Seni Menghidupkan Suara Ruang ala Lekman Lab, Ketika Estetika Kontemporer Jumpa Kualitas Audio Hi-Fi
Hari Susmayanti June 13, 2026 03:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bagi sebagian besar orang, menata sebuah ruangan sering kali hanya berfokus pada apa yang tertangkap oleh mata.

Kita sibuk memilih warna cat tembok, memilah material lantai, hingga berburu furnitur yang pas agar ruangan terlihat estetik.

Namun, bagi Rahmansyah Iman Saputra, ada satu dimensi krusial yang kerap terlupakan dalam desain ruang yakni bagaimana ruangan tersebut terdengar.

Melalui Lekman Lab, sebuah studio produksi speaker pasif custom yang belum genap berusia satu tahun, mencoba mendobrak kekakuan desain audio konvensional. 

“Jadi produk kami sebenarnya lebih pada perangkat audio yang kita kenal sebagai speaker. Tapi, speaker pada umumnya itu kurang menarik visualnya," ungkapnya mengenai awal mula berdirinya Lekman Lab. 

Dari kegelisahan itulah, ia tergerak untuk merancang sebuah gawai audio yang tidak hanya bertugas mengeluarkan suara jernih, tetapi juga berfungsi sebagai elemen dekoratif untuk mempercantik interior.

Dalam proses kreatifnya, Lekman Lab mengadopsi kiblat desain kontemporer dengan mengamati perkembangan tren arsitektur dan interior.

Langkah ini sukses menarik perhatian pasar yang spesifik. Tidak heran jika konsumen Lekman Lab kini tidak lagi terbatas pada para pemilik bisnis komersial.

“Selain owner kafe, banyak juga arsitek dan interior desainer yang pesan ke saya. Kebanyakan orang mendesain sebuah ruangan bagaimana ia terlihat, tapi Lekman Lab juga menyajikan bagaimana ruangan itu juga bersuara,” katanya.

Meski mengutamakan tampilan visual yang memikat, Lekman Lab menolak keras anggapan bahwa estetika harus mengorbankan fungsionalitas.

Iman menegaskan bahwa dalam dunia audio, ukuran dan bahan boks sangat menentukan kualitas suara. Oleh karena itu, kalkulasi teknis tetap menjadi harga mati. 

“Dengan kita tetap mempertahankan hitungan-hitungan itu, kalkulasi itu, suara tetap cantik, tetap musikalitas, tapi dengan sentuhan desain yang cocok, yang baik, yang estetika, bisa menambah nilai pada sebuah speaker,” jelasnya.

Untuk urusan 'jeroan', Lekman Lab memilih jalur sweet spot titik keseimbangan ideal antara performa, visual, dan harga yang masuk akal.

Mereka secara konsisten menggunakan driver buatan lokal yang memiliki standar kualitas stabil dan terjangkau.

Boks utamanya dirakit menggunakan plywood Grade A yang jamak digunakan dalam industri audio kelas atas.

Baca juga: Ekspansi Jalur Mandiri PTNBH dan Melemahnya Ekonomi Ancam Keberlangsungan Kampus Swasta

Menariknya, salah satu elemen paling ikonik dari Lekman Lab adalah penggunaan 
multicell horn. Komponen legendaris yang populer pada era 1970-an dihidupkan kembali oleh Lekman Lab menggunakan teknologi 3D printing dengan perhitungan matematis khusus agar sebaran suara di dalam ruangan menjadi lebih merata.

Saat ditanya mengenai tahapan produksi yang paling menantang, Iman tanpa ragu menunjuk pada pembuatan crossover, sebuah komponen elektrik pasif yang bertindak sebagai jantung dari speaker. Komponen inilah yang bertugas memisahkan frekuensi suara low (bass), mid dan tweeter agar dapat berbunyi secara selaras.

"Kadang kita mendengar custom speaker itu kebanyakan terlalu cempreng atau bass-nya terlalu besar. Bagi kami, suara yang selaras, seharmoni, yang seimbang, atau kita sebutnya flat gitu, lebih baik, lebih musikalitas," katanya memaparkan filosofi suaranya.

Proses ini membutuhkan ketelitian tingkat tinggi karena setiap komponen driver harus diukur satu per satu menggunakan bantuan software kalkulasi khusus sebelum akhirnya dirakit secara nyata dan diuji ulang.

Selain crossover, tahap finishing visual juga menjadi titik krusial yang menuntut kesempurnaan demi kepuasan mata konsumen.

Meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap kualitas audio berkualitas—baik lewat headset maupun TWS turut membawa dampak positif bagi industri speaker rumahan kelas high-fidelity (hi-fi). 

Berawal dari sekadar hobi, Rahmansyah melihat celah bisnis yang menjanjikan ini dan memberanikan diri terjun ke pasar.

Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, kehadiran bisnis custom audio lokal ini justru menjadi angin segar dan solusi alternatif untuk terus berkembang.

Hingga saat ini, Lekman Lab sengaja belum melayani pembelian produk jadi (ready stock) karena setiap ruangan memiliki karakteristik akustik dan kebutuhan daya yang berbeda-beda.

Apalagi pesanan saat ini juga datang bertubi-tubi. Proses pemesanan selalu diawali dengan diskusi mendalam bersama konsumen mengenai konsep visual ruangan hingga sistem kelistrikannya.

“Kami selalu berusaha untuk diskusi layaknya dengan teman gitu lho," tambahnya.

Katalog yang mereka miliki saat ini murni berfungsi sebagai sampel ukuran dan perkiraan acuan harga.

Untuk satu pasang speaker custom dengan sistem two-way (terdiri dari woofer 5 inci dan tweeter), Lekman Lab membanderol harganya mulai dari Rp5 juta.

Saking tingginya antusiasme konsumen dari wilayah Yogyakarta hingga Jakarta, daftar antrean produksi Lekman Lab kini terpantau sangat padat.

Untuk satu pasang speaker, proses pengerjaan memakan waktu sekitar tiga minggu.

Sebagai kreator, Rahmansyah Iman Saputra mengaku masih memiliki banyak obsesi yang ingin ia kejar di masa depan.

Salah satu proyek impiannya adalah mengeksplorasi bentuk-bentuk boks speaker yang lebih unik dan radikal yang selama ini belum pernah terwujud di pasar.

Selain itu, ia juga berencana meluncurkan lini produk siap beli yang akan membawa karakter suara khas sebagai identitas utama mereka. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.