Spanyol memulai perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan hasil yang mengecewakan setelah hanya mampu bermain imbang 0-0 melawan debutan turnamen, Tanjung Verde. Meski diperkuat oleh deretan bintang kelas dunia, sang juara Eropa gagal menembus pertahanan solid tim asal Afrika tersebut.
Rodri kesal dengan pendekatan bertahan lawan
Kapten Spanyol, Rodri, tidak menahan diri saat menilai penampilan Tanjung Verde usai timnya ditahan imbang pada laga pembuka Grup H. Gelandang Manchester City itu menilai lawan bermain tanpa ambisi untuk menyerang, lebih memilih bertahan rapat di area mereka sendiri sepanjang pertandingan.
Berbicara kepada La 1 setelah peluit akhir berbunyi, Rodri mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap taktik tim debutan tersebut. “Ini memang bukan hasil yang kami inginkan. Tidak banyak yang bisa dikeluhkan,” ujarnya. “Kami tahu pertandingan ini membutuhkan kesabaran. Mereka bertahan sangat dalam dan cepat mundur. Kami tidak bisa mencetak gol. Kami menciptakan peluang, tapi gagal memanfaatkannya. Hal positifnya, mereka hampir tidak menciptakan peluang melawan kami. Kami harus memperbaiki penyelesaian akhir.”
Saat ditanya lebih jauh mengenai gaya bermain lawan, Rodri menambahkan: “Itulah cara mereka bermain. Mereka bahkan tidak melewati garis tengah. Kami hanya perlu lebih baik dalam penyelesaian akhir.”
Kekecewaan La Roja di Atlanta
Skuad asuhan Luis de la Fuente menguasai bola hampir sepanjang laga di Stadion Mercedes-Benz, namun kurang tajam untuk memecah kebuntuan. Ferran Torres nyaris mencetak gol ketika tendangannya membentur mistar, sementara beberapa peluang lain terbuang sia-sia oleh lini depan Spanyol yang tampil tumpul melawan tim peringkat 65 dunia tersebut.
Bahkan masuknya sensasi muda Barcelona, Lamine Yamal, pada 20 menit terakhir tidak mampu menghadirkan gol yang sangat dibutuhkan. Hasil imbang ini membuat para juara Euro 2024 harus bekerja ekstra keras di laga-laga grup selanjutnya demi mendapatkan jalur yang menguntungkan menuju babak gugur turnamen yang diperluas ini.
Vozinha jadi pahlawan bagi Blue Sharks
Sementara Rodri diliputi frustrasi, suasana di kubu Tanjung Verde justru penuh kegembiraan. Para debutan yang mewakili negara berpenduduk hanya sekitar 525.000 jiwa itu merayakan hasil imbang ini seolah meraih kemenangan. Pahlawan utama mereka adalah kiper berusia 40 tahun, Vozinha, yang melakukan sejumlah penyelamatan penting untuk menggagalkan peluang Spanyol.
Vozinha, yang mencatat penampilan ke-90 untuk negaranya dalam laga tersebut, tampak emosional setelah pertandingan usai. Setelah menerima penghargaan Pemain Terbaik, sang penjaga gawang veteran berkata: “Ini pertandingan yang luar biasa. Kami bekerja sangat keras untuk momen dan mimpi ini. Kami sangat bangga. Kami tahu ini tidak akan mudah.”
Tanjung Verde buktikan kualitas mereka
Hasil ini menjadi pernyataan besar bagi sepak bola Afrika, khususnya Tanjung Verde, yang sebelumnya diprediksi akan menjadi tim terlemah di Grup H. Namun, pertahanan disiplin mereka membuktikan bahwa mereka pantas berada di panggung dunia, terlepas dari kritik yang datang dari kubu Spanyol.
Vozinha menegaskan bahwa timnya datang ke Amerika Serikat bukan sekadar untuk berpartisipasi. “Kami datang ke Piala Dunia untuk bersaing,” ujarnya. “Saya tahu ada orang yang menganggap kami tim kecil dan lemah, tetapi kami ada di sini untuk bertarung dan memberikan yang terbaik.”
Sejauh mana Spanyol akan melangkah di Piala Dunia?