TRIBUNNEWS.COM - Enam laga kualifikasi Piala Dunia 2026 tidak ada yang berhasil dimenangkan oleh Swedia. Hasilnya masing-masing tiga untuk imbang dan kalah. Kursi kepelatihan yang sebelumnya dipegang oleh Jon Dahl Tomasson diambil alih oleh Graham Potter.
Graham Potter mengakhiri dua rangkaian hasil buruk timnas Swedia. Beruntungnya, Swedia masih memiliki peluang dari peringkat UEFA National League sehingga dapat tampil di babak play-off. Pada kesempatan itu, Swedia memenangkan dua pertandingan atas Ukraina dan Polandia untuk melaju ke putaran final Piala Dunia 2026.
Dari keterpurukan akhirnya mampu membangkitkan tim, dan mencapai garis finis. Kini, kisah-kisah Swedia di Piala Dunia akan dimulai di bawah asuhan Graham Potter yang berhasil memenangkan laga pertamanya di Grup F dengan kemenangan mencolok 5-1 atas Tunisia, Senin (15/6/2026).
Berdasarkan analis dari Football Enthusiast, Bayu Ajianto dan Richardo Liwang dari anggota Indo Barca, Swedia memiliki ancaman yang cukup menjanjikan ketika disandingkan dengan Jepang dan Belanda yang satu grup dengan mereka.
Belanda tetap menjadi unggulan nomor satu, namun dari hasil pertandingan pertama yang berakhir imbang 2-2 atas Jepang, Swedia kini menempati urutan teratas di klasemen.
"Grup F ini merupakan grup yang pasti menghasilkan banyak kejutan, baik dari Jepang, Swedia, atau dari kuda hitamnya Tunisia," kata Richardo Liwang dalam podcast Tribunnews, Super Taktik: Prediksi Grup A-F Piala Dunia 2026 & Last Dance Ronaldo vs Messi di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Baca juga: Graham Potter Belum Puas Meski Swedia Bantai Tunisia 5-1 di Piala Dunia 2026
Dalam ringkasannya, para narasumber tersebut sepakat bahwa grup ini tidak dapat diprediksi dengan muda dibandingkan grup lainnya.
Swedia memiliki komposisi pemain yang kuat dengan striker yang harus diwaspadai lawan, di antaranya Gyokeres, Isak, dan Anthony Elanga.
Terbukti di laga pertama melawan Tunisia, koneksi Gyo dengan Isak berjalan dengan baik sehingga mereka dapat mencetak gol dalam kemenangan Swedia.
Jumlah gol yang dihasilkan Swedia ke gawang Tunisia lebih banyak daripada yang mereka hasilkan dalam enam pertandingan kualifikasi Piala Dunia (4) di bawah asuhan Jon Dahl Tomasson.
Di bawah kepemimpinan Jon Dahl itulah harapan Swedia hampir mustahil ke Piala Dunia.
Namun, Graham Potter datang di masa-masa krusial. Ia datang membawa bala bantuan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka masih memiliki sesuatu yang bisa dibuktikan untuk tampil di panggung terbesar sepak bola.
Sebelum helatan Piala Dunia 2026 berlangsung, Graham Potter mengungkapkan tentang bagaimana kebahagiaannya melatih dan berada di Swedia.
Graham Potter memiliki track record yang cukup mengenang dengan Swedia, termasuk dua anaknya lahir di negeri tersebut.
Baca juga: Sisi Lain Matchday 1 Grup F: Kredit Khusus Moriyasu ke Belanda, Gol Emosional Swedia
Selama tujuh tahun yang tidak terlupakan di Ostersunds, bermain di kasta keempat liga domestik, hingga mencapai Allsvenskan.
"Anda hampir menjadi seperti orang Swedia dalam konteks kepelatihan karena pengalamanan yang Anda dapatkan. Saya pikir itu jelas sangat membantu," ungkap Potter kepada BBC.
"Sekarang saya bekerja untuk federasi sepak bola Swedia sebagai pelatih kepala tim nasional, jadi saya merasa sangat Swedia," tegasnya.
Mantan pelatih West Ham dan Chelsea itu semakin mendalami perannya dengan menjelajahi lanskap alam Swedia bersama keluarganya, membaca sastra Nordik, dan berpartisipasi dalam acara budaya.
Graham Potter tidak hanya sedang bekerja, tetapi juga sedang membangun sesuatu untuk mendapatkan hal-hal yang lebih baik di masa depan.
Pelatih berkebangsaan Inggris itu bisa tersenyum lebar saat Swedia memenangkan laga pertama Piala Dunia 2026, apalagi dua striker andalannya Alexander Isak (Liverpool) dan Viktor Gyokeres (Arsenal) turut mencetak gol.
Bagi para analis di atas, keduanya adalah senjata mematikan untuk lini depan Swedia. Mereka saling membantu dalam terciptanya gol.
Namun, ujian sesungguhnya baru akan tiba akhir pekan ini untuk Swedia.
Mereka akan menghadapi Belanda dan kemudian Jepang dalam laga penentuan peringkat akhir grup. Di mana Swedia akan finis?
"Kami hanya fokus pada apa yang bisa kami lakukan, kami fokus pada penampilan kami," ucap Potter usai melawan Tunisia.
"Tidak masalah apa yang orang pikirkan dari luar atau opini mereka. Itu indahnya Piala Dunia, semua orang punya prediksi dan ramalan, tetapi kita harus fokus pada tugas kita dan bagaimana kita bermain sebagai sebuah tim."
"Kami akan bertemu tim papan atas lainnya di akhir pekan yang merupakan salah satu favorit dalam kompetisi ini," tambahnya.
Baca juga: Klasemen Grup F Piala Dunia 2026: Swedia Menggila, Jepang Buktikan Status Kuda Hitam
Penampilan terbaik Swedia di Piala Dunia terjadi 68 tahun yang lalu, ketika bertindak sebagai tuan rumah dan finis sebagai runner-up di belakang Brasil.
Swedia ketika itu dibesut oleh pelatih asal Inggris, George Raynor.
Kemudian, Swedia mencapai hal baik lainnya ketika berlaga di Amerika Serikat tahun 1994 yang mana berhasil finis di peringkat ketika.
Apakah itu akan menjadi pertanda baik untuk Graham Potter dan timnas Swedia? Pelatih asal Inggris dan venue Piala Dunia di Amerika Serikat.
(Tribunnews.com/Sina)