TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG – Sejarawan nasional Prof. Dr. Anhar Gonggong menilai Jenderal TNI (Purn.) Bambang Utoyo memiliki peran penting menjaga soliditas TNI pada masa awal kemerdekaan RI.
Ia disebut sebagai figur pemersatu yang dipercaya negara untuk menjaga stabilitas militer di tengah konflik internal Angkatan Darat.
Hal itu disampaikan Anhar dalam Seminar Nasional Nilai-Nilai Perjuangan Jenderal Bambang Utoyo di Gedung Soedirman Kodam II/Sriwijaya, Senin (15/6/2026), yang hadir secara Zoom.
Seminar dihadiri Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis, Kepala Dinas Sejarah Angkatan Darat Brigjen TNI Teddy Arifiyanto Setimiharja, Kasubdirektorat Pelestarian Sejarah Kemenbud RI Agus Hermanto, Kolonel Purn. Drs. Jeni Akmal, sejarawan Unsri Drs. Syafruddin Yusuf, Ketua Tanfidziyah PWNU Sumsel KH. Hendra Zainuddin Al Qodiri, serta keluarga Bambang Utoyo. Anhar sendiri memaparkan materi melalui sambungan Zoom.
Menurut Anhar, pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945 Indonesia menghadapi persoalan internal, termasuk di lingkungan militer. Salah satunya ketegangan antara sebagian pimpinan militer dengan parlemen pada Peristiwa 17 Oktober 1952.
Di tengah dinamika itu, Presiden Soekarno menunjuk Bambang Utoyo sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Penunjukan didasarkan pada kapasitas kepemimpinan dan kemampuannya membangun komunikasi antarkelompok di tubuh TNI.
"Bambang Utoyo dianggap perwira yang mampu memberikan ruang bagi berbagai kelompok berbeda pandangan untuk tetap berada dalam satu tujuan, yaitu menjaga NKRI," kata Anhar.
Ia menambahkan, nilai penting dari Bambang Utoyo adalah kemampuannya menjaga persatuan di tengah perbedaan. Meski persoalan internal belum selesai sepenuhnya, Bambang Utoyo berupaya menjaga persatuan dan profesionalisme militer.
Putra Jenderal Bambang Utoyo, Indra Bambang Utoyo, mengaku bersyukur atas usulan gelar Pahlawan Nasional yang diajukan PWNU Sumsel.
"Kami bahagia dan berterima kasih kepada NU Sumsel yang telah mengajukan orang tua kami sebagai calon Pahlawan Nasional. Ini bentuk penghormatan berarti bagi keluarga," ujar Indra.
Ketua Tim Pengusul, Kemas Khoirul Mukhlis, mengatakan usulan telah diajukan DPW NU Sumsel sejak tahun lalu. Pada Mei 2026, berkas diserahkan ke Dinas Sosial Kota Palembang untuk diverifikasi secara berjenjang hingga kementerian.
Kasubdirektorat Pelestarian Sejarah Kemenbud RI Agus Hermanto menjelaskan, penetapan Pahlawan Nasional memiliki proses panjang sesuai undang-undang. Usulan yang memenuhi syarat administratif, akademis, dan historis akan disampaikan Menteri Sosial kepada Presiden.
"Penetapan Pahlawan Nasional berjenjang. Kami menyambut positif inisiatif masyarakat mengusulkan tokoh daerah menjadi Pahlawan Nasional," pungkas Agus.
Selain dikenal sebagai pejuang kemerdekaan sejak 1946, Bambang Utoyo juga memiliki karier militer yang cemerlang.