TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -
Polytechnic University: Sebuah Keniscayaan Menyongsong Indonesia Emas 2045 Oleh : Iwan Ridwan, S.T., M.T., Ph.D
Associate Professor
Politeknik Negeri Bandung
Transformasi kelembagaan politeknik menjadi polytechnic university bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan strategis nasional. Dalam konteks menuju Indonesia Emas 2045, kehadiran polytechnic university menjadi keniscayaan untuk menjawab tantangan global yang semakin kompleks, berbasis teknologi, dan berorientasi pada inovasi. Keniscayaan tranformasi politeknik menjadi polytechnic university didasarkan oleh perkembangan pesat beberapa Politeknik di Inonesia.
Sebagai contoh, Politeknik Negeri Bandung (Polban), yang berdiri sejak 1979, telah menunjukkan perkembangan signifikan dengan 41 program studi dari jenjang Diploma 3 hingga Magister Terapan (S2), serta rencana pembukaan Program Doktor Terapan dan Program Profesi.
Polban secara de facto telah melampaui kapasitas tipikal sebuah politeknik.
Didukung oleh sekitar 9.000 mahasiswa dan 500 dosen, di mana 20 persen telah bergelar doktor dan sebagian lainnya tengah menempuh studi lanjut S3 di dalam dan luar negeri , serta keberadaan 22 Guru Besar (salah satunya masuk dalam 2 % ilmuwan terbaik dunia),
Polban memiliki fondasi akademik yang kuat untuk bertransformasi polytechnic university.
Namun demikian, status kelembagaan sebagai politeknik masih menjadi kendala mendasar. Ruang gerak dalam penguatan riset, publikasi ilmiah, serta kolaborasi internasional belum optimal.
Sementara itu, tren global menunjukkan arah yang jelas yaitu banyak politeknik bertransformasi menjadi polytechnic university untuk meningkatkan daya saing dan relevansi global. Lebih dari itu, dunia saat ini tengah menghadapi disrupsi pendidikan seperti perubahan fundamental akibat digitalisasi, kecerdasan buatan, online learning, serta kebutuhan industri yang bergerak jauh lebih cepat dibanding kurikulum konvensional.
Model politeknik yang kaku semakin ditantang oleh munculnya micro-credentials, industry certification, hingga platform pembelajaran global.
Di saat yang sama, muncul fenomena interdependensi antara universitas dan industri yang semakin kuat.
Dunia industri tidak lagi sekadar pengguna lulusan, tetapi menjadi mitra strategis dalam perancangan kurikulum, pelaksanaan riset, hingga hilirisasi inovasi.
Sebaliknya, perguruan tinggi tidak dapat berkembang tanpa keterhubungan erat dengan kebutuhan riil industri. Relasi yang saling bergantung ini menuntut model kelembagaan yang lebih fleksibel, kolaboratif, dan berorientasi hasil.
Dalam konteks ini, polytechnic university menjadi bentuk ideal karena mampu menjembatani kepentingan akademik dan kebutuhan industri secara simultan melalui co-creation riset, dual system learning, hingga pengembangan ekosistem inovasi bersama. Di sinilah polytechnic university menjadi jawaban strategis.
Transformasi ini memungkinkan politeknik tidak hanya adaptif terhadap disrupsi, tetapi juga menjadi pelaku utama perubahan yang mengintegrasikan pembelajaran fleksibel, riset terapan berbasis teknologi mutakhir, serta kolaborasi lintas sektor secara lebih luas.
Praktik baik internasional memperkuat urgensi transformasi ini. Keberhasilan Coventry University di Inggris, yang pada tahun 1992 bertransformasi dari Coventry Polytechnic menjadi Coventry University. Keberhasilan transformasi Coventry University tercermin dari penguatan translational research yang mampu dikolaborasikan secara erat dengan industri, sehingga menghasilkan inovasi aplikatif sekaligus income generating yang berkelanjutan.
Model serupa juga terlihat pada The Hong Kong Polytechnic University yang menunjukkan bagaimana transformasi kelembagaan mampu mengangkat institusi ke level global, bahkan menembus 50 besar dunia melalui integrasi kuat antara ilmu dasar dan riset terapan.
Contoh-contoh tersebut menunjukkan pola yang konsisten yaitu transformasi dari politeknik ke polytechnic university memungkinkan integrasi yang lebih kokoh antara ilmu dasar (basic science) dan keunggulan terapan, memperkuat riset dan publikasi, serta memperluas jejaring internasional, sekaligus memperdalam kemitraan strategis dengan industri.
Urgensi transformasi ini juga tercermin dari sisi daya tarik institusi. Sebagai contoh pada Penerimaan Mahasiswa Baru di Polban. Pada penerimaan mahasiswa baru 2025, dari 69.062 pendaftar yang memperebutkan kuota mahasiswa baru yang sangat terbatas yaitu 3.061 kuota, hanya sekitar 15 % yang menempatkan Polban sebagai pilihan pertama dan kedua, sisanya adalah pilihan ketiga dan keempat.
Hal ini salah satunya disebabkan adanya asumsi dari masyarakat bahwa politeknik adalah second university.
Oleh karena itu, transformasi kelembagaan politeknik menjadi polytechnic university diharapkan mampu meningkatkan citra institusi dan menarik lebih banyak talenta unggul.
Adapun roadmap Transformasi Polytechnic University 2026–2045 seperti ditunjukkan pada Gambar 1, merupakan tahapan strategis pengembangan perguruan tinggi vokasi untuk mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045 dan selaras dengan RPJPN 2025–2045.
Transformasi diawali pada Tahap I (2026–2030) melalui penguatan fondasi kelembagaan, termasuk perubahan status menjadi Polytechnic University, penguatan tata kelola, serta pengembangan kurikulum, riset, inovasi, dan kerja sama.
Selanjutnya, Tahap II (2031–2035) difokuskan pada konsolidasi akademik dan riset terapan melalui pembentukan pusat riset unggulan, kurikulum berbasis industri, dan kolaborasi riset-industri. Pada Tahap III (2036–2040) dilakukan ekspansi inovasi dan kolaborasi industri melalui pengembangan pusat inovasi nasional, co-creation technology, dan kemitraan strategis dengan industri.
Puncaknya, Tahap IV (2041–2045) diarahkan pada internasionalisasi dan kepemimpinan global dengan memperkuat riset kelas dunia, inovasi berkelanjutan, dan peningkatan daya saing internasional.
Secara keseluruhan, roadmap ini bertujuan membangun ekosistem Polytechnic University yang mampu menghasilkan sumber daya manusia unggul, mendorong ekonomi berbasis inovasi, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang berdaya saing global pada tahun 2045.
Pada akhirnya, di tengah disrupsi pendidikan dan semakin kuatnya interdependensi antara perguruan tinggi dan industri, bertahan dengan status politeknik bukanlah pilihan yang bijak.
Transformasi menjadi polytechnic university adalah langkah adaptif sekaligus progresif yang bukan sekadar perubahan nomenklatur administratif, melainkan strategi fundamental untuk
memastikan relevansi, meningkatkan daya saing global, dan memperkuat kontribusi nyata pendidikan tinggi vokasi dalam mengantarkan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.