Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Kecintaan seseorang terhadap sebuah tim sepak bola biasanya terlihat dari koleksi jersey, syal, atau poster yang menghiasi kamar.
Namun bagi Salman Wailussy, warga Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah itu, dukungan terhadap Tim Samba telah menjelma menjadi bagian dari identitas hidupnya.
Pria kelahiran Hitu, 27 Maret 1984, yang akrab disapa Mances Brasil Wailussy, dikenal sebagai salah satu fans fanatik.
Kecintaannya kepada negara pemilik lima gelar Piala Dunia itu tidak hanya sebatas dukungan saat pertandingan berlangsung, tetapi telah merambah ke hampir seluruh aspek kehidupannya.
Memasuki rumah Mances, nuansa kuning-hijau khas Brasil langsung terasa.
Berbagai sudut rumah dihiasi warna dan simbol Tim Samba mulai dari sendal, gelas, parang, hingga asbak rokok miliknya dihiasi atribut dan corak bendera Brasil.
Baca juga: Senam Sehat di Pasar Mardika, Gubernur Lewerissa Pakai Jersey Timnas Argentina, Istrinya Brasil
Bahkan, sedikitnya empat bendera Brasil tersimpan dan dipajang sebagai simbol kebanggaannya terhadap tim yang dicintainya.
Tak berhenti di situ, kecintaan Mances kepada Brasil juga ia abadikan dalam nama putra tercintanya.
Anak laki-lakinya yang lahir pada 10 Februari 2023 itu diberi nama Arkana Brasil Wailussy.
Kini, Arkana yang berusia tiga tahun menjadi bagian dari kisah panjang kecintaan sang ayah terhadap Tim Samba.
Menurut Mances, rasa cintanya kepada Brasil sudah tumbuh sejak masa kecil, tepatnya pada tahun 1994.
Baca juga: Yakin Selecao Juara, Kapolsek Nusaniwe Klaim Sudah Brasil ‘Sejak Lahir’
Saat itu, ia terpukau oleh permainan indah dan semangat para pemain Brasil yang berhasil menjuarai Piala Dunia.
Sosok yang pertama kali membuatnya jatuh hati kepada Brasil adalah Jose Roberto Gama de Oliveira, atau yang lebih dikenal dengan nama Bebeto.
Mantan penyerang legendaris Brasil itu menjadi salah satu bintang saat Brasil meraih gelar juara di Piala Dunia FIFA 1994 bersama rekannya, Romario.
“Awal kenal Brasil sejak tahun 1994. Dengan nama pemainnya Bebeto dengan Sambanya. Dari situ saya dan kemudian keluarga fans Brasil sampai saat ini,“ungkap Mances.
Baginya, menjadi fans sejati bukan hanya mengenakan jersey saat pertandingan berlangsung. Dukungan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Euforia Piala Dunia Mulai Terasa di SBT, Bendera Portugal, Brasil dan Argentina Laku Keras
Bahkan dengan senyuman, ia katakan bahwa dirinya tidak sungkan jika pindah legalitas penduduk Negara Brasil.
“Itulah kecintaan fans. Apa pun yang beta bisa buat, beta akan buat yang penting untuk Brasil. Kalau fans hanya baju beta tidak fans. Beta ini fens fanatik. Apapun yang beta bisa buat untuk Brasil, beta akan buat,” katanya.
Menariknya, Mances mengaku tidak memiliki pemain Brasil yang benar-benar diidolakan secara khusus.
Baginya, yang paling penting adalah tim secara keseluruhan.
“Kalau untuk pemain Brasil, beta tidak ada idola. Beta idolanya tim. Andalan tim Samba, pemainnya di atas rata-rata lah pokoknya,“ ujarnya sambil tersenyum.
Kesetiaan Mances juga tidak pernah goyah meski Brasil pernah mengalami salah satu kekalahan yang paling menyakitkan dalam sejarah sepak bola, yakni saat takluk 1-7 dari Jerman pada semifinal piala dunia FIFA 2014 lalu.
“Masih tidak tergoyahkan,” tegasnya.
Menjelang berbagai ajang sepak bola internasional yang diikuti Brasil, Mances tetap menaruh optimisme tinggi kepada tim kesayangannya.
Meski menghormati seluruh negara peserta dan mengakui persaingan semakin ketat, ia percaya Tim Samba masih memiliki peluang besar untuk melangkah hingga partai puncak.
“Untuk membawa piala, kali ini untuk semua pemain dan semua negara sama, tapi beta optimis bahwa Brasil tetap final, “ katanya.
Di akhir perbincangan, Mances mengajak seluruh pendukung Brasil di Ambon untuk terus memberikan dukungan dan doa bagi tim kebanggaan mereka.
“Bagi para fans Brasil yang ada di kota Ambon, harus berdoa dan optimis bahwa tim Samba lolos ke partai puncak,“ tutupnya.
Bagi Mances Wailussy, Brasil bukan sekedar tim sepak bola. Tim Samba telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya selama lebih dari tiga dekade.
Dari bendera yang berkibar di rumah, peralatan sehari-hari bernuansa kuning hijau, hingga nama sang anak, semuanya menjadi bukti bahwa kecintaan seorang suporter sejati terkadang melampaui batas lapangan hijau. (*)