SURYA.CO.ID - Kondisi kontras terjadi diantara mahasiswa terkait ajakan pemerintah untuk mengunjungi Papua, imbas polemik film Pesta Babi.
Perwakilan Mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta menolak ajakan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid untuk pergi ke Papua guna melihat langsung kondisi di sana.
Di sisi lain, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka justru sudah bersama perfilmwakilan mahasiswa 5 universitas saat ini sedang mengunjungi sejumlah wilayah di Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Penolakan keras mahasiswa UGM itu disampaikan setelah Sudaryono dan Nusron Wahid mengajak mereka saat acara diskusi di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Senin, (15/6/2026), yang berujung ricuh.
Saat itu sejumlah mahasiswa menuding bahwa proyek food estate atau lumbung pangan di Papua membuat orang Papua tergusur dari tempat tinggalnya.
Baca juga: 4 Pernyataan Budiman Sudjatmiko Usai Diusir dari Diskusi di UGM, Agak Tak Percaya Mereka Mahasiswa
Sudaryono dan Nusron kemudian membalas tudingan itu dengan mengajak para mahasiswa untuk pergi Papua.
Mesa, perwakilan mahasiswa UGM, mengatakan pihaknya menolak ajakan kedua pejabat itu.
“Alih-alih mengakui kesalahan, mereka justru meminta salah satu massa aksi untuk melihat secara langsung kondisi di Papua. Kami tidak menginginkan kondisi di Papua hanya dilihat oleh segelintir orang dari kami saja,” kata Mesa saat konferensi pers di Balairung UGM, Rabu, (17/6/2026), dikutip dari Tribun Jogja.
Menurut Mesa, apabila pemerintah meyakini tidak ada penindasan rakyat Papua, seharusnya pemerintah harus membuka akses informasi bagi insan pers.
“Jika memang benar tidak ada penindasan dan kekerasan terhadap rakyat di Papua, maka tunjukkanlah kepada seluruh masyarakat Indonesia. Tunjukkan hal tersebut dengan membuka akses seluas-luasnya bagi pers untuk meliput kondisi di Papua dan tarik semua pasukan militer yang selama ini menebar teror pada rakyat,” ujarnya.
“Jika pemerintah tak bisa melakukan hal tersebut, maka setidaknya akuilah kesalahan dan berhenti mengelak dengan mengatakan bahwa semua orang punya salah sebab kesalahan yang kalian lakukan adalah sumber penderitaan ribuan bahkan jutaan rakyat Indonesia,” katanya.
Mesa menuduh pemerintah selama ini menyembunyikan berbagai persoalan yang terjadi di Papua dengan membatasi karya-karya jurnalistik.
“Penderitaan yang selama ini terus kalian tutup-tutupi dengan mendiskreditkan, membatasi, serta mengkriminalisasi karya-karya dokumenter dan jurnalistik yang bukan menyampaikan kondisi fiktif belaka, melainkan menampilkan penderitaan rakyat, seperti yang dialami oleh saudara-saudara kita di Papua yang mengalami penindasan dan kekerasan oleh pemerintah,” katanya.
Diskusi yang menghadirkan Sudaryono, Nusron Wahid, dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko di GIK UGM berlangsung ricuh.
Diskusi yang bertajuk “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” itu digeruduk oleh para mahasiswa sehingga Sudaryono, Nusron, dan Budiman terpaksa dievakuasi dari GIK.
Sejumlah mahasiswa meluapkan kemarahan kepada ketiga pejabat itu. Mereka naik ke atas panggung dan membentangkan spanduk putih bertuliskan “HENTIKAN ROMANSA ISTANA”.
Beberapa dari mereka dengan lantang berteriak “penjilat”, “revolusi”, dan mengeluarkan umpatan terhadap pemerintah.
Setelah situasi panas mereda, Nusron dan Sudaryono mendapat kesempatan berdialog dengan mahasiswa dan aktivis. Dia memperkenankan mahasiswa bertanya apa saja kepadanya.
