TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Kondisi perekonomian masyarakat kecil nampaknya kini sedang dalam cobaan.
Tidak hanya pedagang yang menyampaikan keluhan, juru parkir pun juga menyampaikan keluhan.
Sebab pendapatan mereka kini kian menurun.
Hal ini diduga karena banyak masyarakat sekarang menerapkan efisiensi pengeluaran imbas naiknya biaya-biaya dan harga-harga.
Ini dirasakan oleh Jaya (65), juru parkir asal Tanah Sareal, Kota Bogor.
Pantauan TribunnewsBogor.com, Jaya merupakan salah satu juru parkir pertokoan di Jalan RE Martadinata.
Memakai rompi hijau terang, Jaya tetap semangat melakoni pekerjaannya meski usia tak lagi muda.
Meski begitu, dia akui bahwa pendapatannya memang kini memang anjlok.
"Sekarang itu pendapatan berkurang, harga pada naek," kata Jaya kepada TribunnewsBogor.com, Senin (15/6/2026).
Dulu dia Jaya mengaku bisa mendapat uang parkir hingga Rp300.000-400.000 selama 24 jam, namun kini Rp150.000 pun sulit.
Karena harga komoditas untuk dapur di rumah juga naik, terkadang penghasilannya tak cukup untuk dapur.
Alhasil, untuk menutupi kebutuhan dapur, dia mengandalkan uang simpanan.
"Jadi kan saya punya simpenan, kepake terus buat keperluan. Kan sepi nih, jadi nombokin lah buat di rumah," katanya.
"Kalau dulu mah masih bisa nyimpen uang, ada lebihnya, sekarang gak bisa. Kerasanya abis lebaran aja (sekitar Maret 2026), nyari duit jadi susah," kata Jaya.
Dia pun khawatir, jika kondisi ini terus berlangsung lama, uang simpanannya bisa habis.
Sementara di rumahnya ada istri dan dua anaknya juga harus tetap makan.
"Kalau gini terus habis lah simpenan lama-lama," kata Jaya.
Jaya juga menyadari kondisi ini dirasakan orang-orang lain di sekitarnya di Kota Bogor.
"Pokoknya tahun 2026 pada menurun pendapatan, nyari duit susah. Saya ngobrol sama sopir angkot dia juga mengeluh penumpangnya gak ada, tukang ojek juga sama mengeluh," kata Jaya.
Meski demikian, Jaya mengaku tetap berusaha tanpa banyak memikirkan hal itu.
Dia berharap ke depan kondisi kembali membaik seperti sebelumnya.
"Saya nikmatin aja, gak dibawa pikiran, kalau dipikirin terus bisa stress. Ada makan, gak ada ya udah, yang penting kita udah usaha," ungkapnya.
Diketahui, perubahan pendapatan ini dirasakan diduga dipicu perang yang pecah di Timur Tengah yang menyebabkan bahan baku impor terhanggu sehingga menyebabkan sejumlah komoditas naik.
Kondisi ini kemudian disusul dengan Rupiah yang melemah kemudian kenaikan harga BBM nonsubsidi.