Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Taste Narrative dan Ray Janson Radio menghadirkan Industry Night 2026 di Kisah Manis Huis yang dihadiri pelaku usaha food and beverage di Bandung.
Bagi Founder Ray Janson Radio, Ray Janson, acara ini bukan sekadar perhelatan tahunan atau ajang berkumpul para pelaku industri makanan dan minuman.
Semuanya berawal dari keinginan sederhana, nongkrong, berbagi cerita, dan saling mengenal.
Keinginan sederhana itu justru menjelma menjadi ruang kolaborasi yang terus membesar.
Dari hanya puluhan orang, kini ribuan pelaku industri kreatif dan F&B berkumpul dalam satu ruang yang sama untuk bertukar ide dan mencari peluang baru.
Berbagai pelaku usaha hadir dalam gelaran tersebut.
Tamu undangan tak hanya disuguhi diskusi dan sesi jejaring, tetapi juga diajak menikmati ragam sajian dari pelaku usaha di Bandung yang disajikan dengan konsep botram, tradisi makan bersama khas Sunda.
Sejumlah tenant turut meramaikan acara, termasuk Kopi Kisah Manis yang memperkenalkan kreasi minuman kopi kekinian mereka.
“Saya ingin punya ruang untuk berkumpul dengan teman-teman, berbagi cerita, bertukar perspektif, dan saling belajar satu sama lain. Dari pertemuan-pertemuan kecil seperti itu, sering kali lahir ide, kesempatan, bahkan kolaborasi yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Industry Night hadir untuk menjaga semangat itu dalam skala yang lebih besar,” ujar Ray saat ditemui di Kisah Manis Huis Ciumbuleuit, Senin malam (16/6/2026).
Ray menceritakan, cikal bakal Industry Night dimulai pada 2023. Saat itu, dirinya bersama komunitas F&B Jakarta dan Ray Janson Radio Podcast hanya ingin mengadakan acara santai bersama para pendengar podcast yang selama ini mendapatkan inspirasi dari konten mereka.
Antusiasme tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2024, acara dipindahkan ke tempat yang lebih besar dan dihadiri sekitar 700 orang. Setahun kemudian, jumlah peserta melonjak hingga hampir 2.500 orang.
Menurut Ray, pertumbuhan itu menunjukkan bahwa kebutuhan akan ruang kolaborasi di industri F&B semakin besar.
Ia menilai, dampak industri F&B tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha semata, tetapi juga memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
“Bukan buat bisnisnya saja, tapi buat bisnis area tersebut dan juga buat Indonesia. F&B itu menyumbang pajak, menyumbang penghasilan buat negara sangat-sangat besar dari bahan dan juga penghasilan stafnya juga,” katanya.
Ray melihat Bandung menjadi salah satu kota dengan ekosistem F&B yang telah terbentuk dengan baik.
Selain Jakarta dan Bali, Bandung dinilai memiliki komunitas yang kuat karena para pelakunya saling mendukung tanpa terjebak persaingan yang tidak sehat.
“Mayoritas yang sudah sangat terbentuk itu kalau dari penglihatan saya itu Bandung, Jakarta, dan Bali. Komunitasnya terbentuk dalam bentuk pebisnis-pebisnis dan para pelakunya saling ngobrol, saling kolaborasi, tanpa pamer-pamer, tanpa saing-saingan yang banyak,” tuturnya.
Sementara di kota-kota lain, menurutnya, banyak pelaku industri berbakat yang belum saling mengenal.
“Acara-acara seperti Industry Night supaya mereka bisa kenalan dan kolaborasi,” katanya.
Di tengah maraknya tren kuliner viral, Ray juga mengingatkan bahwa keberlangsungan bisnis F&B tidak hanya ditentukan oleh produk yang sedang diminati pasar.
“Yang bakal stay itu yang bisnisnya pasti ngurusin cash flow-nya dengan baik, memanage bisnisnya dengan baik. Nggak penting produknya apa sebenarnya. Produk ya itu harus ngikutin tren, mungkin melawan tren, tapi yang pasti bisnisnya harus dikelola dengan baik,” ujarnya.
Ia mengakui tantangan industri F&B saat ini tidak ringan. Mulai dari dampak pascapandemi, ketidakstabilan global, hingga kenaikan harga bahan baku akibat pelemahan nilai tukar.
“Belum balik 100 persen, terus habis itu ada juga kerusuhan, perang, ada saja yang efeknya ke kita sekarang. Mata uang luar negeri naik parah, bahan naik parah,” kata Ray.
Namun, menurutnya, jawaban atas tantangan tersebut tetap sama, yaitu kolaborasi.
“Bisnis-bisnis harus bisa kolaborasi supaya bisa bertahan sama-sama, dan bukan bertahan saja tapi berkembang. Itu kuncinya. Bisa tukaran supplier, bisa pesan dari supplier pakai satu nama biar pesanannya jadi besar terus harganya lebih murah. Banyak sekali kolaborasi yang bisa dilakukan,” ujarnya.
Baginya, komunitas menjadi pondasi lahirnya kolaborasi tersebut.
“Kolaborasi untuk bertahan, kalau komunitas untuk melahirkan kolaborasi tersebut. Sama buat ngeramein outlet biasanya. Zaman sekarang outlet itu biasanya nargetin komunitas, entah komunitas lari atau komunitas foto, jadi peran komunitas itu sangat makin penting sekarang,” ucapnya.
Salah satu hal yang mencuri perhatian dalam Industry Night Bandung adalah konsep botram yang dihadirkan melalui Party Gastronomi.
Tradisi makan bersama ini menjadi cara untuk memperkenalkan identitas kuliner Sunda kepada para tamu.
Ipin dari Party Gastronomi menjelaskan, botram memiliki keterkaitan erat dengan masyarakat agraris Sunda yang terbiasa membawa bekal dari rumah untuk disantap bersama-sama.
“Botram itu dikaitkan dengan masyarakat agraris orang Sunda. Kebiasaan makan bersama-sama, mereka bawa makanan sendiri,” ujarnya.
Menariknya, kata Ipin, istilah botram disebut memiliki akar dari bahasa Belanda.
“Mereka makan butter dan ham kayak roti lapis. Makanya botram dimakan di luar ruangan,” katanya.
Lebih dari sekadar cara makan, botram merepresentasikan nilai kebersamaan masyarakat Sunda.
“Wujud dari kebersamaan warga Bandung. Botram itu identitas masyarakat Sunda yang bawa makanan, makan bareng. Bagaimana kita berbagi kebahagiaan, ngariung,” tuturnya.
Di sisi lain, Kopi Kisah Manis turut menghadirkan kreasi minuman bernama Mont Blanc yang belakangan tengah diminati para pencinta kopi.
Barista Kisah Manis, Jonathan, menjelaskan Mont Blanc menggunakan basis cold brew yang dipadukan dengan racikan Sunkist buatan sendiri.
“Mont Blanc itu sebenarnya base-nya dari Sunkist, remix Sunkist. Kita buat sendiri Sunkist-nya dan kita pakai cold brew kopinya. Jadi untuk kopinya nggak terlalu strong tapi tetap segar,” ujarnya.
Minuman tersebut kemudian dilengkapi cream foam dan taburan pala sebagai sentuhan akhir.
“Palanya bikin aromatik, bikin hangat dan dari kulit jeruknya, jadi lebih fresh,” kata Jonathan.