Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU TENGAH - Sebanyak 31 siswa di Kabupaten Bengkulu Tengah tercatat putus sekolah dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Bupati Bengkulu Tengah Rachmat Riyanto berencana menunjuk sejumlah pejabat di lingkungan pemerintah daerah sebagai bapak angkat guna mendampingi, memotivasi, dan membantu para siswa agar dapat kembali melanjutkan pendidikan mereka.
Rachmat Riyanto mengaku, prihatin setelah menerima informasi adanya 31 siswa SD dan SMP yang dinyatakan tidak lulus karena tidak mengikuti Ujian Akhir Sekolah (UAS) akibat putus sekolah.
Sejak awal dirinya telah menginstruksikan agar tidak ada anak di Bengkulu Tengah yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan karena alasan apa pun.
"Kalau memang ada anak-anak kita, terutama di SD, yang tidak ikut UAS kemudian tidak lulus, tentu sangat disayangkan," kata Rachmat.
Ia mengaku baru menerima informasi tersebut dan akan segera meminta penjelasan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Bengkulu Tengah terkait penyebab para siswa tersebut berhenti sekolah.
Menurut Rachmat, pemerintah daerah tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum memperoleh data yang lengkap mengenai kondisi masing-masing siswa.
Karena itu, ia berencana memanggil Kepala Dinas Dikbud untuk melakukan penelusuran lebih lanjut.
"Kita akan cari tahu lagi. Kita akan mengambil treatment khusus untuk ini, kita akan cari semua masalahnya, lalu kita coba bantu atasi masalah-masalah itu," ucap Rachmat.
Baca juga: HUT ke-18 Bengkulu Tengah Digelar Meriah, Tabligh Akbar hingga Paripurna Istimewa Sudah Disiapkan
Berdasarkan informasi awal yang diterimanya, sebagian siswa SMP diduga memilih bekerja dan meninggalkan bangku sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Jika hal tersebut terbukti menjadi penyebab utama, Pemkab Bengkulu Tengah menyiapkan langkah khusus agar anak-anak tersebut dapat kembali melanjutkan pendidikan.
"Kalau memang itu persoalannya, kita akan coba cari solusinya," kata Rachmat.
Bahkan, ia berencana melibatkan para pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan ekonomi.
"Bila perlu nanti kita tunjuk beberapa kepala dinas untuk menjadi bapak angkatnya, supaya mereka bisa melanjutkan sekolah," tambahnya.
Menurut Rachmat, skema tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian pemerintah daerah untuk memastikan tidak ada anak yang terpaksa putus sekolah karena persoalan biaya.
"Kalau memang persoalannya ekonomi, artinya kita coba berbagi nanti," katanya.
Rachmat menegaskan bahwa upaya menekan angka putus sekolah menjadi salah satu komitmennya selama memimpin Kabupaten Bengkulu Tengah.
"Saya sudah bertekad, selama kepemimpinan saya ini tidak ada anak-anak kita yang putus sekolah," tegasnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa pemerintah daerah masih membutuhkan laporan lengkap dari Dikbud sebelum menentukan langkah lanjutan.
"Kita cari tahu dulu persoalannya apa. Setelah mendapatkan informasi yang valid, baru kita sampaikan langkah-langkah yang akan diambil," tutup Rachmat.