“Kita ini datang untuk menjawab semua kegundahan Anda. Anda boleh ngomong apa saja, tapi kita sudah buka di dalam forum ini sehingga Anda boleh tanya masalah kemiskinan, masalah Makan Bergizi Gratis (MBG), masalah apa saja. Boleh bertanya dan kita jawab,” ujar Sudaryono.
Kemudian, dia mengajak mahasiswa untuk membicarakan pesta babi, sebuah tradisi budaya di Papua. Tradisi itu diangkat dalam film kontroversial berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.
“Bahkan, nanti kalau ada yang kurang baik, kita ajak Anda semua untuk ikut, misalnya orang ngomongin pesta babi di Papua,” ujar Sudaryono.
“Ini saya kasih tahu misalnya pesta babi di Merauke. Kalau mau ayo kita pergi, misalnya gitu.”
Sementara itu, seorang mahasiswa mengklaim ada ratusan ribu hektare tanah di Papua yang difungsikan menjadi food estate atau lumbung pangan.
“Ratusan ribu hektare habis buat food estate. Bayangkan. Kita lihat saja tanah itu. Siapa yang menentukan tata ruang itu? Bapak, kan? Bayangin, Pak,” tanya mahasiswa itu.
Mahasiswa itu berkata gara-gara proyek food estate, banyak orang Papua harus tergusur dari tanahnya.
Nusron yang menjadi Menteri ATR/BPN kemudian menimpali pernyataan mahasiswa.
“Sekarang gini, Mas, kalau Anda mengatakan saya menggusur orang Papua, kapan kamu mau tak ajak ke sana lihat?” tanya Nusron.
Sejumlah mahasiswa menjawab, “Ngapain?” Mereka balik bertanya apakah Nusron sudah menonton film Pesta Babi.
Di bagian lain, Wakil Presiden (Wapres) RI Gibran Rakabuming melakukan kunjungan kerja ke Nusa Tenggara Timur (NTT), Gorontalo, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan pada Kamis (18/6/2026) hingga Minggu (21/6/2026).
Dalam kunjungan kerjanya ini, Gibran mengajak lima perwakilan mahasiswa dari Universitas Indonesia, Universitas Pelita Harapan, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Sanata Dharma, dan Institut Seni Budaya Indonesia.
"Hari ini kami ditemani beberapa perwakilan mahasiswa, kita akan berangkat ke Ende, Gorontalo, dan juga Papua," kata Gibran di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis pagi.
Gibran juga menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa yang telah memberikan aspirasi terkait program-program pemerintah secara damai.
Ia memastikan, pemerintah berkomitmen untuk terus memperbaiki tata kelola program-program pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
"Kita pastikan setiap rupiahnya benar-benar termanfaatkan dengan baik, dan juga yang paling penting terbebas dari praktik korupsi. Saya kira langkah-langkah ini penting untuk tetap menjaga kepercayaan publik," kata Gibran.
Provinsi pertama yang dikunjungi Gibran adalah NTT.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, Gibran bertolak ke NTT dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, sekitar pukul 06.00 WIB.
Sejumlah mahasiswa yang diajak Gibran juga ikut berangkat bersama dari Lanud Halim Perdanakusuma dengan pesawat TNI AU.
Selama kunjungan kerja, Gibran dijadwalkan meninjau pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Ende, NTT, serta meninjau rencana pengembangan Koperasi Desa Merah Putih dan berdialog dengan masyarakat.
Di Provinsi Gorontalo, Gibran dijadwalkan menghadiri dan membuka Pekan Nasional Petani Nelayan (PENAS) XVII Tahun 2026, sekaligus meninjau Bendungan Bulango Ulu.
Di Provinsi Papua Barat, Wapres diagendakan meninjau Sentra Produksi Kakao Ransiki di Kabupaten Manokwari Selatan serta membuka Pesta Paduan Suara Gerejawi (PESPARAWI) Nasional XIV di Manokwari.
Gibran juga akan melanjutkan agenda ke Provinsi Papua Selatan melalui Kabupaten Asmat untuk meninjau sejumlah fasilitas publik, antara lain Asmat Museum of Culture and Progress, Sekolah Lapang Sagu, RSUD Agats, serta Gereja Katedral Salib Suci.