Keluarga sebagai Ruang Pewarisan Emosi
Abd Rahman June 18, 2026 08:45 AM

Oleh : Nur Salim Ismail 

TRIBUN-SULBAR.COM- Ketika mendengar kata “warisan”, kebanyakan orang segera membayangkan rumah, tanah, tabungan, atau harta benda yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya. Padahal, ada warisan lain yang sering luput dari perhatian, meskipun pengaruhnya jauh lebih panjang daripada harta benda. Warisan itu adalah emosi.

Cara seseorang mencintai, marah, menghadapi konflik, merespons kecemasan, bahkan memandang dirinya sendiri, tidak lahir begitu saja. Sebagian besar dibentuk oleh lingkungan keluarga, tempat ia bertumbuh. Karena itu, keluarga sesungguhnya bukan hanya ruang pewarisan nilai dan budaya, tetapi juga ruang pewarisan emosi.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai keluarga yang tampak baik-baik saja dari luar, tetapi menyimpan ketegangan yang tidak pernah benar-benar selesai. Ada pasangan yang hidup serumah tetapi terasa berjauhan. Ada pula pasangan yang begitu melekat satu sama lain hingga kehilangan batas-batas pribadi. Dalam kedua situasi tersebut, ketenangan keluarga sesungguhnya sedang diuji.

Dalam Jurnal The Family Systems Institute, Jenny Brown menulis tentang Teori Sistem Keluarga yang dikembangkan oleh Murray Bowen. Ia menjelaskan bahwa sumber utama kecemasan dalam keluarga sering muncul dari dua keadaan yang tampaknya bertolak belakang: hubungan yang terlalu dekat atau justru terlalu jauh.

Kedekatan yang berlebihan membuat seseorang sulit membedakan perasaan dirinya dengan perasaan pasangannya. Sebaliknya, jarak emosional yang terlalu lebar menciptakan keterasingan dan kesepian di tengah kebersamaan. (Brown, 1999)

Ketika keluarga tidak mampu mengelola situasi tersebut dengan baik, lahirlah apa yang disebut Bowen sebagai chronic anxiety atau kecemasan kronis. Berbeda dengan kecemasan sesaat yang muncul karena peristiwa tertentu, kecemasan kronis bekerja secara perlahan dan terus-menerus. Ia memengaruhi cara berpikir, cara berkomunikasi, dan cara mengambil keputusan dalam keluarga.

Menariknya, kecemasan itu tidak hanya berasal dari tekanan hidup yang sedang dihadapi. Sebagiannya merupakan warisan emosional dari generasi sebelumnya. Pengalaman masa kecil, pola pengasuhan, konflik keluarga yang tidak selesai, hingga ketakutan-ketakutan yang tidak pernah diungkapkan dapat diwariskan secara tidak sadar kepada anak-anak.

Pada posisi inilah keluarga menjadi ruang pewarisan emosi. Bowen menyebut salah satu pola yang sering muncul sebagai fusi emosional. Dalam kondisi ini, seseorang terlalu bergantung secara emosional kepada pasangannya. Kebahagiaan dirinya ditentukan sepenuhnya oleh kebahagiaan orang lain. Ketika pasangan sedih, ia ikut runtuh. Ketika pasangan marah, ia kehilangan ketenangan.

Hubungan seperti ini sering dipersepsikan sebagai bentuk cinta yang mendalam, padahal di dalamnya terdapat ketergantungan emosional yang berlebihan.

Sebaliknya, keluarga yang sehat ditandai oleh kemampuan melakukan diferensiasi diri. Artinya, seseorang tetap mampu mencintai pasangannya tanpa kehilangan identitasnya sendiri. Ia mampu berkata, “Saya mencintaimu, tetapi saya tetap memiliki pikiran, keyakinan, dan pilihan saya sendiri.” Dalam hubungan seperti ini, kedekatan tidak menghapus kebebasan, dan perbedaan tidak dianggap sebagai ancaman.

Konsep lain yang menarik dari Bowen adalah triangle atau segitiga relasi. Menurutnya, ketika ketegangan meningkat antara dua orang, mereka cenderung melibatkan pihak ketiga untuk meredakan kecemasan. Dalam keluarga, pihak ketiga itu bisa berupa anak, orang tua, mertua, pekerjaan, bahkan aktivitas sosial.

