Medan (ANTARA) - Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengajak masyarakat terutama para calon siswa dan orang tuanya melihat langsung proses belajar mengajar, pengasuhan, serta perubahan yang terjadi pada siswa setelah ditempa di Sekolah Rakyat.

Ajakan tersebut ia sampaikan secara langsung dalam acara Open House Sekolah Rakyat di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, Sumatera Utara, Senin.

"Dulunya anak-anak ini tidak seperti sekarang. Lebih disiplin, percaya diri, pintar, dan optimis menghadapi masa depan. Ini hal yang kita syukuri bersama,” katanya.

Open House itu. lanjutnya, menjadi kesempatan bagi calon siswa dan orang tua untuk melihat langsung sistem belajar, suasana asrama, dan lingkungan pendidikan Sekolah Rakyat. Hal ini untuk memberikan gambaran utuh mengenai proses pendidikan yang akan ditempuh calon siswa.

Ia menegaskan ada tiga hal yang tidak boleh terjadi di Sekolah Rakyat, yaitu perundungan, kekerasan seksual atau kekerasan fisik, serta intoleransi.

“Tidak boleh menghina siapa pun, meremehkan dan merendahkan siapa pun. Tidak boleh ada kekerasan seksual atau kekerasan fisik. Tidak boleh ada intoleransi,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa Sekolah Rakyat merupakan bagian dari upaya pengentasan kemiskinan. Anak-anak yang mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat diarahkan menjadi generasi pintar, berkarakter, dan terampil.

“Lulusan Sekolah Rakyat di masa mendatang ada yang jadi guru, ada yang jadi seniman. Pokoknya jadi apapun dengan keterampilan yang cukup. Itulah harapan Bapak Presiden,” ujar Gus Ipul.

Gus Ipul menyampaikan bahwa perhatian Presiden Prabowo terhadap anak-anak Sekolah Rakyat sangat besar. Salah satu bentuknya adalah pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat di berbagai daerah.

Saat ini terdapat 104 titik Sekolah Rakyat gedung permanen. Untuk Kota Medan, Sekolah Rakyat Permanen akan menerima 270 siswa dengan kuota 90 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA.