebut dia mendukung 10 dalam UNJ Melawan yang ditujukan mahasiswa kepada pemerintah, di antaranya menaikkan kesejahteraan guru, dan menstabilkan nilai tukar rupiah.
Ubedilah menyatakan 10 tuntutan yang dirumuskan dalam UNJ Melawan berasal dari mahasiswa dengan didasarkan pada riset lapangan terhadap kondisi masyarakat.
"Ketika pemerintah tidak mampu mengelola kondisi moneter maupun fiskal, lalu tidak mau mendengarkan aspirasi rakyat, pada titik itu saya kira semua kaum intelektual pasti gelisah," ujarnya.
Ubedilah menuturkan meski pada pemerintahan Prabowo-Gibran terdapat sejumlah aktivis, tapi hal tersebut tidak menunjukkan keterwakilan suara masyarakat.
Dia mencontohkan dukungan pengendara roda dua, roda empat, hingga sopir truk di Jalan Pemuda yang membunyikan klakson sebagai tanda dukungan atas aksi demo UNJ Melawan.
"Mahasiswa bersama rakyat tuh protes. Meskipun ada para aktivis di dalam istana. Itu enggak ada (berpengaruh) menurut saya. Apalagi aktivisnya berkhianat dengan agenda reformasi," tuturnya.