Merenung dalam Diam di Malam 1 Suro, Cerita Warga Yogyakarta Ikut Topo Bisu Mubeng Beteng
Yoseph Hary W June 17, 2026 02:02 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Malam 1 Suro selalu menghadirkan suasana berbeda di Yogyakarta. Saat sebagian orang memilih menghabiskan malam dengan berkumpul bersama keluarga atau beristirahat, ribuan warga justru memadati kawasan Kraton Yogyakarta untuk mengikuti ritual Topo Bisu Mubeng Beteng, Selasa (16/6/2026) malam.

Ritual tahunan yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Yogyakarta itu diawali dengan pelantunan Macapat pada pukul 21.00 WIB. Prosesi pembukaan berlangsung pukul 23.00 WIB, dilanjutkan persiapan dan pemberangkatan peserta pukul 24.00 WIB.

Mubeng beteng tanpa bicara

Dalam tradisi ini, peserta menjalani laku tapa bisu dengan berjalan kaki mengelilingi benteng Kraton Yogyakarta sejauh kurang lebih lima kilometer tanpa berbicara. 

Rute dimulai dari Bangsal Kamandungan Lor Kraton Yogyakarta menuju Jalan Rotowijayan, Jalan Kauman, Jalan H Agus Salim, Jalan KH Wahid Hasyim, Jalan Suryowijayan, Jalan MT Haryono, Jalan Mayjend Sutoyo, Jalan Brigjend Katamso, Jalan Ibu Ruswo, Jalan Pekapalan Alun-alun Utara, sebelum kembali ke Jalan Rotowijayan dan finis di Bangsal Kamandungan Lor.

Di antara peserta yang larut dalam suasana khidmat malam itu adalah Amalia Nurul Fathonaty (34). Warga asli Yogyakarta tersebut mengaku kembali mengikuti Mubeng Beteng setelah cukup lama absen.

“Tahun ini ikut karena aku sudah cukup lama nggak ikut Mubeng Beteng. Terakhir mungkin 2013 lalu. Waktu itu bukan karena ingin ikut ritualnya ya tapi karena ada tugas kuliah ya, jadi belum dapat vibes realnya ketika mengikuti ritus ini secara sungguh-sungguh bagaimana. Jadi tahun ini ingin ikut lagi,” ujarnya.

Refleksi

Bagi Amalia, Topo Bisu bukan sekadar berjalan kaki mengelilingi benteng. Ritual ini menjadi ruang untuk melakukan refleksi diri atas perjalanan hidup selama setahun terakhir.

“Pengalamannya bukan mau yang gimana-gimana ya, lebih memang Sesuai judulnya Topo Bisu kan, untuk merenungi kejadian-kejadian apa yang sudah saya lakukan setahun ke belakang. Merefleksi apa sih yang kurang dan apa yang perlu diperbaiki,” katanya.

Di tengah tren anak muda yang akrab dengan istilah healing dan meditasi, Amalia menilai tradisi Mubeng Beteng tetap relevan hingga saat ini.

“Menurutku masih relevan di kalangan anak muda gen Z yang kerennya healing, mungkin mengenal meditasi juga dengan topo bisu mubeng beteng ini sebenarnya juga meditasi yang bergerak, yang jalan kaki. Tapi dengan diam tidak bicara,” katanya.

Sebagai warga yang sejak kecil mengenal tradisi tersebut, Amalia melihat tidak banyak perubahan yang terjadi dalam pelaksanaannya dari tahun ke tahun.

“Saya asli Jogja. Dari kecil memang sudah mengenal tradisi ini. Perbedaannya saya rasa nggak begitu signifikan ya. Mungkin hanya part-part kecil yang itu tak terlalu ngeh di masyarakat umum lah,” imbuhnya.

Persiapan batin

Menjelang mengikuti ritual, ia mengaku tidak memiliki persiapan fisik yang berlebihan. Baginya, kesiapan batin justru menjadi hal yang paling utama.

“Persiapan khusus nggak ada ya. Menyiapakan hati aja yang bersih. Tak ada prasangka dan rasa amarah itu diclearin dulu lah jadi kita bisa tenang. Kalau untuk rutenya lima kilo lumayan tapi saya rutin olahraga jalan kaki,” tutupnya.

Peserta lain, Surya Herdianto (30), warga Sleman, memilih mengenakan pakaian adat Jawa saat mengikuti ritual untuk pertama kalinya.

Memaknai dengan pakaian adat Jawa

Baginya, busana tradisional menjadi bagian dari upaya menghormati dan melestarikan budaya yang diwariskan turun-temurun.

“Pengen ikut melestarikan budaya dengan pakaian adat ini ya. Semakin memaknai. Ini punya sendiri,” ucapnya.

Meski baru pertama kali mengikuti Mubeng Beteng, Surya merasa tradisi malam 1 Suro merupakan pengalaman yang patut dijalani oleh warga Yogyakarta.

“Baru pertama kali ikut ini. Sebagai warga Jogja setidaknya sekali seumur hidup ikut tradisi malam suronan,” jelasnya.

Tak jauh berbeda dengan peserta lainnya, Surya juga tidak melakukan persiapan khusus sebelum memulai perjalanan mengelilingi benteng Kraton.

“Nggak ada persiapan khusus. Paling kalau capek istirahat. Trus lanjut lagi,” katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.