TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG – Mamluatur Rahmah, seorang putri buruh terasi asal Desa Bonang, Kabupaten Rembang, sukses mendobrak keterbatasan ekonomi dengan meraih gelar akademik tertinggi.
Ia resmi menyandang gelar doktor setelah menyelesaikan studi S3 di UIN Walisongo Semarang melalui skema Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kementerian Agama, pada Rabu (10/6/2026).
Keberhasilan perempuan yang akrab disapa Rahmah ini menjadi kisah inspiratif anak buruh terasi yang berhasil mematahkan skeptisisme lingkungan sekitar mengenai pendidikan perempuan.
Bagi Rahmah, keterbatasan finansial keluarga justru menjadi bahan bakar utama untuk membuktikan bahwa anak dari latar belakang keluarga prasejahtera mampu bersaing di tingkat tertinggi akademik.
"Banyak yang bilang, ‘Ngapain sekolah tinggi-tinggi, nanti ujungnya di dapur juga.’ Tapi saya ingin membuktikan bahwa perempuan, dari latar belakang ekonomi apa pun, berhak memiliki intelektualitas," ujar Rahmah usai menjalani sidang promosi doktor di Gedung Pascasarjana UIN Walisongo.
Baca juga: CBR Series Melesat Kencang, Astra Honda Racing Team Borong Tiga Podium ARRC Motegi
Ibu dan Beasiswa BIB Kemenag Jadi Kunci Sukses
Perjalanan Rahmah sebagai mahasiswa S3 UIN Walisongo tidaklah mudah. Ia mengaku sempat menghadapi titik jenuh saat menyusun tugas akhir. Namun, ingatan akan perjuangan keras ibunya yang setiap hari bergelut dengan udang rebon di Rembang menjadi kekuatannya untuk bangkit.
"Setiap kali saya merasa lelah menulis disertasi, saya selalu membayangkan tangan ibu saya. Tangan yang kasar karena setiap hari menjemur dan mengolah terasi. Saya tidak punya hak untuk menyerah ketika beliau saja tidak pernah menyerah menyekolahkan saya," kenangnya dengan mata berkaca-kaca.
Di samping faktor internal keluarga, dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta ini menegaskan bahwa impiannya mustahil terwujud tanpa adanya program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB).
Program ini merupakan kolaborasi strategis antara Kemenag dan LPDP yang menyasar kader-kader unggul dari lingkungan pesantren dan pendidikan Islam.
Menurutnya, beasiswa penuh tersebut bukan hanya sekadar bantuan finansial, melainkan bentuk nyata kehadiran negara dalam memberikan martabat dan kesempatan yang setara bagi anak-anak kurang mampu.
Riset Tasawuf dan Psikologi Lansia Raih Apresiasi Tinggi
Dalam disertasinya, Dr. Mamluatur Rahmah meneliti fenomena psikologis mengenai tingkat kecemasan kematian pada lansia di Pondok Pesantren Payaman, Magelang.
Melalui pendekatan yang mendalam, ia berhasil mengintegrasikan teori tasawuf dengan psikologi modern secara tajam. Hasil riset tersebut mendapat apresiasi tinggi dari para dewan penguji sidang.
Kini, perempuan yang juga aktif sebagai pengurus Lembaga Kesehatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Sukoharjo ini berharap keberhasilannya bisa memotivasi generasi muda lain yang memiliki keterbatasan serupa.
"Jangan pernah membatasi mimpi kalian hanya karena melihat dompet orang tua. Selama ada peluang dan kemauan, pasti ada jalan. Pemerintah sudah menyediakan banyak fasilitas seperti BIB ini. Tugas kita hanya belajar lebih keras dari orang lain dan jangan pernah melupakan doa orang tua," pungkas istri dari Abdus Salam tersebut. (*)