Perjalanan Sigit Pramono, dari Bankir hingga Pelopori Event Jazz Gunung
khoirul muzaki June 16, 2026 05:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO -Dari Bromo di ketinggian 2.000 meter hingga lereng Gunung Slamet, Sigit Pramono membangun ekosistem budaya, pariwisata, dan ekonomi melalui panggung jazz beratapkan langit.

Tidak banyak mantan petinggi perbankan yang memilih menghabiskan masa setelah karier korporasi dengan menginisiasi konser musik di lereng gunung.

Namun itulah jalan yang dipilih Sigit Pramono.

Pria yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama BNI periode 2003-2008 itu justru dikenal luas sebagai sosok di balik lahirnya Jazz Gunung Series. 

Sebuah konsep pertunjukan musik yang menggabungkan jazz, alam terbuka, budaya lokal, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Saat ditemui Tribunbanyumas.com di Pendopo Si Panji Purwokerto, Senin (15/6/2026), Founder Jazz Gunung itu mengenang bagaimana gagasan tersebut bermula hampir dua dekade lalu.

"Memulainya 18 tahun lalu, awalnya di Bromo," kata Sigit.

Kala itu, menurutnya, hampir seluruh konser jazz digelar di gedung atau ruang pertunjukan tertutup. 


Penonton datang, duduk di kursi, menikmati musik dalam ruangan yang nyaman dan serba teratur.

Namun Sigit justru memilih jalur yang berbeda.

Ia membawa jazz ke alam terbuka, tepatnya ke kawasan Gunung Bromo di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut.

Itulah yang membedakan Jazz Gunung dari konser lainnya adalah pengalaman yang dirasakan penonton terasa begitu intimate. 

Alih-alih berada di bawah atap gedung, penonton menikmati musik dengan beratapkan langit, ditemani udara dingin pegunungan, embun, hingga kabut yang sesekali turun menyelimuti area pertunjukan.

"Penonton akan merasakan hawa embun, kabut dan bergabung dengan suasana alam," ujarnya.

Konsep tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan budaya yang tidak hanya menghadirkan musik jazz semata.

Bersama almarhum seniman Djaduk Ferianto dan budayawan Butet Kartaredjasa, Sigit membangun Jazz Gunung sebagai ruang pertemuan berbagai ekspresi seni.

"Sejak awal konsep memang konser yang membangun ekosistem budaya. Selain konser musik selalu ada pagelaran seni dan tradisi juga ada," katanya.

Bagi Sigit, musik hanyalah pintu masuk.

Di balik panggung, ada misi yang lebih besar, yakni menghidupkan budaya lokal sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

Prinsip itulah yang kini dibawanya ke Banyumas melalui Jazz Gunung Slamet yang memasuki tahun ke-3. 

Ketika diajak jurnalis senior Andy F Noya untuk mengembangkan Jazz Gunung di kaki Gunung Slamet, Sigit merasa menemukan pasangan yang tepat.

"Ketika kami diajak Andy F Noya menggarap Jazz Gunung Slamet, ini betul-betul jodoh dan mulai membangun ekosistem budaya," tuturnya.

Dalam pandangannya, sebuah kegiatan pariwisata tidak akan berhasil apabila hanya berpusat pada acara utama.

Ia percaya keberhasilan sebuah destinasi sangat bergantung pada keterlibatan komunitas di sekitarnya.

"Ada yang namanya ilmu dalam pariwisata yaitu melibatkan berbagai komunitas. Hotel, restoran akan terdorong.

Kami mengajak kuliner lokal dan pedagang durian juga banyak yang ikut memeriahkan," ujarnya.

Baca juga: Kawal Uang Negara, BEM UMP Buka Posko Aduan MBG dan KDMP

Menurut dia, model seperti itu yang membuat Jazz Gunung berbeda dengan festival musik pada umumnya.

Kini, Jazz Gunung telah menjadi agenda rutin di berbagai daerah, seperti Jazz Gunung Bromo, Ijen, Slamet, Burangrang hingga Jazz Gunung di Labuan Bajo.

Namun di balik kesuksesan tersebut, Sigit mengaku kegiatan semacam ini bukanlah bisnis yang menjanjikan keuntungan besar.
Justru sebaliknya.

"Menurut saya menyelenggarakan kegiatan ini butuh orang yang gila, bukan orientasinya pada keuntungan," katanya sambil tersenyum.

