KH Suyuti Toha dan Romo Fadjar Reuni, Dapur Ponpes Mansyaul Huda Banyuwangi Kunci Moderasi Beragama
Adrianus Adhi June 16, 2026 12:32 PM

SURYA.co.id, Banyuwangi - Moderasi beragama bukan sekadar teori, melainkan praktik nyata yang terukur dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tercermin dari pertemuan penuh kehangatan antara KH Fathulloh Suyuti Toha dan Rm Damianus Fadjar Tedjo Soekarno di Banyuwangi.

Pertemuan itu berlangsung Minggu malam (14/6/2026) di Ponpes Mansyaul Huda Banyuwangi, Jawa Timur menjadi momentum penting. KH Suyuti Toha, ulama kharismatik, menerima kunjungan Rm Fadjar Tedjo Soekarno, Pastor Paroki St. Paulus Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur. 

Kehadiran Rm Fadjar sekaligus mengantarkan AM Putut Prabantoro, alumnus PPSA XXI Lemhannas RI.

Kunjungan ini merupakan balasan dari pertemuan dua pekan sebelumnya di Yogyakarta. Saat itu, rombongan KH Suyuti Toha dipimpin Mayjen TNI (Purn) Herianto Syahputera berkunjung ke kediaman Putut Prabantoro.

Putut Prabantoro, pendiri Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia, menilai pertemuan kali ini penting.

“Pertemuan Banyuwangi menindaklanjuti pesan pertemuan pertama sekaligus ajang reuni lintas generasi,” ujarnya.

Simpul yang mempertemukan mereka adalah Rm Fadjar. Dalam kunjungan ke Banyuwangi, Rm Fadjar didampingi Lambertus Widiantoro, wartawan Lucius Gora Kunjana, dan Samudra Hasni Shodiq.

Pertemuan juga dihadiri tokoh lokal seperti Sandi Suwardi Hasan, Syaiful Rizal, serta akademisi Universitas PGRI Banyuwangi.

KH Suyuti menegaskan pertemuan ini wujud ukhuwah. “Majelis Nurul Wathon memperjuangkan ukhuwah wathaniyah, persaudaraan sebangsa, dan ukhuwah basyariyah, persaudaraan kemanusiaan universal,” katanya.

Tradisi Gendong dan Dapur sebagai Kunci Moderasi

Persahabatan KH Suyuti dan Rm Fadjar telah terjalin sejak 25 tahun lalu. Pertemuan di Banyuwangi menjadi reuni setelah 10 tahun tidak berjumpa.

Saat bertemu, Rm Fadjar langsung memeluk dan menggendong KH Suyuti, tradisi yang selalu mereka lakukan.

Rm Fadjar mengenang pondok tersebut sebagai tempat berdiskusi panjang dengan KH Suyuti.

“Kami berbicara bukan soal agama, tapi tentang bangsa, negara, dan spiritual tingkat tinggi,” ujarnya.

Tradisi menerima tamu dengan duduk bersila tanpa kursi tetap dijaga.

“Saya melihat Mbah Yai dan Romo Fadjar sangat dekat karena punya semangat yang sama soal persaudaraan sejati,” kata Sandi Suwardi Hasan, saksi kedekatan mereka.

Setelah dua jam berbincang, KH Suyuti mengajak santap malam di ruang makan dekat dapur rumah lama.

Bagi santri, ruang makan dan kamar pribadi adalah tempat sakral. Rm Fadjar menilai ajakan itu sebagai simbol penerimaan mendalam.

“Dapur adalah kunci. Jika seseorang diajak makan di dapur, berarti ia dianggap lebih dari saudara,” jelas Rm Fadjar.

Ia menambahkan, meja makan menjadi simbol keberhasilan moderasi beragama.

Santap malam berlangsung penuh keakraban. Kedua tokoh duduk bersama, berseloroh, bahkan minum dari gelas yang sama.

KH Suyuti tampak bahagia dengan pelayanan tulus dari Rm Fadjar.

Perbincangan berlanjut di halaman masjid hingga larut malam. Pertemuan ditutup dengan pelukan hangat, menegaskan persaudaraan lintas iman yang telah terjalin puluhan tahun.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.