Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Peserta workshop menulis aksara Sunda tampak begitu hati-hati ketika harus menggores tulisan dengan pisau kecil di atas daun lontar di Museum Sri Baduga, Kota Bandung.
Sambil melihat kamus bahasa Sunda, mereka menuliskan nama di daun lontar dan kemudian tulisan tersebut dioles dengan minyak hitam yang berbahan dasar kemiri, dan ketika dibersihkan aksara berwarna hitam pun muncul.
Melalui workshop bertema “Mengenal Dunia Pendidikan Pada Masa Kerajaan Sunda”, museum mengajak generasi muda menelusuri jejak pendidikan dan tradisi literasi yang berkembang pada masa Kerajaan Sunda.
Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan bentuk aksara Sunda, tetapi juga menghadirkan pengalaman langsung menulis di atas daun lontar, media yang dahulu digunakan untuk mencatat berbagai pengetahuan dan naskah penting.
Peserta diajak memahami bagaimana ilmu pengetahuan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya pada masa kerajaan.
Baca juga: Pembongkaran 174 Bangunan Liar di Pasirkoja Kota Bandung Berlanjut, Kini Rata dengan Tanah
Kepala UPTD Pengelolaan Kebudayaan Jawa Barat, Ary Heryanto, mengatakan workshop tersebut sengaja dirancang untuk mendekatkan generasi muda dengan warisan intelektual leluhur Sunda yang mulai jarang dikenal.
Menurutnya, di tengah dominasi generasi Z dan generasi Alpha yang hidup di era digital, penting untuk mengenalkan kembali bagaimana masyarakat Sunda pada masa lalu menulis dan mendokumentasikan pengetahuan.
“Sekarang generasi muda perlu tahu bahwa orang-orang dulu menulis aksara Sunda di daun lontar seperti ini. Jangan sampai di era globalisasi dan arus informasi yang serba cepat, mereka lebih mengenal penulisan bahasa asing dibanding bahasa mereka sendiri,” ujar Ary saat ditemui di Museum Sri Baduga, Jalan BKR No 185, Kamis (18/6/2026).
Dalam workshop tersebut, Ary juga turut mencoba menulis di atas daun lontar. Ia mengakui pengalaman tersebut tidak mudah karena berbeda dengan menulis menggunakan kertas atau perangkat digital.
“Sulit karena tidak ada penghapusnya. Jadi kita bisa membayangkan bagaimana orang-orang dulu menulis tanpa ada kesempatan menghapus kesalahan seperti sekarang,” katanya sambil tersenyum.
Melalui kegiatan tersebut, Ary ingin menunjukkan bahwa masyarakat Sunda pada masa kerajaan sebenarnya telah memiliki peradaban yang maju.
Ia mencontohkan keberadaan prasasti-prasasti pada masa Kerajaan Tarumanegara yang menjadi bukti bahwa masyarakat saat itu telah mengenal aksara dan budaya tulis.
“Pada abad ke-5 leluhur kita sudah mengenal aksara. Ditandai dengan adanya prasasti-prasasti pada masa Tarumanegara. Artinya mereka sudah melek huruf. Selain itu mereka juga mengenal sistem pertahanan, membangun parit di Pakuan Pajajaran, memiliki sistem pertanian, hingga astronomi. Sebenarnya peradaban mereka sudah maju,” ungkapnya.
Baca juga: PDIP Jabar Kucurkan Bantuan Ketiga untuk Bandung Zoo, Ono Titip 4 Pesan Penting untuk Faunaland
Menurut Ary, kegiatan mengenalkan aksara Sunda tidak sekadar menghadirkan romantisme masa lalu. Ia berharap peserta dapat mengambil semangat dan inspirasi dari pencapaian para leluhur.
“Saya ingin pengunjung memiliki spirit bahwa dulu leluhur kita orang-orang hebat. Maka kita sebagai generasi penerus juga harus menjadi orang hebat. Jadi semangat masa lalu itu menjadi bekal untuk menatap masa depan,” katanya.
Daun lontar yang digunakan dalam workshop tersebut didatangkan dari Bali. Ary menjelaskan bahwa pohon lontar tidak banyak ditemukan di Jawa Barat sehingga bahan tersebut lebih mudah diperoleh dari Pulau Dewata yang hingga kini masih mempertahankan tradisi penggunaan lontar dalam kehidupan budaya dan keagamaan.
