Kopdes Merah Putih Jual Gas LPG Rp 17.500, Tegaskan Bukan untuk Bersaing dengan Warung, Fokus Suplai
ninda iswara June 18, 2026 07:52 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Kehadiran Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) di Jakarta mulai menjadi pilihan baru bagi warga yang ingin mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga lebih hemat.

Di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat, koperasi ini menawarkan sejumlah barang kebutuhan sehari-hari dengan harga di bawah warung kelontong maupun ritel modern.

Langkah tersebut menjadi salah satu strategi yang diusung KKMP untuk menarik minat masyarakat sekaligus memperkuat peran koperasi di tingkat kelurahan.

Meski menawarkan harga yang lebih murah, pengurus koperasi menegaskan bahwa keberadaan KKMP bukan untuk menjadi pesaing pelaku usaha kecil.

Sebaliknya, koperasi ini diklaim hadir untuk membuka ruang kolaborasi dan membantu meningkatkan kapasitas pelaku UMKM di lingkungan sekitar.

Baca juga: 6 Tuntutan Demo BEM UBK Hari Ini: Tolak Kenaikan BBM, Minta MBG dan Kopdes Merah Putih Dihentikan

Salah satu contoh yang paling mencolok terlihat dari penjualan gas elpiji 3 kilogram yang menjadi kebutuhan utama banyak rumah tangga.

Di KKMP Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat, harga gas melon dijual lebih rendah dibandingkan harga yang biasa ditemukan di warung.

Pengawas KKMP Sumur Batu, Fiko, mengatakan selisih harga tersebut menjadi salah satu daya tarik yang ditawarkan koperasi kepada warga.

"Misalnya tabung gas elpiji melon ya, mohon maaf, kalau di warung-warung itu mungkin sekitar antara Rp 20.000 sampai Rp 21.000. Di kami (KKMP) sendiri kami bisa agak menekan menjadi sekitar Rp 17.500 sampai Rp 18.000, selisih 2.000 perak," kata Fiko saat ditemui di sela pelatihan Pengurus KKMP di Jakarta Creative Hub, Jakarta Pusat, Rabu (17/6/2026).

Menurutnya, kemampuan koperasi menjual lebih murah tidak terlepas dari model bisnis yang diterapkan.

KKMP disebut tidak mengejar keuntungan besar dari setiap produk yang dijual kepada masyarakat.

Selain itu, pasokan barang diperoleh langsung dari distributor utama sehingga rantai distribusi menjadi lebih pendek.

Skema tersebut membuat biaya operasional dan harga pokok barang dapat ditekan lebih efisien.

Dengan biaya yang lebih rendah, koperasi memiliki ruang untuk menawarkan harga yang lebih kompetitif kepada warga.

Fiko menegaskan bahwa strategi ini menjadi salah satu cara KKMP membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok dengan pengeluaran yang lebih ringan.

"Kenapa bisa begitu? Karena kami mengambil margin keuntungan yang sangat tipis dan barangnya kami ambil langsung dari distributor utama," ungkap Fiko.

Melalui pendekatan tersebut, KKMP berharap dapat memperluas manfaat koperasi sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.

Khawatir Ada Kesenjangan

Ia mengakui bahwa strategi banting harga ini sempat menimbulkan kesenjangan dan memicu kekhawatiran dari para pengusaha warung kelontong sekitar yang merasa tersaingi.

Namun, Fiko menegaskan bahwa koperasi justru hadir untuk menjadi mitra yang memudahkan warga di tengah lonjakan harga.

"Sama sekali tidak ada niatan untuk bersaing atau mematikan warung kelontong yang sudah ada. Kami cuma mau memudahkan warga. Posisi KKMP ini sebenarnya adalah sebagai supply chain atau rantai pasok. Justru kami mendorong warung-warung itu untuk kulakan di koperasi, supaya mereka dapat harga modal yang lebih murah," ucapnya.

Fokus jadi Pemasok dan Distributor UMKM

Sementara itu, pengurus KKMP Kelurahan Utan Panjang, Kemayoran, Purwanto (45), memaparkan bahwa koperasinya berfokus untuk menyuplai kebutuhan dasar harian bagi para pengecer.

Selain itu, KKMP Utan Panjang juga berupaya mengangkat potensi usaha warga lokal dengan memperluas jaringan distribusinya.

