Kenaikan BBM Picu Penyusutan Ukuran Tahu Tempe, Pedagang: Kami Kurangkan Bahan
Mesya Marasabessy June 15, 2026 08:52 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Novanda Halirat

AMBON, TRIBUNAMBON.COM- Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia, menjadi sorotan utama di kalangan pelaku usaha kecil, khususnya pengrajin tahu dan tempe. 

Lonjakan harga ini terjadi di tengah kondisi pasar global yang tidak stabil, sehingga berdampak langsung pada biaya produksi harian para pengrajin.

Pengarajin tahu dan tempe menggunakan BBM jenis Solar yakni Non-Subsidi. 

Hal ini mengakibatkan mereka tak dapat membeli langsung ke Pertamina tetapi melalui pengencer. 

Salah satu pengusaha tempe dan tahu yang terkena dampak, Erna Purwati (50), yang beralamat di RT 004/RW 002, Kelurahan Rijali, Negeri Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. 

Ia menjelaskan, dalam sehari untuk produksi tahu dan tempe memerlukan paling sedikit 5 liter solar. 

"Biasanya yang lain itu belinya taru dimobil, nanti baru dipindahkan, kalau saya kan tidak punya mobil, jadi belinya di pengencer, setiap hari untuk produksi itu perlu 5 liter solar," katanya. saat di wawancarai TribunAmbon.com, Senin (15/6/2026). 

Baca juga: Kenaikan Harga BBM Jadi Tantangan Baru di Ambon, Pengusaha Muda Minta Jamin Pasokan

Baca juga: Anggotanya Dipolisikan Lantaran Tak Bayar Hak Pekerja, Reza Mony Bungkam

Tak hanya BBM, harga kedelai turut mengalami peningkatan, saat ini di Indonesia per kilogram berkisar Rp. 11 ribu hingga 13 ribu 500. 

Sementara harga kedelai sebelumnya dikisaran Rp. 9 ribu hingga Rp. 10 ribu per kilogramnya. 

Akibatnya pedagang harus menyusutkan ukuran atau menipiskan potongan tahu dan tempe tersebut. 

Meski begitu harga jual masih tetap sama. 

Untuk tahu dijual 6 potong Rp. 10 ribu, sedangkan tempe besar 4 potong Rp. 10 ribu dan tempe kecil 4 potong dibandrol Rp. 5 ribu. 

Erna menjelaskan, penyusutan ukuran terpaksa dilakukan ditengah kenaikan harga BBM saat ini. 

"Potongan lebih kecil atau tipis, kalau harga tetap kaya kemarin," ujarnya 

Sementara itu, terkait harga, Erna menyebutkan masyarakat belum bisa kenaikan harga tersebut. 

Ditakutkan nantinya jumlah minat pembeli bakal berturut dan akan berdampak pada produksi tersebut. 

"Soalnya kalau kita rubah harga, masyarakat belum bisa trima, jadi sementara ini kita kurangi saja," tuturnya. 

Tak hanya kenaikan BBM dan Kedelai, plastik tempe juga turut terdampak. 

Kenaikan ini ditaksir hampir dua kali lipat dari harga sebelumnya. 

Erna menjelaskan, plastik sebelumnya dijual Rp. 1 juta sekarang naik menjadi Rp. 1,9 juta sekali beli. 

Meski begitu, BBM menjadi sorotan utama mereka pengajian tahu san tempe di Kota Ambon. 

Dirinya berharap, pemerintah dapat membantu memberikan solar subsidi, sehingga mereka bisa membeli di pertamina dan tidak di pengencer. 

"Semoga pemerintah bisa mengsubsidikan BBM jenis solar kepada tempat produksi tahu dan tempe, sehingga tidak macet pasca kenaikan harga bahan dan BBM saat ini," harapnya (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.