Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok dan kelangkaan beberapa produk membuat para pedagang pasar tradisional semakin tertekan.
Baca juga: Harga Sembako Turun, Pedagang Pasar Metro Justru Keluhkan Sepi Pembeli
Salah satunya dirasakan oleh Falih, pemilik Toko Falih di Pasar Tempel Terminal Rajabasa, Bandar Lampung.
Menurut Falih, hampir seluruh barang kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir.
Minyak goreng menjadi salah satu komoditas yang paling sulit diperoleh. "Minyak goreng sekarang susah. MinyaKita sudah seminggu sampai dua minggu tidak ada barang. Bimoli bahkan sudah sekitar satu bulan kosong," ujar Falih saat ditemui di tokonya Sabtu (13/6/2026).
Tak hanya minyak goreng, sagu, harga beras dan gula juga terus mengalami kenaikan.
Beras medium disebut naik sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000 per kilogram. Bahkan beras merek raja udang juga sudah tidak ada di pasaran sejak sebulan lalu.
Sementara itu, masyarakat dinilai kurang berminat membeli beras SPHP karena kualitasnya dianggap kurang memuaskan.
Kenaikan harga juga terjadi pada tepung sagu atau tapioka. Falih mengungkapkan harga yang sebelumnya berkisar Rp10.500 kini melonjak menjadi Rp13.500 per kilogram.
"Kenaikannya sangat terasa. Hampir semua jenis sagu naik karena harga singkong di tingkat petani juga meningkat," katanya.
Di tengah kenaikan harga tersebut, daya beli masyarakat justru mengalami penurunan.
Falih mengaku omzet tokonya terus menurun dalam tiga tahun terakhir. "Kalau penjualan terus turun. Konsumen berkurang, daya beli masyarakat memang sedang lemah. Harga naik, sementara pendapatan banyak orang tidak ikut naik," jelasnya.
Ia menilai kelompok masyarakat kelas menengah menjadi pihak yang paling merasakan tekanan ekonomi saat ini.
Menurutnya, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah masih mendapatkan berbagai bantuan sosial, sementara kelompok ekonomi atas relatif tidak terdampak.
"Yang paling berat itu kelas menengah. Gajinya tetap, tapi harga kebutuhan terus naik," ujarnya.
Selain itu, Falih juga menyoroti dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap pelaku usaha kecil.
Ia mengaku sebelumnya memperoleh tambahan penjualan dari kantin-kantin sekolah, namun kini permintaan tersebut berkurang.
"Dulu ada pesanan dari kantin sekolah. Sekarang banyak yang berkurang bahkan tutup karena anak sudah dapat MBG. Pedagang kecil jadi kehilangan pasar," katanya.
Meski demikian, Falih mengaku tetap berusaha bertahan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi pedagang pasar tradisional saat ini.
"Sekarang bukan lagi soal untung besar. Yang penting bisa bertahan hidup dan usaha tetap berjalan," tutupnya.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)