Nasib Pilu 3 Bocah yang Dipaksa Jadi Manusia Silver, Takut Pulang Sebelum Bawa Rp250 Ribu Per Orang
Murhan June 15, 2026 12:03 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Nasib pilu tiga bocah yang dipaksa orang tuanya menjadi manusia silver. Mereka ketakutan pulang ke rumah karena belum berhasil mengumpulkan uang Rp750 ribu.

Bahkan, di antara 2 anak ini merupakan anak bawah umur yang mengaku dipekerjakan secara paksa oleh orangtuanya. Sementara satu korban lain merupakan cucu tiri pelaku.

Suami istri (pasutri) itu yang tega tersebut ada di Pelalawan Riau

Para korban harus bekerja mencari uang menjadi pengamen, pengemis, hingga manusia silver.

Setiap anak wajib setor Rp250 ribu per harinya. 

Baca juga: Jelang Aksi Demo Mahasiswa dan Masyarakat, Pengamanan di Gedung DPRD Kalsel Mulai Disiagakan  

Mendengar pengakuan tersebut, polisi lantas menangkap pasutri MK dan SM karena mengeksploitasi anak di bawah umur.

Aksi tersebut terjadi di Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Pasutri tersebut mempekerjakan dua anak kandungnya sendiri menjadi "manusia silver" dan pengamen.

Selain itu, satu orang cucu tirinya dijadikan oleh pasutri tersebut sebagai pengemis.

Dirreskrimum Polda Riau, Kombes Pol Hasyim Risahondua mengatakan, kedua pelaku saat ini berada di Polsek Pangkalan Kerinci untuk dilakukan pemeriksaan.

"Pasutri ini mengeksploitasi tiga anak yang masih di bawah umur. Para korban disuruh mencari uang dengan cara jadi "manusia silver", mengemis, dan mengamen di lampu merah," kata Kombes Pol Hasyim seperti dilansir dari Kompas.com, Minggu (14/6/2026).

Dua anak kandung pelaku, berusia 11 tahun dan 9 tahun. Sementara satu cucu tirinya berusia 9 tahun.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, pasutri tersebut memaksa ketiga korban untuk mencari uang di jalan.

Eksploitasi anak itu sudah berjalan selama tujuh bulan, sejak pelaku dan korban pindah ke Pangkalan Kerinci.

Ditangkap Warga

Para korban dipaksa bekerja dari pukul 15.00 hingga pukul 22.00.

"Para korban disuruh cari target uang Rp250.000 per orang per hari. Berarti Rp750.000 sehari harus dicari oleh ketiga korban," ungkap Kombes Pol Hasyim. 

Kombes Pol Hasyim menjelaskan, kasus ini terungkap saat warga melihat anak-anak di bawah umur yang menjadi "manusia silver" dan mengemis di lampu merah jalan lintas timur, Kecamatan Pangkalan Kerinci pada Jumat (12/6/2026) pukul 20.00.

Warga kemudian membawa ketiga anak itu ke Polsek Pangkalan Kerinci agar diungkap siapa yang mempekerjakan mereka.

Saat ditanya polisi, ketiga anak tersebut mengaku disuruh orangtuanya untuk bekerja mencari uang.

"Ternyata mereka malam itu belum pulang, karena takut dimarahi oleh pelaku jika target uang belum didapat."

"Mereka juga mengaku akan dipukul oleh pelaku SM (ibunya)," kata Kombes Pol Hasyim.

Setelah mendengar pengakuan anak-anak, Kapolsek Pangkalan Kerinci AKP Shilton bersama anggotanya melakukan penangkapan terhadap pasutri tersebut. 

Ramai soal Manusia Silver, Apa Bahayanya Mengecat Kulit?

Di media sosial, beredar foto sejumlah orang yang tubuhnya dicat berwarna silver.

Salah satu foto yang beredar dan viral di media sosial juga menunjukkan ada bayi yang kulitnya juga dicat berwarna perak.

Bayi berusia 10 bulan dicat silver tersebut teridentifikasi terjadi di Pemulang, Tangerang Selatan.

Selain di Tangerang, manusia silver ini juga ditemukan di Semarang, Jawa Tengah.

Apa bahayanya mengecat kulit dengan cat yang penggunaannya bukan untuk kulit manusia?

Dokter spesialis kulit dan kelamin di RSUD Purwokerto, dr Ismiralda Oke Putranti, mengatakan, bahan pewarna yang dipakaikan pada bayi berpotensi mengiritasi kulit. Menurut dia, cat yang biasa digunakan manusia silver adalah pewarna tekstil.