Yang membuatnya terus bergerak adalah keyakinan bahwa seni mampu menjadi medium kolaborasi lintas budaya.

Ia bahkan membayangkan apabila sebagian dari 132 gunung di Indonesia memiliki pagelaran serupa.

"Bayangkan apabila dari 132 gunung di Indonesia ada pagelaran, maka tiap dua atau tiga hari sekali ada event," ujarnya.

Lalu mengapa memilih jazz?

Sigit mengakui alasannya sederhana.

"Alasan khusus ya karena saya suka jazz," katanya.

Namun lebih dari itu, jazz menurutnya merupakan musik yang sangat terbuka terhadap kolaborasi.

Selama perjalanan Jazz Gunung, berbagai genre musik telah dipertemukan dalam satu panggung.

"Kita pernah melakukan kolaborasi dengan seni lain. Kita dengan Didi Kempot luar biasa.

Mengundang jazz nuansa etnik.

Dan juga calung Banyumas tidak menutup kemungkinan bisa berkolaborasi," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan rekannya Andy F Noya.

Menurut dia, banyak orang mempertanyakan mengapa Jazz Gunung memilih jazz, genre yang selama ini kerap dianggap berasal dari luar negeri dan identik dengan kalangan elite.

Namun justru di situlah keunikan Jazz Gunung.

"Saya memahami bahwa musik adalah bahasa universal.

Ketika Jazz Gunung tampil, itu adalah jazz yang membuka ruang kolaborasi," kata Andy.

Ia mencontohkan kolaborasi Jazz Gunung dengan Didi Kempot di Bromo hingga Elvy Sukaesih di Burangrang.

Menurutnya, Jazz Gunung bukan sekadar panggung jazz, melainkan ruang pertemuan berbagai identitas musik.

"Artinya sepakat bahasa universal adalah Jazz Gunung dan mengajak serta musik lain.

Kita semua beda tapi bersatu," ujarnya.

Andy juga melihat besarnya potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dari penyelenggaraan Jazz Gunung Slamet.

Ia menilai Banyumas memiliki keunggulan dari sisi aksesibilitas yang tidak dimiliki banyak lokasi Jazz Gunung lainnya.

Sigit pun sependapat.

Menurutnya, Purwokerto merupakan salah satu kota yang paling mudah dijangkau melalui jalur kereta api.

"Purwokerto adalah salah satu kota yang banyak dilalui jalur kereta.

Jakarta-Purwokerto pakai kereta pagi, jadi tanpa menginap misalkan.

Menurut saya adalah kemudahan akses ini.

Penting bagaimana akses. Dan paling mudah aksesnya adalah Jazz Gunung Slamet," katanya.

Kemudahan akses tersebut diyakini akan mendatangkan lebih banyak wisatawan dari luar daerah.

Mereka tidak hanya datang untuk menikmati musik, tetapi juga menginap, mencicipi kuliner lokal, berbelanja, dan menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

"Datangnya rombongan, animo dari luar, sehingga ada potensinya.

Kalau dua hari dua malam di sini, maka datangnya orang luar spending, maka akan ada dampak ekonomi," kata Andy.

Bagi Sigit Pramono, itulah esensi Jazz Gunung yang sesungguhnya.

Bukan sekadar konser musik di alam terbuka, melainkan upaya mempertemukan seni, budaya, pariwisata, dan ekonomi masyarakat dalam satu panggung besar yang berdiri di bawah langit pegunungan Indonesia.

Jazz Gunung Slamet 2026 merupakan bagian dari rangkaian BRI Jazz Gunung Series 2026 dan akan digelar pada 27 Juni 2026 di kawasan Wanawisata Palawi Baturraden.

Acara ini menjadi pembuka rangkaian Jazz Gunung Series tahun 2026 yang selama ini dikenal sebagai festival jazz alam terbuka yang memadukan musik, budaya, dan keindahan pegunungan.

Jazz Gunung Slamet 2026 tidak hanya menampilkan musik jazz, tetapi juga mengangkat identitas khas Banyumasan melalui perpaduan seni tradisional seperti Lengger, Calung, dan Jaran Ebeg dengan harmoni jazz kontemporer.

Konsep ini sejalan dengan visi Jazz Gunung yang membangun ekosistem budaya dan pariwisata berbasis komunitas lokal. (jti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.