TRIBUNNEWSMAKER.COM - Amerika Serikat dan Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan yang berpotensi mengakhiri ketegangan berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Kesepakatan tersebut disebut menjadi langkah penting untuk menghentikan konflik yang selama ini memicu kekhawatiran dunia internasional, sekaligus membuka peluang bagi dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi global.
Tak hanya itu, kesepakatan tersebut juga membuka jalan bagi Washington dan Teheran untuk kembali duduk bersama di meja perundingan guna membahas program nuklir Iran yang selama ini menjadi salah satu sumber perselisihan utama kedua negara.
Dilansir dari Associated Press, Kamis (18/6/2026), berdasarkan teks perjanjian yang dibaca oleh pejabat Amerika Serikat, Iran memperoleh sejumlah keuntungan dari kesepakatan tersebut.
Salah satu poin penting yang disebutkan adalah peluang bagi Iran untuk kembali menjual minyaknya secara lebih bebas ke pasar internasional.
Langkah itu dinilai dapat memberikan dampak signifikan bagi perekonomian Iran yang selama bertahun-tahun menghadapi berbagai tekanan akibat sanksi dan pembatasan perdagangan.
Baca juga: Sosok Mujazin Investor Dapur MBG yang Marah-marah di Kantor BGN, Mengaku Kena Tipu Rp 218 M
Selain membuka akses baru terhadap pemasukan negara dari sektor energi, kesepakatan tersebut juga dinilai mengembalikan posisi kedua negara ke titik yang relatif sama seperti beberapa bulan sebelumnya.
Menurut laporan tersebut, Amerika Serikat dan Iran pada dasarnya kembali ke kondisi yang mirip dengan situasi sekitar 3,5 bulan lalu, sebelum pecahnya eskalasi yang dipicu serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Perkembangan ini menjadi sorotan dunia karena dapat memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah, harga minyak global, hingga dinamika hubungan diplomatik antara negara-negara yang terlibat dalam konflik tersebut.
Jika implementasi kesepakatan berjalan sesuai rencana, maka peluang terciptanya stabilitas baru di kawasan dinilai semakin terbuka, termasuk dalam upaya melanjutkan negosiasi mengenai program nuklir Iran yang selama ini menjadi perhatian komunitas internasional.
Selat Hormuz akan dibuka
Perjanjian kesepakatan antara AS dan Iran telah ditandatangani pada Rabu (17/6/2026) malam waktu setempat.
Meski nota kesepahaman telah resmi berlaku, baik Washington maupun Teheran memastikan agenda pertemuan lanjutan di Swiss pada Jumat (19/6/2026) tetap akan dilaksanakan.
Dalam kesepakatan disebutkan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali dan AS menyebut akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Langkah tersebut diperkirakan akan berdampak pada penurunan harga bahan bakar.
Menurut pejabat AS, kapal-kapal dapat melintasi jalur pelayaran tanpa biaya selama 60 hari.
Baca juga: Mengenang Olivia Dewi, Model Meninggal Kecelakaan Nissan Juke, Ternyata Kakak Aktor, Ziarah ke Makam
Namun, mereka mengatakan tidak menutup kemungkinan akan kembali diberlakukan biaya di masa mendatang.
Dilansir dari Al Jazeera, Kamis, meskipun Trump bersikeras Selat Hormuz terbuka lebar untuk melintas, para pejabat Iran menegaskan setiap transit melalui selat tetap harus dikoordinasikan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Mereka mengatakan untuk kapal-kapal tetap mengikuti rute yang dekat dengan garis pantai Iran.
Operator pelayaran kapal saat ini diketahui masih waspada terhadap permusuhan yang dapat kembali meletus kapan saja.
Pertukaran rudal dan drone bersenjata di Teluk dalam beberapa pekan terakhir telah meningkatkan kekhawatiran keamanan di Selat Hormuz.
Kesepakatan antara AS dan Iran secara langsung menangguhkan sanksi yang diberlakukan Trump terhadap ekspor minyak Iran. Iran dapat kembali menjual minyak mentahnya di pasar global.
Tahun lalu, Iran diperkirakan memperoleh pendapatan sekitar 45 miliar dollar AS (sekitar Rp 800 miliar per kurs hari Kamis, 18/6/2026) dari penjualan minyak.
Iran diketahui hanya memiliki satu pembeli utama, China, dan harus menggunakan armada tanker bayangan untuk menghindari sanksi yang mengurangi keuntungan mereka.
Sementara itu, sejak blokade diberlakukan pada April, ekspor minyak Iran nyaris terhenti.
Dengan penangguhan sanksi, Iran diperkirakan dapat memperoleh lebih banyak pelanggan dan menjual minyaknya dengan harga pasar yang lebih tinggi.
Rancangan perjanjian mencakup ketentuan mengenai uranium yang diperkaya tingkat tinggi milik Iran.
Berdasarkan isi kesepakatan, uranium setidaknya harus diturunkan tingkat pengayaannya di lokasi penyimpanan.
Namun, rincian lebih lanjut mengenai program nuklir Iran masih akan dibahas dalam negosiasi berikutnya.
Pada 2018, Presiden AS Donald Trump menarik negaranya dari perjanjian nuklir dengan Iran karena menilai kesepakatan tersebut terlalu menguntungkan Teheran secara ekonomi.
Namun, pada rancangan kesepakatan terbaru justru menawarkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi Iran.
Salah satu keuntungan yang dijanjikan adalah peluang pencabutan seluruh sanksi internasional terhadap Iran. Jika terwujud, langkah ini akan melampaui perjanjian nuklir tahun 2015.
Kesepakatan tersebut juga menjanjikan pembentukan dana rekonstruksi sebesar 300 miliar dollar AS (sekitar Rp 5,3 kuadriliun) untuk memperbaiki kerusakan akibat perang di Iran.
Salah satu pejabat AS mengatakan perjanjian tersebut tidak mewajibkan AS menyumbang dana ke dalam skema itu, tetapi mengizinkan negara lain, termasuk negara-negara Arab Teluk, untuk memberikan kontribusi.
Sebagai perbandingan, Bank Dunia memperkirakan Suriah membutuhkan sekitar 215 miliar dollar AS untuk membangun kembali negaranya setelah 13 tahun perang saudara.
Sementara Jalur Gaza diperkirakan membutuhkan sekitar 53 miliar dollar AS setelah dua tahun perang dengan Israel.
Perjanjian tersebut juga menjanjikan pencairan kembali aset-aset Iran bernilai miliaran dollar yang selama ini dibekukan di luar negeri, melalui mekanisme yang akan dirundingkan kedua pihak.
Pemerintahan Trump sebelumnya menyatakan tujuan perang adalah menghancurkan arsenal rudal Iran, memutus dukungannya terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan, melumpuhkan angkatan laut Iran, serta memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir.
Selama tujuh minggu pengeboman oleh AS dan Israel, kemampuan militer Iran diyakini mengalami kerusakan besar, termasuk fasilitas produksi rudal.
Namun, tingkat kerusakannya belum diketahui secara pasti, dan Iran masih mampu melancarkan serangan ke Israel hingga pekan lalu.
Hubungan Iran dengan kelompok-kelompok sekutunya seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan milisi Syiah di Irak juga tampaknya tetap kuat.
Meski demikian, baik isu rudal maupun dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok tersebut tidak termasuk dalam agenda negosiasi mendatang. Kesepakatan sementara hanya menyebut bahwa pembicaraan akan berfokus pada program nuklir Iran.
(Tribunnewsmaker.com/Kompas.com/Fatimah Az Zahra)