Kondisi itu mendorong sejumlah jurnalis muda dan pers mahasiswa dibekali perspektif jurnalisme inklusif sekaligus ditantang menghasilkan karya liputan mengenai keberagaman di daerah.
Para peserta Workshop Jurnalisme Inklusif yang digelar AJI Persiapan Banjarmasin bersama LK3 dan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) tidak hanya menerima materi di kelas, tetapi juga akan melakukan peliputan langsung.
“Kami ingin kawan-kawan ini juga melakukan liputannya. Bisa jadi mengangkat cerita baik terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan ataupun problem-problem yang masih terjadi di lapangan,” ujarnya, Minggu (14/6/2026)
Baca juga: BREAKING NEWS- Mahasiswa Banua Bawa 4 Tuntutan ke DPRD Kalsel, Istana Tolak Setop Program MBG
Baca juga: Oligarki, Reformasi dan Resentralisasi
Sebanyak empat kelompok dibentuk untuk menggarap proyek jurnalistik yang akan diselesaikan dalam waktu sekitar satu setengah bulan. Hasilnya nanti dipublikasikan melalui berbagai platform media.
Abdani berharap, karya-karya tersebut mampu memperkaya perspektif publik mengenai keberagaman sekaligus menghadirkan cerita yang selama ini jarang terdengar.
Koordinator AJI Persiapan Banjarmasin, Rendy Tisna mengatakan, pelatihan jurnalisme inklusif masih relatif jarang digelar, padahal peliputan isu keberagaman membutuhkan pemahaman khusus agar tetap berpegang pada prinsip jurnalistik dan kode etik pers.
“Output dari pelatihan ini adalah produk karya jurnalistik yang dibuat peserta. Dari situ kita bisa melihat bagaimana penerapan prinsip-prinsip peliputan yang inklusif dalam karya mereka,” katanya.
Ia mendorong, jurnalis lebih kritis terhadap istilah-istilah yang berpotensi melabeli atau meminggirkan kelompok agama dan kepercayaan tertentu.
Salah seorang peserta, Muhammad Ferdy Aldino menilai, pelatihan tersebut membuka wawasan tentang pentingnya menghormati perbedaan keyakinan di tengah masyarakat yang majemuk.
“Harapannya tema ini tidak hanya menjadi pembahasan semata, tetapi bisa direalisasikan sehingga masyarakat lebih terbuka, lebih toleran, dan lebih inklusif terhadap berbagai keyakinan dan agama,” ujarnya.
Peserta lainnya, Wika Silalahi berharap semangat menghormati keberagaman juga tercermin dalam pemenuhan hak-hak kelompok keagamaan, termasuk kemudahan dalam proses perizinan rumah ibadah.
“Semoga proses perizinan tempat ibadah bisa semakin dipercepat apabila ada yang ingin membangun,” katanya.
Workshop yang berlangsung selama dua hari di Gedung Rektorat ULM itu diikuti 15 peserta dari media arus utama dan pers mahasiswa di Banjarmasin. Selain mendapatkan materi, peserta juga berdiskusi dengan pegiat HAM serta sejumlah warga yang pernah mengalami diskriminasi karena keyakinannya.
(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)