Kegiatan workshop menghadirkan sejumlah akademisi dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, termasuk para filolog yang selama ini meneliti naskah-naskah kuno Sunda.
Salah satunya adalah Rahmat Sopian, dosen Fakultas Ilmu Budaya Unpad sekaligus Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara Jawa Barat.
Rahmat menjelaskan bahwa tradisi menulis di daun lontar telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Meski sulit menentukan awal mula penggunaannya, bukti tertulis yang masih bertahan menunjukkan tradisi tersebut sudah ada setidaknya sejak abad ke-15.
“Karena karakter daun lontar mudah rusak, peninggalan yang masih tersisa umumnya berasal dari sekitar abad ke-15. Tradisi ini sudah berlangsung di Tatar Sunda sejak ratusan tahun lalu,” ujarnya.
Ia menambahkan, jejak tradisi tersebut dapat ditemukan pada naskah-naskah yang tersimpan di Kabuyutan Ciburuy, Kabupaten Garut. Di lokasi tersebut ditemukan berbagai naskah, termasuk salinan dan naskah yang belum selesai ditulis.
Menurut Rahmat, workshop yang digelar Museum Sri Baduga merupakan bentuk revitalisasi terhadap tradisi menulis yang pernah hidup di masyarakat Sunda.
Baca juga: Kuasa Hukum Sebut LPSK Setujui Justice Collaborator Terdakwa Pembunuhan Satu Keluarga di Indramayu
“Kalau ada naskah duplikat berarti ada proses penyalinan. Kalau ada naskah yang tidak selesai berarti ada aktivitas menulis yang berlangsung. Jadi kegiatan ini sebenarnya menghidupkan kembali tradisi yang pernah berkembang sekitar 300 tahun lalu,” katanya.
Rahmat menilai pengenalan aksara Sunda dan penulisan lontar penting dilakukan di tengah kebiasaan generasi muda yang kini lebih banyak mengetik melalui gawai.
“Sekarang banyak yang hanya menggunakan dua jari untuk mengetik. Melalui kegiatan ini kami ingin mengajak mereka kembali mengenal tradisi menulis. Tidak hanya mengenal aksaranya, tetapi juga melatih motorik dan keterampilan menulis secara langsung,” jelasnya.
Antusiasme peserta menjadi salah satu hal yang menarik perhatian Rahmat. Meski sebagian besar baru pertama kali melihat bahkan menyentuh daun lontar, mereka tetap bersemangat mencoba menulis menggunakan alat tradisional tersebut.
“Saya cukup kaget karena antusiasmenya tinggi. Banyak yang baru pertama kali melihat lontar dan ternyata mereka tertarik mencoba. Ini menjadi pintu masuk yang baik untuk mengenalkan budaya Sunda kepada generasi muda,” katanya.
Rahmat mengakui teknik menulis di atas lontar memang memiliki tingkat kesulitan tersendiri.
Pengguna harus menggoreskan alat menyerupai pisau kecil dengan cara tertentu agar daun tidak robek.
“Kalau salah teknik bisa nyangkut di serat daun dan akhirnya robek. Bahkan ada bentuk aksara yang harus dibuat dalam dua tarikan, tidak bisa langsung sekaligus dan itu memang perlu latihan khusus,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Bali dapat menjadi rujukan penting dalam mempelajari teknik penulisan lontar karena tradisi tersebut masih berlangsung secara berkesinambungan di sana.
Seorang peserta workshop, Amiza, siswi kelas X SMA Negeri 27 Bandung, mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tersebut. Meski pernah mempelajari aksara Sunda di sekolah, pengalaman menulis langsung di atas lontar menjadi hal baru baginya.
“Kalau aksara Sundanya pernah belajar, masih ingat kalau dipelajari lagi, cuma kadang lupa,” katanya.
Menurut Amiza, mengenal aksara Sunda penting bagi generasi muda karena merupakan bagian dari identitas budaya yang perlu dijaga.
“Penting, karena menurut aku aksara Sunda itu indah. Kalau dipelajari, jadi makin tahu dan makin percaya bahwa Sunda punya aksara sendiri,” ujarnya.
Ia mengakui menulis di daun lontar cukup sulit, namun tidak mengurangi ketertarikannya untuk terus belajar.
“Kalau di sini memang susah, tapi kalau dipelajari lebih lama pasti lebih mudah. Saya tertarik banget untuk menulis menggunakan aksara Sunda,” katanya. (*)