TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Suasana di kawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Minggu (14/6/2026) tampak lebih ramai dari biasanya.
Deretan tenda pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berdiri berjejer, menawarkan beragam produk kuliner yang menggoda selera pengunjung.
Di antara lalu lalang warga yang menikmati akhir pekan, Mutmainnah tampak sibuk melayani pelanggan yang datang silih berganti.
Perempuan berusia 27 tahun itu nyaris tak memiliki waktu untuk duduk. Sesekali ia menyusun makanan yang baru matang, menerima pesanan, lalu melayani proses pembayaran pelanggan.
Meski ramai, ada satu hal yang membuat pekerjaannya terasa lebih ringan dibanding beberapa tahun lalu. Ia tak lagi terlalu sering direpotkan dengan urusan uang kembalian.
Di hadapannya terpajang sebuah kode QRIS yang siap dipindai siapa saja yang ingin melakukan pembayaran secara digital.
Tak jauh dari tempat Mutmainnah berdiri, seorang pengunjung bernama Irfan tampak memperhatikan daftar menu yang tersedia. Pemuda berusia 21 tahun itu terlihat cukup lama menentukan pilihan.
Setelah menimbang beberapa menu, ia akhirnya menjatuhkan pilihan pada bakso goreng. "Pesan satu porsi," katanya kepada penjaga stan.
Begitu pesanannya dicatat, Irfan langsung mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya.
Baca juga: QRIS BRI dan Pojok UMKM Rawon Pelita Dorong Omzet Perajin Makassar
Tidak ada dompet yang dibuka atau uang tunai yang dihitung.
Jari-jarinya dengan cepat membuka aplikasi BRImo, lalu mengarahkan kamera ke kode QRIS yang tersedia.
Dalam hitungan detik, transaksi selesai. "Lebih praktis dan tidak banyak lagi uang recehan yang kadang bikin repot dibawa-bawa," ungkap Irfan sambil menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan bukti pembayaran.
Bagi Irfan, transaksi non-tunai bukan lagi sesuatu yang baru.
Aktivitas tersebut bahkan sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Ia mengaku hampir seluruh kebutuhan hariannya kini dibayar secara digital, mulai dari membeli makanan, membayar transportasi, hingga berbelanja kebutuhan lainnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat bertransaksi.
Apa yang dulu identik dengan uang tunai kini perlahan bergeser ke pembayaran digital yang lebih cepat dan sederhana.
"Karena sekarang semua serba digital. Kita maunya yang praktis, simpel, dan tidak bikin ribet," ujarnya.
Di dalam ponselnya memang tersimpan beberapa aplikasi pembayaran digital.
Namun, salah satu yang paling sering digunakannya adalah BRImo.
Aplikasi tersebut, menurut Irfan, memberikan kemudahan karena hampir semua transaksi bisa dilakukan hanya dengan beberapa sentuhan di layar.
"Kalau pakai BRImo sekarang mau bayar apa saja tidak ribet. Sekali scan langsung muncul berapa yang harus dibayar. Tidak perlu lagi buka tas, ambil uang, atau rogoh dompet," katanya.
Apa yang dilakukan Irfan sebenarnya mencerminkan perubahan perilaku masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Kehadiran teknologi digital telah menggeser banyak kebiasaan lama, termasuk cara orang melakukan pembayaran.
Jika dahulu masyarakat harus memastikan membawa uang tunai sebelum bepergian, kini banyak orang merasa cukup membawa telepon genggam.
Perubahan itu juga dirasakan langsung oleh para pelaku UMKM seperti Mutmainnah.
Perempuan yang bekerja di usaha milik Kristy itu setiap hari melayani penjualan berbagai jajanan populer seperti bakso goreng dan tahu walik.
Dalam sehari, puluhan hingga ratusan transaksi bisa terjadi, terutama ketika ada kegiatan atau event yang ramai dikunjungi masyarakat.
Menurut Mutmainnah, penggunaan QRIS kini menjadi metode pembayaran yang paling dominan di tempatnya bekerja.
Bahkan, dalam banyak kesempatan, jumlah pelanggan yang membayar secara digital lebih banyak dibandingkan yang menggunakan uang tunai.
"Kami sangat terbantu dengan adanya QRIS. Sekarang pembayaran QRIS cukup mendominasi transaksi. Jadi lebih mudah," katanya.
Kemudahan tersebut tidak hanya dirasakan pembeli, tetapi juga pedagang. Dengan pembayaran digital, proses transaksi menjadi lebih cepat.
Risiko kesalahan dalam menghitung uang kembalian juga dapat diminimalkan.
Selain itu, pencatatan keuangan menjadi lebih tertata karena setiap transaksi otomatis terekam dalam sistem.
Bagi pelaku UMKM, perubahan ini memiliki arti yang cukup besar.
Waktu yang sebelumnya habis untuk mengurus uang tunai kini dapat dialihkan untuk melayani pelanggan atau meningkatkan kualitas produk yang dijual.
Di tengah semakin berkembangnya ekosistem digital di Indonesia, QRIS dan aplikasi pembayaran seperti BRImo menjadi jembatan yang mempertemukan kebutuhan konsumen akan kemudahan dengan kebutuhan pelaku usaha akan efisiensi.
Pemandangan di Benteng Fort Rotterdam sore itu menjadi gambaran kecil dari transformasi yang sedang berlangsung di berbagai daerah.
Di satu sisi ada generasi muda seperti Irfan yang menjadikan transaksi digital sebagai bagian dari gaya hidup.
Di sisi lain ada pelaku UMKM seperti Mutmainnah yang merasakan langsung manfaat teknologi dalam mendukung aktivitas usaha mereka.
Tidak ada lagi antrean panjang karena menunggu uang kembalian.
Tidak ada lagi kerepotan mencari pecahan uang pas. Semua berlangsung cepat hanya melalui satu kali pemindaian kode QR.
Perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi jutaan pelaku usaha dan konsumen di Indonesia, kemudahan itu perlahan membentuk cara baru dalam beraktivitas dan bertransaksi.
Dari sebuah stan jajanan sederhana di Benteng Fort Rotterdam, transformasi itu terlihat nyata. Sebuah perubahan yang menunjukkan bahwa digitalisasi bukan lagi sekadar tren, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat modern. (*)