Edukasi Masyarakat soal ODHIV dan TBC, Jurnalis Jayapura Diharapkan Ramah Kelompok Rentan
Paul Manahara Tambunan June 13, 2026 12:29 PM

 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Dinas Kesehatan Kota Jayapura mengambil langkah strategis dalam upaya menekan angka penyebaran serta menghapus stigma sosial terhadap penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) AIDS dan Tuberculosis (TBC). 

Langkah nyata diwujudkan dengan merangkul para jurnalis di Kota Jayapura melalui agenda Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan HIV AIDS dan Tuberculosis (TB) di sebuah hotel bilangan Distrik Abepura, pada Jumat (12/6/2026). 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, drg. Juliana Napitupulu, menegaskan peran media massa sangat krusial di tengah situasi penyebaran kedua penyakit tersebut yang masih menjadi tantangan serius di ibu kota Provinsi Papua ini. 

“Pentingnya kolaborasi bersama media, terlebih situasi penyebaran kedua penyakit ini masih menjadi tantangan serius di Kota Jayapura,” ungkap Juliana saat membuka acara.

Berdasarkan data resmi Dinas Kesehatan, Kota Jayapura saat ini menempati peringkat pertama untuk jumlah kasus HIV AIDS di seluruh Provinsi Papua. 

Grafik perkembangan kasus menunjukkan tren peningkatan yang perlu diwaspadai secara berkala oleh seluruh lapisan masyarakat. 

Hingga trimester pertama tahun 2026, jumlah kumulatif kasus HIV AIDS di Kota Jayapura mencatat lonjakan menjadi 11.235 kasus. Angka ini meningkat dari total 10.946 kasus pada 2025. 

Baca juga: Prostitusi Online MiChat Percepat Penyebaran HIV di Pedalaman Papua Tengah

Sementara untuk kasus Tuberculosis (TBC), sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 3.007 kasus. 

Tren penularan bakteri ini terus dipantau secara ketat seiring ditemukannya 932 kasus baru dalam periode Januari hingga Mei 2026. 

Menanggapi angka-angka tersebut, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kota Jayapura, Ns. Yusnita Pabeno, memaparkan keterkaitan medis yang berbahaya antara bakteri TBC dan HIV AIDS. 

Menurutnya, kombinasi kedua infeksi ini secara simultan dapat memperparah kerusakan sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga berisiko tinggi meningkatkan angka kesakitan hingga kematian. 

Stigma Sosial

Lebih lanjut, Yusnita membeberkan tantangan paling berat yang dihadapi petugas kesehatan di lapangan. 

Bukan sekadar penanganan klinis, melainkan kokohnya tembok stigma dan diskriminasi sosial dari lingkungan sekitar terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV) maupun penderita TBC. 

"Salah satu langkah strategis untuk memutus rantai penularan dan hambatan sosial ini adalah menyebarluaskan informasi yang benar secara terus-menerus," terang Yusnita. 

Ia menambahkan, media massa adalah wadah paling efektif karena jangkauannya yang luas ke seluruh lapisan masyarakat. 

SOSIALISASI - Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, drg. Juliana Napitupulu membuka Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan HIV AIDS dan Tuberculosis (TB) di sebuah hotel bilangan Distrik Abepura, pada Jumat (12/6/2026). 
SOSIALISASI - Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, drg. Juliana Napitupulu membuka Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan HIV AIDS dan Tuberculosis (TB) di sebuah hotel bilangan Distrik Abepura, pada Jumat (12/6/2026).  (Tribun-Papua.com/Istimewa)

Agenda sosialisasi ini dikemas secara interaktif melalui sesi diskusi panel yang menghadirkan pakar kesehatan, antara lain dr. Helena Picarima yang mengupas tuntas Informasi Dasar HIV dan AIDS, serta dr. Victor M., Sp.P yang mengulas detail penanganan medis Tuberculosis. Dari sisi insan pers, hadir Paul Tambunan perwakilan dari Tribun Papua. 

Baca juga: HIV-AIDS di Kabupaten Jayapura Tembus 6.248 Kasus Seiring Krisis Anggaran

Harapan Komunitas: Jadikan Jayapura Role Model Jurnalisme Ramah

Menariknya, sinergi ini tidak hanya melibatkan birokrasi dan media, tetapi juga menggandeng langsung berbagai elemen akar rumput, seperti Komunitas Rojali, Pelangi, IWAJA, sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), serta kalangan mahasiswa. 

Perwakilan dari komunitas kelompok rentan menaruh asa yang besar pada komitmen para kuli tinta di ibu kota Provinsi Papua.

Mereka menegaskan, edukasi publik akan jauh lebih berdampak masif apabila jurnalisme yang diproduksi memiliki sensitivitas sosial yang tinggi dan ramah terhadap isu-isu marginal. 

"Termasuk dalam peliputannya bisa menyertakan sudut pandang yang ramah terhadap komunitas rentan," pungkas salah satu peserta komunitas penuh harap. 

"Mimpi kami itu, jurnalis di Kota Jayapura bisa menjadi percontohan untuk jurnalis ramah kelompok rentan,” sambungnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.