Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sulvi Sofiana
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Kemampuan memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini menjadi kompetensi yang dinilai wajib dimiliki tenaga pendidik.
Dari berbagai sumber AI adalah sistem komputer yang dapat belajar, memahami, dan berpikir layaknya manusia.
1950-an: Alan Turing memperkenalkan konsep mesin berpikir dan Turing Test.
1956: Istilah “Artificial Intelligence” resmi digunakan di konferensi Dartmouth.
1980-an: Muncul expert systems untuk rekomendasi medis dan bisnis.
2000-an: AI berkembang pesat berkat big data dan komputasi modern.
AI meniru kecerdasan manusia melalui machine learning, deep learning, dan NLP.
Tren terbaru: generative AI, chatbot, video generator, multimodal AI.
Aplikasi luas di bisnis, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan hiburan.
Tantangannya bias data, privasi, regulasi, dan etika penggunaan.
Menjawab tantangan tersebut, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) meluncurkan gerakan nasional untuk mencetak satu juta guru yang mahir menggunakan AI sebagai bagian dari transformasi pendidikan di Indonesia.
Program bertajuk PGRI POWER itu resmi dimulai dari Jawa Timur melalui peluncuran di Gedung Indosat Kayoon, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (17/6/2026).
Baca juga: Jadwal Cair dan Besaran Insentif Guru Madrasah Non ASN 2026, Langsung Ditransfer ke Rekening
Jawa Timur dipilih sebagai daerah pertama yang mengawali implementasi program sebelum diperluas ke seluruh Indonesia.
Inisiatif tersebut tidak hanya berfokus pada pengenalan teknologi, tetapi juga membekali guru dengan keterampilan memanfaatkan AI dan coding dalam proses belajar mengajar.
Harapannya, guru mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih adaptif sekaligus relevan dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Melalui jaringan organisasi PGRI di seluruh daerah, program ini akan dijalankan secara bertahap dengan melibatkan pelatih utama atau master trainer yang nantinya bertugas mendampingi guru-guru di berbagai wilayah.
Ketua PGRI Jawa Timur, Djoko Adi Walujo, mengatakan program tersebut bertujuan memastikan guru di Indonesia tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi yang kini semakin memengaruhi proses pembelajaran.
Menurutnya, target satu juta guru mahir AI akan dibagi ke seluruh provinsi, kabupaten, dan kota melalui jaringan organisasi PGRI di daerah.
"Ini adalah program nasional. PGRI akan menyiapkan satu juta guru mahir AI sehingga mereka tidak ketinggalan di era digital ini," ujar Djoko usai peluncuran program, Rabu (17/6/2026).
Jawa Timur Jadi Percontohan, 200 Ribu Guru Sudah Ikut Pelatihan
Djoko menjelaskan Jawa Timur menjadi provinsi pertama yang memulai pelaksanaan program tersebut. Hingga kini, sekitar 200 ribu peserta telah mengikuti berbagai workshop yang digelar PGRI Jawa Timur mengenai pemanfaatan teknologi digital dan AI dalam dunia pendidikan.
Untuk memperluas jangkauan pelatihan, PGRI akan membagi pelaksanaan program ke dalam empat zona yang mencakup sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Setiap zona akan didampingi oleh master trainer yang telah mendapatkan pelatihan khusus dan bertugas menjadi pengimbas bagi guru-guru lain di daerah.
"Kami akan membentuk master trainer yang kemudian ditugaskan di masing-masing zona. Mereka akan menjadi pengimbas bagi guru-guru lain di daerah," katanya.
Ia menilai penguasaan AI dan coding kini menjadi kebutuhan yang harus dimiliki guru untuk mendukung implementasi pembelajaran mendalam (deep learning) yang menjadi salah satu arah pengembangan pendidikan saat ini.
"AI akan menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Karena itu guru harus mampu memahami dan memanfaatkannya secara tepat," ujarnya.
Sementara itu, Ketua PGRI POWER Jawa Timur, Widodo, menjelaskan program tersebut merupakan gerakan penguatan kompetensi guru yang mengusung lima nilai utama, yakni Professionalism, Opportunity, Wisdom, Excellence, dan Resilience.
Melalui program ini, guru didorong untuk terus meningkatkan profesionalisme, memanfaatkan peluang pengembangan diri, memiliki kebijaksanaan dalam pembelajaran, mengedepankan keunggulan, serta tangguh menghadapi berbagai perubahan.
"Selain menanamkan nilai-nilai tersebut, PGRI POWER juga difokuskan pada peningkatan kemampuan guru dalam bidang teknologi digital, coding, dan kecerdasan buatan," lanjutnya.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengapresiasi langkah PGRI yang menginisiasi program peningkatan kompetensi guru di bidang AI dan digitalisasi.
Menurut Aries, proses pembelajaran saat ini tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi. Kehadiran AI dinilai mampu membantu guru beradaptasi dengan perubahan lingkungan pendidikan sekaligus menjawab kebutuhan peserta didik yang terus berkembang.
"Kami mengapresiasi PGRI Jawa Timur dan PGRI nasional yang sudah menginisiasi bagaimana guru-guru mempersiapkan diri menghadapi digitalisasi dan AI. Proses pembelajaran saat ini tidak bisa terlepas dari perkembangan teknologi tersebut," kata Aries.
Ia menambahkan program PGRI POWER akan membantu para guru memahami pemanfaatan AI secara tepat dalam dunia pendidikan. Dengan demikian, guru tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengoptimalkannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Aries menegaskan keberhasilan implementasi AI di sekolah sangat bergantung pada dukungan kepala sekolah yang memiliki visi kuat terhadap pengembangan digitalisasi, coding, dan pemanfaatan teknologi.
Karena itu, Dinas Pendidikan Jawa Timur akan terus mendorong seluruh satuan pendidikan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
"Kami akan mendorong sekolah-sekolah agar siap mengembangkan kompetensi yang dimiliki guru sehingga bisa menyesuaikan diri dengan digitalisasi dan AI," ujarnya.
Informasi Menarik Lainnya Baca di TribunJatim.com