Politisi Israel Kecam Netanyahu, Kesepakatan AS–Iran Disebut Kegagalan Strategis Terbesar Israel
Ansari Hasyim June 16, 2026 10:41 AM

 

SERAMBINEWS.COM - Washington dan Teheran sepakat menghentikan secara segera dan permanen seluruh operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon.

Kecaman juga disampaikan Benny Gantz, ketua Partai Biru Putih dan mantan menteri pertahanan Israel. Ia menilai perjanjian AS–Iran sebagai kegagalan strategis yang akan berdampak panjang bagi Israel.

“Perjanjian yang muncul dengan Iran tampaknya merupakan kegagalan strategis yang mengharuskan Israel terlibat dalam perjuangan diplomatik, militer, dan hukum di tahun-tahun mendatang,” tulis Gantz di X. Ia menegaskan, dalam keadaan apa pun Israel tidak boleh menyetujui pembatasan kebebasan bertindaknya di Lebanon atau melakukan penarikan yang membahayakan penduduk wilayah utara.

Nada keras juga datang dari Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir. Ia menegaskan bahwa kesepakatan AS–Iran tidak mengikat Israel.

“Israel tidak tunduk pada Amerika Serikat. Kami adalah negara yang merdeka dan berdaulat,” kata Ben-Gvir.

Ia menyatakan tetap menghormati AS dan berterima kasih kepada Presiden Donald Trump, namun menegaskan bahwa Israel bukan “republik pisang.”

Baca juga: Iran: Serangan Israel ke Lebanon Harus Segera Berakhir, AS Bertanggung Jawab pada Kesepakatan

“Kami bukan mitra dalam perjanjian ini yang tidak mengkhawatirkan keamanan kami, dan tidak mengikat kami dengan cara apa pun,” ujarnya. Ben-Gvir menegaskan Israel tidak boleh berkompromi kecuali dengan pembongkaran penuh Hizbullah, serta menolak penarikan dari wilayah yang telah dikuasai dan dibersihkan dari infrastruktur teroris.

Menteri Keuangan Bezalel Smotrich turut mengecam kesepakatan tersebut. Ia menyebut perjanjian AS–Iran sebagai sesuatu yang “buruk bagi Israel dan bagi seluruh dunia bebas.”

Menurut Smotrich, kampanye militer bersama telah menghasilkan banyak pencapaian dalam melemahkan Iran dan tidak seharusnya disia-siakan.

“Kita harus melanjutkan kampanye untuk menggulingkan rezim itu sendiri dengan cara-cara kreatif, dan memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” katanya.

Ketegangan kawasan meningkat sejak akhir Februari, setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran yang menewaskan lebih dari 3.000 orang.

Teheran kemudian membalas dengan serangan ke negara-negara Teluk dan Israel, serta membatasi pelayaran melalui Selat Hormuz.

AS dan Iran sempat mencapai gencatan senjata sementara pada 8 April melalui mediasi Pakistan.

Setelah itu, kedua pihak mengumumkan kesepakatan kerangka kerja untuk mengakhiri konflik, yang dijadwalkan akan ditandatangani di Swiss pada 19 Juli mendatang.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.