Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Adi Ramadhan Pratama
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pelaku usaha tahu dan tempe di Kabupaten Bandung masih menghadapi tekanan biaya produksi, akibat kenaikan harga kedelai impor dalam beberapa bulan terakhir.
Ketua Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Kabupaten Bandung, Ghufron Cokro Valentino mengungkapakan, harga kedelai hingga saat ini masih berada di kisaran Rp11 ribu per kilogram.
Padahal menurutnya, nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menguat dibandingkan beberapa waktu lalu. Tercatat per hari ini, menyentuh angka Rp17.740, yang sebelumnya sempat Rp18.190.
Baca juga: Harga Kedelai dan Plastik Meroket, 620 Perajin Tahu dan Tempe di Kabupaten Bandung Kian Tertekan
Ghufron menilai secara perhitungan, harga kedelai seharusnya mulai mengalami penyesuaian seiring membaiknya kurs rupiah. Namun hingga kini, harga di pasaran belum juga turun.
"Seharusnya lumayan sudah turun, tapi tidak tahu kenapa importir belum menurunkan harga kedelai. Mungkin ada harga yang masih tinggi buat mereka," ujarnya kepada awak media, Rabu (17/6/2026).
Akibat adanya kenaikan tersebut, Ghufron mengatakan, sejumlah perajin tahu dan tempe di Kabupaten Bandung tertekan. Bahkan, mereka terpaksa harus mengecilkan ukuran dan mengurangi produk.
"Daya beli masyarakat juga menurun, di antaranya lantaran nilai tukar rupiah yang melemah atas dolar Amerika Serikat. Dampaknya, omzet perajin tahu dan tempe menurun," katanya.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah pusat tengah menyiapkan kebijakan subsidi kedelai impor untuk membantu meringankan beban perajin. Rencananya mereka memberi subsidi sebesar Rp2.000 per kilogram.
Menanggapi rencana itu, Ghufron mengaku menyambut baik langkah itu. Menurutnya, pembahasan mengenai subsidi itu berawal dari aspirasi Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo).
Dirinya menjelaskan, setelah penyampaian aspirasi tersebut, sejumlah pertemuan digelar dengan melibatkan berbagai instansi, termasuk Bappenas, Bulog, serta pemangku kepentingan lainnya.
Baca juga: Harga Kedelai Meroket, Perajin Tahu dan Tempe di Bandung Didorong Tetap Bertahan
Sebagai tindak lanjut, Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) Jawa Barat telah menggelar rapat bersama Kopti dari berbagai daerah di Jawa Barat untuk menghimpun data perajin.
"Kami diminta mempersiapkan data para perajin tahu dan tempe. Untuk pengelolaannya nanti melalui Kopti karena memiliki badan hukum, penyaluran bantuan yang berasal dari APBN," ucapnya.
Meski demikian, Ghufron menilai kebijakan subsidi kemungkinan tidak akan bersifat permanen. Bantuan tersebut diberikan untuk mengantisipasi gejolak harga kedelai yang dipengaruhi kondisi pasar global.
"Kalau harga kedelai sudah kembali normal dan kondisi pasar stabil, tentu subsidi bisa saja dihentikan. Jadi sifatnya lebih sebagai langkah antisipasi ketika terjadi gejolak harga," ujarnya.
Diketahui, rencana kebijakan subsidi kedelai telah dibahas oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan. Pada tahap awal, pemerintah akan menyalurkan subsidi untuk sekitar 250.000 ton kedelai impor.