Kisah Tukang Becak Terakhir di Simpang Air Mancur Bogor, Ada Sejak Era Soekarno, Tak Kalah Oleh Usia
Vivi Febrianti June 16, 2026 09:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Simpang Air Mancur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor dikenal lama sebagai tempat pangkapan becak sejak lama.

Puluhan tahun lalu, di kawasan ini ada puluhan pengayuh becak yang kerap mangkal.

Namun kini sampai Juni 2026, para penarik becak di lokasi ini nyaris hilang ditelan waktu.

Pengayuh becaknya pun hanya tersisa kakek-kakek renta, itu pun terkadang terlihat mangkal, terkadang tidak.

Pantauan TribunnewsBogor.com, Selasa (16/6/2026), Simpang Air Mancur ini merupakan titik pertemuan empat jalan, yaitu Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Pemuda, Jalan Ahmad Yani dan Jalan RE Martadinata.

Persimpangan jalan ini berbentuk bundaran jalan yang di tengah-tengah ada taman yang disebut Air Mancur.

Nuansa kuno juga masoh terlihat di taman itu karena ada bangunan kecil berwarna putih peninggalan sejak era Belanda yang masih berdiri dan terawat.

Di sebelah timur Taman Air Mancur itulah tempat mangkal para penarik becak yang sudah ada sejak era Presiden RI ke-1 Soekarno.

"Uh, saya di sini dari zaman Pak Karno, udah berapa tahun itu, dari umuran 15 tahun lah," ucap salah satu penarik becak yang masih bertahan, Yanto (70) kepada TribunnewsBogor.com.

"Di sini sisa dua lagi becak yang mangkal, dulu mah banyak ada 25 becak, di sini pangkalannya," katanya.

Penarik becak yang lain, kata Yanto, ada yang sudah beralih profesi, ada pula yang sudah meninggal karena usia.

Dia masih ingat dulu awal-awal, ketika becaknya dikayuh membawa penumpang, dia masih mendapat bayaran cuma Rp5 (Lima Rupiah) sekali antar.

Dia mengaku bahwa rute becaknya hanya di sekitaran Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Ahmad Yani dan sekitarnya.

"Gak jauh-jauh, jarang mangkal di pasar saya mah," kata Yanto.

Yanto juga menunjukan becak yang sudah menemaninya puluhan tahun itu.

Dari kondisinya, terlihat becak milik Kakek Yanto sudah termakan usia dilihat dari frame besi-besinya yang berkarat.

"Ini dari zaman Pak Karno ini, yang udah diganti paling ban, velg (rim). Kuat ini, papannya pakai kayu jati ini, keras ini," katanya.

Kakek asal Cemplang Bogor ini mengaku kini dia sudah punya empat orang cucu dan tiga orang anak.

Namun anak-anaknya tidak ada yang menjadi penarik becak, tapi ada yang bekerja di bengkel hingga bekerja di pabrik.

Di usia 70 tahun ini, Yanto mengaku masih kuat mengayuh becak untuk membawa penumpang.

Namun itu pun jika penumpangnya hanya satu orang.

"Masih kuat, kalau bawanya satu orang mah," kata Yanto. 

Namun seiring berkembangnya zaman, transportasi terus berkembang, penumpang becak pun semakin menyusut.

Terkadang, dia hanya mendapat Rp30.000 sehari bahkan kurang.

"Sekarang mah sepi, sehari kadang dua kali jalan, sekali jalan paling Rp15.000, ada yang Rp10.000, gak tentu," katanya.

Uniknya, penumpang becaknya rata-rata orang tua warga sekitar yang sudah dikenal lama oleh Yanto.

Dia mengaku jarang mendapat penumpang orang luar Kota Bogor.

"Orang-orang luar mah jarang naek, paling orang sekitar sini yang udah pada kenal," katanya.

Namun kata dia, dia tetap ada sampingan untuk mendapat pemasukan tiap hari di sekitar tempat dia mangkal becak.

"Kalau gak ada sampingan mah saya udah gak ngebecak, cuma ngarepin tarikan becak mah masyaAllah, susah," katanya.

"Satu temen saya yang juga masih narik becak sama markir juga, kalau berhenti markir dia juga gak akan ngebecak, hilang aja udah becak di sini," ungkapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.