- Tradisi Kirab Malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta selalu menjadi perhatian masyarakat setiap tahunnya.
Bagian yang paling dinanti dalam prosesi tersebut adalah kehadiran Kebo Bule yang berjalan di barisan paling depan sebagai pembuka rangkaian kirab pusaka.
Di balik kemunculannya yang hanya terlihat setahun sekali, Kebo Bule ternyata mendapat perawatan rutin setiap hari oleh para abdi dalem yang ditugaskan khusus menjaga hewan sakral milik keraton tersebut.
Satu di antara perawat Kebo Bule (Srati Mahesa) Keraton Surakarta, Heri Sulistyo, mengatakan dirinya mendapat amanah langsung dari keraton untuk merawat seluruh kerbau yang menjadi bagian penting dalam tradisi budaya tersebut.
“Nama saya Heri Sulistyo, saya ditugaskan dari keraton untuk merawat kerbau dari keraton. Itu namanya Srati, Srati Mahesa,” ujar Heri saat ditemui Tribun-Video.com pada Kamis (11/6/2026).
Saat ini, jumlah Kebo Bule yang dirawat di lingkungan keraton mencapai 16 ekor.
Jumlah itu bertambah setelah seekor indukan baru melahirkan anak kerbau sekitar satu bulan lalu.
“Ini ada 15 kerbau, beranak satu terus jadi 16 kerbau. Ini baru satu bulan kemarin beranak, baru umur satu bulan,” katanya.
Dalam keseharian, Heri bersama dua orang lainnya bertugas memastikan seluruh kerbau mendapatkan perawatan maksimal.
“Kalau setiap harinya ada tiga orang. Ada yang bersih-bersih, ada yang memberi pakan, jadi aktivitasnya beda-beda,” ucapnya.
Perawatan dimulai sejak pagi hari. Heri mengaku dirinya tinggal di area sekitar kandang sehingga aktivitas merawat kerbau dilakukan hampir sepanjang hari, mulai memberi makan hingga membersihkan kandang.
“Kalau saya tidur di sini, jadi dari pagi bangun habis Subuh, terus beri makan kerbau sekitar jam 07.00 WIB. Setelah itu aktivitasnya bersih-bersih kandang,” jelas Heri.
Pemberian pakan dilakukan hingga empat kali sehari, dengan jenis makanan yang bervariasi mulai dari jagung, kalanjana, ketela, hingga rumput yang menjadi makanan utama.
Jika ada kerbau yang mengalami gangguan kesehatan atau sulit makan, Heri akan langsung meminta bantuan tenaga medis untuk penanganan lebih lanjut.
“Kalau ada yang susah makan, saya panggilkan dokter hewan. Kadang kalau enggak mau makan atau sakit, ya panggilkan dokter hewan,” ujar dia.
Tak hanya dirawat secara fisik, Kebo Bule juga memiliki perlakuan khusus ketika ada anak kerbau yang baru lahir.
Menurut Heri, dalam tradisi keraton, anak kerbau yang lahir akan dibuatkan acara bancakan setelah berumur lima hari atau sepasar, sekaligus diberikan nama.
“Kerbau melahirkan biasanya sepasar, lima hari. Dari keraton disuruh diberi bancakan anak kecil itu dan diberi nama,” katanya.
Ia menyebut setiap kerbau memiliki karakter jinak karena sudah terbiasa berinteraksi dengan para perawat setiap hari.
“Sebenarnya semuanya jinak, tapi kalau ada yang beri makan saling berebut saja. Kan setiap hari memelihara jadi hafal, dipanggil ya datang,” ungkapnya.
Kebo Bule sendiri dikenal luas karena selalu menjadi bagian utama dalam Kirab Malam 1 Suro.
Dalam prosesi itu, kerbau ditempatkan di posisi paling depan sebagai Cucuk Lampah atau pembuka jalan.
Heri mengaku mengawal langsung dari belakang saat prosesi berlangsung bersama beberapa petugas lain yang bertugas menjaga arah gerak kerbau selama kirab berjalan.
“Kerbau kan kirab pusaka, termasuk depan sendiri. Soalnya Cucuk Lampah kan kerbau ini. Kalau saya di belakangnya kerbau, di depan biasanya dua, samping satu-satu. Ada tugasnya sendiri-sendiri,” jelasnya.
Ia juga pernah menghadapi situasi tak terduga ketika salah satu kerbau sempat berbalik arah akibat terkejut oleh suara kendaraan saat Kirab Malam 1 Suro berlangsung.
“Waktu Malam 1 Suro itu kaget karena suara kendaraan, jadi kerbaunya balik arah sampai mau masuk Gladak kembali ke alun-alun. Tapi sudah diantisipasi, pintunya ditutup, akhirnya bisa jalan lagi,” kata Heri.
Bagi masyarakat, Kebo Bule mungkin hanya terlihat saat kirab berlangsung.
Namun di balik tradisi yang terus berlangsung turun-temurun di Keraton Surakarta, terdapat perawatan intensif setiap hari untuk menjaga keberlangsungan simbol budaya yang sudah melekat selama bertahun-tahun. (*)
Program: Local Experience
Editor: Faiz Fadhilah
#KirabMalam1Suro #malam1suro #kirabpusaka #keratonsolo #surakarta #kebobule #tradisi #budayajawa #malam1suro2026