SERAMBINEWS.COM - Peneliti Pusat Studi Strategis di Teheran, Ali Akbar Dareini, menilai Iran telah mengambil langkah cerdas dalam kesepakatan terbaru dengan Amerika Serikat.
Menurutnya, Teheran berhasil mengamankan keuntungan awal berupa pencairan sebagian aset Iran yang selama ini dibekukan, bahkan sebelum seluruh isi kesepakatan dijalankan sepenuhnya.
“Jika Amerika tidak mematuhi kewajiban mereka dan nota kesepahaman (MOU) ini runtuh, Iran tetap berada di posisi aman. Iran sudah lebih dulu mendapatkan konsesi dan sebagian asetnya yang dibekukan, aset yang kini sudah berada di tangannya,” ujar Dareini dalam wawancara dengan Al Jazeera, Senin.
Ia menambahkan, salah satu kemenangan terbesar Iran dalam kesepakatan tersebut adalah janji Amerika Serikat, atas nama dirinya sendiri dan Israel, untuk mengakhiri perang di semua lini konflik, termasuk di Lebanon.
Baca juga: Iran: Serangan Israel ke Lebanon Harus Segera Berakhir, AS Bertanggung Jawab pada Kesepakatan
“Ini berarti pembatasan langsung terhadap kebebasan aksi militer Israel di Lebanon. Kesepakatan ini mencerminkan kedalaman komitmen Iran terhadap Lebanon secara umum dan terhadap Hizbullah secara khusus,” tegas Dareini.
Menurutnya, Israel selama ini dikenal enggan menerima pembatasan dalam operasi militernya.
Namun, kali ini MOU tersebut berpotensi memaksa Israel menghentikan agresinya terhadap Lebanon.
Dareini memperingatkan, jika kesepakatan itu dilanggar, Iran tidak akan tinggal diam.
“Israel tidak pernah mau dibatasi. Tetapi MOU ini dirancang untuk menghentikan agresi Israel di Lebanon. Jika mereka tidak mematuhinya, Iran akan bereaksi,” katanya.
Dareini menutup dengan menekankan bahwa situasi ini menjadi momen krusial bagi kepemimpinan Amerika Serikat.
“Ini adalah ujian penting untuk melihat apakah Donald Trump benar-benar memiliki kemauan politik untuk menjinakkan Israel,” pungkasnya.(*)