TRIBUNJATENG.COM, BREBES - Wakil Bupati Brebes Wurja meresmikan tempat pengelolaan sampah terintegrasi yang difokuskan untuk mengolah limbah dari dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Forum Mitra Ketahanan Gizi Brebes wilayah Kecamatan Losari pada Senin 16 Juni 2026.
Berlokasi di Desa Dukuhsalam, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, TPS Terintergrasi itu menempati lahan seluas 11.000 meter persegi dan menjadi yang pertama di Brebes yang secara khusus menangani sampah dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ketua Forum Mitra Ketahanan Gizi Brebes wilayah Losari, Muhaemin, mengatakan terdapat 10 dapur SPPG di Kecamatan Losari yang setiap hari menghasilkan sekitar dua ton sampah.
Baca juga: Jaga Kepercayaan Publik lewat Tata Kelola Keuangan, Pemkab Brebes Raih WTP dari BPK
"Dari total dua ton sampah itu, sekitar 85 persen merupakan sampah organik dan sisanya anorganik," ujarnya.
Menurut dia, sebagian besar sampah organik tersebut akan diolah menggunakan sistem biopon maggot.
Berdasarkan perhitungan petugas lapangan Dinas Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sampah (DLHPS) Brebes, sebanyak 200 biopon maggot mampu mengurai sekitar 85 persen limbah organik yang dihasilkan dapur-dapur SPPG di Losari.
Saat ini, fasilitas tersebut telah memiliki 32 biopon yang siap digunakan.
Setiap biopon diisi satu kilogram bibit maggot yang berpotensi menghasilkan hingga lima kilogram maggot dewasa.
"Selain mengurangi sampah, hasil budidaya maggot juga memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun perikanan," ungkapnya.
Muhaemin menjelaskan, inisiatif pembangunan tempat pengelolaan sampah terintegrasi itu lahir dari kesadaran para pengelola dapur SPPG untuk turut bertanggung jawab dalam penanganan sampah.
"Kami berharap fasilitas ini dapat membantu pengelolaan sampah di Kabupaten Brebes, khususnya di lingkungan dapur SPPG," tambahnya.
Wakil Bupati Brebes, Wurja mengapresiasi langkah yang dilakukan Forum Mitra Ketahanan Gizi.
Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut menjadi solusi konkret di tengah persoalan sampah yang terus bertambah setiap hari.
"Kalau berbicara sampah, setiap hari jumlahnya terus menumpuk. Karena itu, keberadaan tempat pengelolaan sampah terintegrasi ini sangat baik untuk membantu menekan volume sampah, khususnya dari lingkungan SPPG," ujarnya.
Wurja berharap program tersebut tidak berhenti pada tahap peresmian semata, tetapi terus dikembangkan agar memberikan dampak yang lebih luas, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi.
"Jangan hanya menjadi kegiatan seremonial. Harus ada gerakan nyata dan tindak lanjut yang berkelanjutan, apalagi di dalamnya terdapat potensi nilai ekonomi," tegasnya.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Brebes, Arya Dewa Nugroho, menyambut baik kehadiran fasilitas tersebut.
Arya menilai langkah yang dilakukan paguyuban dapur SPPG di Losari dapat menjadi contoh bagi dapur-dapur lainnya di Kabupaten Brebes.
"Ini merupakan langkah yang sangat baik dalam mengurangi sampah. Kami berharap model seperti ini dapat ditiru oleh dapur-dapur lain di Brebes," katanya.
Berdasarkan data DLHPS Kabupaten Brebes, volume sampah yang dihasilkan di wilayah tersebut mencapai sekitar 1.300 ton per hari.
Kehadiran tempat pengelolaan sampah terintegrasi berbasis maggot di Losari diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi beban sampah sekaligus menciptakan nilai tambah dari limbah organik yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. (pet)
Baca juga: Sumedang Lirik Waduk Malahayu Brebes dalam Pengelolaan Budidaya Ikan Tawar