"Fokus kami di KKMP Utan Panjang adalah menyuplai kebutuhan dasar seperti beras dan minyak goreng untuk pengecer. Selain itu, kami juga bertindak sebagai offtaker (penyerap) untuk produk-produk UMKM makanan olahan warga. Jadi, ekosistem ekonomi kelurahannya benar-benar berputar," tutur Purwanto.

Ia menyebutkan bahwa banyak warga di Kelurahan Utan Panjang yang menggerakkan usaha mikro di bidang produksi makanan rumahan.

Produk-produk inilah yang didorong untuk dipasarkan ke jangkauan konsumen yang lebih luas melalui koperasi.

"Ada usaha kayak peyek, terus ada usaha makanan olahan jengkol, sayur-mayur. Rata-rata makanan rumahan, itu untuk kita coba masukkan ke dalam kegiatan unit usaha koperasi," jelasnya.

Baca juga: Sekolah di Ende Dirusak untuk Akses Kopdes Merah Putih, Bupati Yosef: Izin Diberikan dengan Syarat

KOPDES MERAH PUTIH - Kopdes Merah Putih jual gas LPG Rp 17.500
KOPDES MERAH PUTIH - Kopdes Merah Putih jual gas LPG Rp 17.500 (TribunJabar.id/Gani Kurniawan)

Bukan untuk Bersaing dengan Warung dan Ritel

Kepala Bidang Koperasi Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta, Olansons, menepis pandangan skeptis masyarakat yang menilai KKMP akan mematikan usaha warung kecil dan ritel modern.

"Yang pertama harus diketahui, KKMP hadir bukan menjadi pesaing buat bisnis modern yang sudah ada. Tetapi ini menjadi kolaborasi," tegas Olansons.

Ia merangkum bahwa koperasi didesain untuk memiliki dua fungsi strategis, yaitu sebagai penyalur atau supply chain dari perusahaan besar, dan sebagai penyerap yang menampung barang-barang dari pelaku usaha kecil.

Olansons juga menekankan bahwa modal operasional KKMP murni dihimpun dari simpanan wajib dan pokok warganya sendiri.

"Sehingga, KKMP ini adalah bentuk asli ekonomi dari masyarakat, untuk masyarakat, oleh masyarakat," sambungnya.

Sementara itu, Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas SDM dan Talenta Kementerian Koperasi RI, Siti Aedah, menambahkan bahwa KKMP merupakan jembatan bagi para pelaku UMKM yang selama ini kerap kesulitan saat mencoba menembus ketatnya persaingan di pasar ritel berskala besar.

"Justru KKMP ini arahnya ke situ, menggaet UMKM bisa masuk ke bisnisnya. Barang-barang UMKM itu bisa ditaruh di KKMP untuk menggerakkan ekonomi masyarakat," kata Siti

Sertifikasi Bendahara Koperasi Mulai 2027

Adapun, untuk memastikan perputaran modal masyarakat yang dihimpun oleh KKMP dikelola secara aman dan transparan, Kementerian Koperasi RI menargetkan sertifikasi kompetensi resmi bagi bendahara koperasi akan dimulai pada tahun 2027 mendatang.

Siti menyebut sertifikasi ini akan dilaksanakan melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) sebagai antisipasi kesalahan pengelolaan keuangan koperasi.

"Masalah keuangan itu adalah masalah yang sangat penting dalam pengelolaan koperasi. Tentu bendahara ini sangat penting integritasnya seperti apa. Nah, kami dari Kemenkop sudah mengeluarkan skema sertifikasi untuk bendahara bersama BNSP," ujar Siti.

Siti mengungkapkan, uji kompetensi tersebut akan mengukur kemampuan teknis para bendahara sejak tahap pencatatan uang masuk, pembuatan jurnal, hingga penyusunan laporan akhir keuangan.

Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Dinas PPKUKM DKI Jakarta, Deny Listiantoro, menyatakan bahwa kegiatan pelatihan para pengurus KKMP di wilayah DKI Jakarta saat ini memang difokuskan secara khusus pada pengelolaan keuangan.

"Materinya itu ada materi pengembangan diri, dan yang paling utama adalah materi tentang koperasi, terutama masalah keuangan. Harapan kita di sesi materi hari ini, kita lebih memperdalam terkait dengan laporan keuangan dan sebagainya," tutur Deny.

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.