"Bahan pewarna yang biasa dipakai oleh manusia saja, (seperti) make up, cat rambut, berisiko menimbulkan alergi. Apalagi yang untuk bahan tekstil, berbahaya sekali. Apalagi untuk bayi dan anak-anak yang kulitnya masih tipis dan lebih sensitif dibandingkan orang dewasa," kata Oke saat dihubungi Kompas.com, Minggu (26/9/2021).

Penggunaan cat silver

Dokter yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman ini, mengatakan, pewarna yang biasanya digunakan untuk manusia silver mengandung paraphenylenediamine (PPD), zat kimia yang menimbulkan warna jika bereaksi dengan oksigen.

PPD juga biasanya dipadukan dengan oxidizer, zat pewarna yang bisa meresap ke dalam kulit atau rambut.

"Untuk pewarna sering kali mangandung bahan yang disebut paraphenylenediamine (PPD) yang sering menyebabkan reaksi alergi pada kulit. Bahan oxidizer ini juga sering mengiritasi kulit," kata Oke.

Fenomena silverman atau manusia silver mulai marak di beberapa daerah. Mereka kerap ditemukan di titik-titik keramaian kota atau di lampu merah.

Oke menceritakan, ia pernah merawat pasien yang bekerja sebagai manusia silver. Pasien tersebut mengalami iritasi di kulitnya.

"Saya pernah mendapatkan kasus yang sama pada pasien silverman. Dia mengalami reaksi iritasi yang cukup berat terutama pada area wajah, karena area wajah relatif lebih sensitif di bandingkan area lain," ujar Oke.

Ia mengatakan, pewarna tekstil yang biasa digunakan manusia silver idealnya tidak digunakan untuk kulit manusia.

"Pada cat warna tekstil, supaya bahan pewarna bisa masuk ke dalam serat-serat kain, diperlukan bahan aktif lain yang sifatnya kalau terkena kulit manusia akan menimbulkan iritasi," kata Oke.

Bahaya cat silver

Salah satu peradangan paling umum yang muncul akibat iritasi cat silver adalah bintil, kemerahan, dan rasa gatal di kulit.

"Reaksi iritasi mulai dari kemerahan dan bintil-bintil pada kulit disertai rasa gatal, pada reaksi yang berat bahkan bisa timbul lepuh dan kematian jaringan kulit," papar Oke.

Hal serupa juga disampaikan oleh dokter umum di Klinik dr Djalu, Mojokerto, Jawa Timur, dr Wahyu Tri Kusprasetyo.

Adapun efek jangka panjang penggunaan cat silver ini, menurut Wahyu, dipengaruhi oleh zat yang bersifat teratogenik pada cat yang bisa menyebabkan kanker kulit.

Peradangan terjadi karena respons tubuh saat infeksi biasanya terjadi saat tubuh menerima benda asing atau yang dianggap berbahaya.

"Tanda awal radang adalah kemerahan, peningkatan suhu sektar atau seluruh tubuh, dan nyeri. Pada akhirnya menyebabkan fungsi tubuh terganggu," kata Wahyu.

Bayi dicat silver

Kepala Seksi Penyelidikan dan Penyidikan Satpol PP Tangsel Muksin Al-Fachry mengatakan, bayi berusia 10 bulan tersebut dibawa mengemis di jalanan.

Saat E dan B menyerahkan kembali MFA, NK mendapati bahwa anaknya sudah berada dalam kondisi dicat silver. Sepasang suami istri itu juga memberikan uang sebesar Rp 20.000 kepada NK.

Uang itu akan digunakan untuk membeli popok. Berdasarkan keterangan NK, hingga kini putranya belum memiliki akte kelahiran karena dia tidak melahirkan di rumah sakit.

Adapun untuk bayi dan ibunya telah diamankan dan dibawa ke Dinas Sosial (Dinsos) Kota Tangsel, Sabtu kemarin malam.

Muksin menambahkan, karena ada kejadian tersebut, pihaknya bakal mengintensifkan razia terhadap manusia silver.

Pihaknya tak menampik, beberapa waktu terakhir banyak manusia silver yang beroperasi di wilayah Tangerang Selatan, seperti Maruga, Rempoa, Alam Suter, dan Gaplek.

"Apa lagi kota kami adalah kota layak anak. Tidak layak kalau ada anak bayi yang dibawa atau dimanfaatkan untuk kegiatan pribadi mereka," ujar dia. 

(Banjarmasinpost.co.id/Tribun-Medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.