TRIBUNMATARAMAN.COM | SITUBONDO - Viral di media sosial Bupati Situbondo diduga menyindir balik Konten Kreator Gilang.Her yang menyebut tugu bambu ikonik sebagai kue putu.
Awalnya seorang konten kretor @Gilang.Her membuat video review alun-alun Besuki.
Sebagai informasi sosok @Gilang.Her bukan pertama kali membuat review alun-alun di sebuah kota atau Kabupaten. Ia diketahui sudah beberapa kali membuat konten review alun-alun di beberapa tempat seperti Bangil Pasuruan, Malang dan Gresik.
Namun kali ini dalam kontennya, Gilang meninjau sejumlah fasilitas di Alun-Alun Besuki dan memberikan penilaian terhadap kondisi yang ditemuinya di lapangan.
Termasuk dalam kontennya ia mereview Tugu Bambu yang berada di alun-alun Besuki.
Bahkan Gilang tak ragu menyebut Tugu itu mirip Kue Putu. Hal ini diduga membuat geram Bupati Rio, karena seolah merendahkan perjuangan masyarakat Besuki saat melawan penjajah dengan Bambu Runcing.
Baca juga: Tradisi Ngitung Batih Tetap Lestari, Satukan Semua Unsur Masyarakat di Trenggalek
"Kita boleh mengkritik, boleh memberikan masukan, tetapi jangan sampai mengarah pada lambang atau simbol yang menjadi kebanggaan masyarakat suatu daerah," ujar Rio dikutip Tribunmataraman.com dari postingan instagram pribadinya Rabu (17/6/2026).
Masih kata Rio tugu bambu yang berdiri di kawasan Alun-Alun Besuki memiliki makna historis yang kuat. Monumen tersebut terinspirasi dari perjuangan masyarakat Besuki pada masa lalu yang menjadikan bambu runcing sebagai simbol perlawanan.
Karena itu, ia merasa perlu memberikan penjelasan kepada publik agar masyarakat memahami latar belakang pembangunan tugu tersebut.
"Tugu ini dibuat bukan sembarangan. Dasarnya adalah perjuangan masyarakat Besuki. Ada filosofi bambu runcing yang menjadi simbol perjuangan rakyat," jelasnya.
Rio juga menyayangkan apabila simbol yang memiliki nilai sejarah tersebut hanya dipandang dari bentuk fisiknya tanpa memahami pesan yang ingin disampaikan.
Selain menyoroti komentar terkait tugu bambu, Rio menilai ulasan terhadap Alun-Alun Besuki seharusnya dilakukan secara menyeluruh.
Ia menyebut masih banyak bagian kawasan yang telah mengalami pembenahan dan pembangunan, termasuk pendopo serta berbagai fasilitas publik lainnya.
"Kalau ingin mereview suatu tempat, kenapa tidak melihat keseluruhannya. Ada pendopo yang sudah bagus dan fasilitas lain yang juga layak diapresiasi," katanya.
Menurut Rio, objektivitas menjadi hal penting dalam membuat konten agar masyarakat mendapatkan gambaran yang utuh mengenai kondisi suatu daerah.
Rio juga mengakui masih terdapat sejumlah fasilitas yang memerlukan pembenahan, salah satunya lapangan basket di area alun-alun.
Meski demikian, ia memastikan revitalisasi fasilitas tersebut telah masuk dalam program pembangunan pemerintah daerah tahun ini.
"Memang ada yang perlu diperbaiki. Lapangan basket sudah kami anggarkan tahun ini dan tinggal proses pengerjaan," ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Situbondo, lanjut Rio, terus berupaya melakukan penataan kawasan Alun-Alun Besuki secara bertahap agar menjadi ruang publik yang lebih nyaman dan menarik bagi masyarakat.
Menanggapi respons Bupati Rio yang viral di media sosial, konten kreator Gilang.her akhirnya memberikan klarifikasi melalui kolom komentar.
Gilang menjelaskan bahwa kedatangannya ke Alun-Alun Besuki bukan untuk menjatuhkan atau mencari sensasi. Ia mengaku datang karena banyak permintaan dari warga yang meminta dirinya melakukan ulasan terhadap lokasi tersebut.
"Terima kasih Pak sudah merespon. Saya ke situ hanya menuruti permintaan warga bapak di kolom komentar, tidak bermaksud lain," tulis Gilang.
Ia juga menegaskan bahwa dalam video lengkap yang diunggahnya, dirinya tidak hanya menyoroti kekurangan, tetapi juga memberikan apresiasi terhadap sejumlah bagian yang dinilai sudah baik.
"Kalau dilihat video lengkapnya, saya juga menyampaikan mana yang bagus dan mana yang menurut saya masih kurang sesuai dengan kondisi di lapangan," lanjutnya.
Terkait penyebutan tugu bambu yang disebut mirip "kue putu", Gilang menegaskan bahwa tidak ada niat untuk menghina ataupun memberikan konotasi negatif.
Menurutnya, penyebutan tersebut justru muncul karena ukuran bambu yang besar dan mencolok sehingga menarik perhatian.
"Kalau perihal bambu, saya pikir tidak ada konotasi negatif ya Pak. Karena di narasi saya juga menyebut bambunya besar, yang artinya saya memuji," jelasnya.
Meski demikian, Gilang tetap menyampaikan permohonan maaf apabila ucapannya menimbulkan kesalahpahaman atau menyinggung sebagian masyarakat Besuki.
"Cuma kalau ada hal yang menyinggung, saya mohon maaf. Terima kasih banyak sudah direspons," tulisnya.
Dalam klarifikasinya, Gilang juga membantah anggapan bahwa dirinya membuat konten tersebut untuk mencari keuntungan pribadi.
"Btw saya tidak cari uang, Pak. Karena saya murni menggunakan dana pribadi," tambahnya disertai emoji hormat.
(TribunMataraman.com)