Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Setelah Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Nana Kencanawati menyampaikan permohonan maaf atas komentar kontroversial yang viral di media sosial, Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Sophi Zulfia akhirnya mengungkap sikap resmi lembaga terkait polemik tersebut.
Sophi menegaskan, komentar yang menjadi sorotan publik itu merupakan pernyataan pribadi dan tidak mewakili sikap kelembagaan DPRD Kabupaten Cirebon.
Ia juga mengaku menyayangkan kegaduhan yang muncul akibat peristiwa tersebut.
Baca juga: Viral Sebut Pendemo Gembrot, Wakil Ketua DPRD Cirebon Minta Maaf dan Ingin Temui Bu Denok
Menurut Sophi, DPRD Kabupaten Cirebon telah mengambil langkah awal dengan memberikan teguran kepada yang bersangkutan.
Selain itu, lembaga juga akan melakukan tindak lanjut secara internal sebagai bentuk respons terhadap polemik yang berkembang di masyarakat.
"Kami tentunya juga sudah menegur dan nanti akan ada tindak lanjut internal di DPRD. Namun, saya sampaikan dan tegaskan sekali lagi bahwa hal itu tidak mengatasnamakan lembaga DPRD, dan kami juga sangat menyayangkan hal tersebut," ucapnya.
Ia menilai, peristiwa tersebut harus menjadi pelajaran bagi semua pihak, terutama dalam menggunakan media sosial.
Karena itu, Sophi mengimbau seluruh anggota DPRD maupun masyarakat agar lebih bijak dalam menyampaikan pendapat di ruang digital.
"Jadi, kami juga menghimbau kepada semuanya, baik dari DPRD maupun seluruh lapisan masyarakat, agar bijak dalam bermedsos," jelas dia.
Pernyataan Ketua DPRD itu muncul setelah Nana Kencanawati menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada Madenok atau Bu Denok, perempuan yang menjadi sasaran komentarnya di media sosial.
Dalam keterangannya kepada media, Nana mengaku menyesali komentarnya dan berharap permintaan maaf tersebut dapat diterima oleh pihak yang merasa tersinggung.
"Saya secara pribadi, tidak mengatasnamakan partai maupun lembaga saya DPRD, memohon maaf kepada khususnya Ibu Nok, Bunda Denok maksud saya, yang sudah mungkin merasa sakit hati, merasa tersinggung dengan komen saya di media IG Radar," ujar Nana.
Ia juga meminta maaf kepada institusi DPRD Kabupaten Cirebon dan Partai Gerindra yang ikut terseret dalam polemik tersebut.
"Mudah-mudahan permohonan maaf ini bisa diterima oleh Bu Denok. Saya juga mohon maaf kepada institusi saya, Lembaga DPRD, kepada Partai Gerindra yang mungkin dengan komentar saya kemarin menjadi viral dan membuat institusi saya tidak nyaman, membuat partai saya juga mungkin merasa terganggu," katanya.
Nana mengaku, menjadikan kejadian tersebut sebagai pelajaran berharga dan berjanji akan lebih berhati-hati dalam bersikap maupun berkomunikasi di ruang publik.
"Sekali lagi saya mohon maaf dan saya akan menjadikan ini sebuah pelajaran yang sangat berharga. Saya akan mengambil hikmah dari apa yang terjadi sekarang. Mudah-mudahan ke depan hal ini tidak terulang lagi," tuturnya.
Tak hanya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka, Nana juga mengungkapkan keinginannya untuk bertemu langsung dengan Bu Denok.
Ia bahkan mengaku, telah berupaya mencari alamat perempuan tersebut sejak polemik itu mencuat.
Menurut Nana, upaya itu mulai menemukan titik terang setelah sejumlah tokoh menawarkan bantuan mediasi agar dirinya dapat bertemu langsung dengan Bu Denok.
"Dan saya betul mencari Bu Nok, dan akhirnya saya minta dimediasi untuk ketemu Bu Nok dan saya mau meminta maaf," katanya.
Namun hingga kini pertemuan tersebut belum terlaksana karena Bu Denok disebut sedang memiliki agenda di Jakarta selama beberapa hari.
Baca juga: Ada 3.486 Anak Tak Sekolah di Kota Cirebon, Disdik Lakukan Langkah Ini
*Komentar 'Gembrot' Picu Polemik*
Sebelumnya, nama Nana Kencanawati menjadi sorotan publik setelah komentar yang ditulisnya di media sosial dinilai mengandung unsur body shaming terhadap seorang perempuan yang menyampaikan kritik terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Polemik bermula dari beredarnya video aksi demonstrasi Aliansi Mahasiswa Cirebon di depan Gedung DPRD Kota Cirebon pada Senin (15/6/2026).
Dalam aksi tersebut, Madenok atau Bu Denok menyampaikan orasi yang menolak program MBG dan mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah.
Video tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial.
Namun perhatian publik tertuju pada komentar yang ditulis Nana di kolom unggahan video itu.
"Lagian siapa yang mau ngasih lo makan????," tulis Nana.
Tak lama kemudian, ia kembali menuliskan komentar lain yang memicu kecaman publik.
"Udah GEMBROT!!!," tulisnya.
Tangkapan layar komentar tersebut dengan cepat menyebar luas dan memicu kritik dari berbagai kalangan.
Banyak warganet menilai komentar itu tidak mencerminkan etika seorang pejabat publik karena dianggap merendahkan fisik seseorang.
Gelombang kritik yang terus mengalir akhirnya mendorong Nana menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf secara terbuka.
Sementara aksi demonstrasi yang menjadi awal polemik tersebut merupakan bagian dari gerakan mahasiswa bertajuk "Indonesia Bangkrut" yang juga menyoroti berbagai kebijakan publik selain Program Makan Bergizi Gratis.