Fenomena ini sangat sering terjadi tanpa disadari. Seorang ibu datang mengeluhkan perilaku anaknya yang dianggap nakal, sulit diatur, atau mengalami penurunan prestasi. Namun setelah dilakukan penelusuran yang lebih mendalam, ditemukan bahwa hubungan suami-istri sedang mengalami kebekuan komunikasi. Ada jarak emosional yang tidak pernah dibicarakan dan kekecewaan yang dipendam terlalu lama. Dalam situasi seperti itu, anak sering kali menjadi tempat berlabuhnya kecemasan yang tidak terselesaikan.

Anak kemudian diposisikan sebagai sumber masalah, padahal sesungguhnya ia hanya sedang memantulkan ketegangan yang ada dalam sistem keluarga. Ia menjadi korban dari konflik yang tidak pernah benar-benar diselesaikan oleh orang tuanya.

Kecemasan yang berlangsung terus-menerus kemudian melahirkan apa yang disebut Bowen sebagai proses proyeksi keluarga. Orang tua yang cemas akan cenderung memproyeksikan kecemasannya kepada anak. Mereka menjadi terlalu melindungi, terlalu mengontrol, dan terlalu khawatir terhadap berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.

Niatnya mungkin baik, tetapi dampaknya tidak selalu demikian. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kecemasan sering mengalami kesulitan mengembangkan kemandirian psikologis. Ia terbiasa hidup dalam ketakutan, ragu mengambil keputusan, dan mudah merasa tidak aman ketika menghadapi tantangan kehidupan. Pada akhirnya, kecemasan yang diwariskan itu berpotensi melahirkan generasi yang rapuh secara emosional.

Pada sisi lain, ketegangan keluarga juga dapat muncul dalam bentuk yang lebih halus. Keluhan fisik yang berulang seperti migrain, gangguan tidur, kelelahan kronis, atau berbagai keluhan psikosomatis terkadang tidak dapat dipisahkan dari kondisi emosional yang sedang dialami seseorang. Tubuh sering kali berbicara ketika jiwa tidak menemukan ruang untuk mengungkapkan kegelisahannya.

Karena itu, memahami keluarga tidak cukup hanya dengan melihat perilaku individu. Kita perlu melihat hubungan-hubungan yang membentuk perilaku tersebut. Sebab sering kali yang tampak sebagai masalah individu sesungguhnya adalah gejala dari sistem yang sedang mengalami ketegangan.

Dalam perspektif Islam, pemahaman ini memberikan cara pandang yang lebih mendalam terhadap konsep keluarga sakinah. Selama ini sakinah sering dipahami sebagai keadaan rumah tangga yang tenang, damai, dan bebas konflik. Akibatnya, ketika pertengkaran muncul, sebagian pasangan merasa bahwa rumah tangganya telah gagal menjadi keluarga sakinah.

Padahal kehidupan rumah tangga tidak pernah steril dari perbedaan dan konflik. Dua manusia yang dibesarkan dalam lingkungan berbeda, memiliki pengalaman berbeda, serta membawa luka dan harapan yang berbeda, tentu akan mengalami benturan dalam perjalanan hidupnya.

Karena itu, sakinah tidak semata-mata berarti hidup tanpa konflik. Sakinah adalah kemampuan menjaga ketenangan ketika konflik datang. Sakinah adalah kemampuan berpikir jernih ketika emosi sedang meninggi. Sakinah adalah keberanian untuk tidak menjadikan kecemasan sebagai warisan bagi generasi berikutnya.

Dalam pengertian ini, keluarga bukan sekadar tempat tinggal bersama, melainkan tempat berlangsungnya pembelajaran emosional yang paling mendasar. Anak-anak belajar tentang cinta dari cara orang tuanya saling mencintai. Mereka belajar tentang kemarahan dari cara orang tuanya bertengkar. Mereka belajar tentang ketenangan dari cara orang tuanya menghadapi kesulitan.

Apa yang diwariskan keluarga bukan hanya nama dan nasab, tetapi juga cara merasakan kehidupan.

Mungkin karena itu, tugas terbesar orang tua bukan hanya menyediakan kebutuhan materi bagi anak-anaknya. Tugas yang tidak kalah penting adalah menghadirkan lingkungan emosional yang sehat. Sebab di sanalah generasi masa depan dibentuk.

Pada akhirnya, setiap keluarga akan mewariskan sesuatu kepada anak-anaknya. Pertanyaannya bukan apakah kita akan mewariskan sesuatu atau tidak, melainkan apakah yang kita wariskan itu ketenangan atau kecemasan.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.