TRIBUNBENGKULU.COM - Ketua BEM Universitas Bung Karno (UBK), Muhammad Abdi Maludin, buka suara terkait polemik pertemuan mahasiswa dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang belakangan ramai disebut sebagai "settingan" politik.
Abdi menegaskan, pertemuan tersebut bukan hasil desain politik maupun kesepakatan yang telah disusun sebelumnya. Menurutnya, agenda itu murni merupakan hasil diplomasi mahasiswa di lapangan dan tidak berkaitan dengan kepentingan politik tertentu.
Di sisi lain, Abdi juga membantah isu yang menyebut gerakan mahasiswa ditunggangi kepentingan politik maupun mendapat aliran dana dari pihak luar.
Menurut Abdi, seluruh aktivitas dan sikap politik BEM UBK berdiri secara independen. Gerakan yang dibangun organisasinya tidak berada di bawah pengaruh kelompok tertentu maupun kepentingan partisan.
"Saya tekankan kepada kawan-kawan mahasiswa dan publik, tidak ada desain politik atau 'settingan' dari awal dalam pertemuan kami dengan Wapres. Pertemuan itu murni merupakan buah dari diplomasi kami di lapangan yang difasilitasi oleh kepolisian sebagai mitra strategis kami di titik aksi," tegas Abdi.
Lebih lanjut, ia menyayangkan munculnya berbagai kontra-narasi yang dinilai berupaya meragukan kemurnian gerakan mahasiswa.
Menurutnya, gerakan yang dilakukan mahasiswa tidak lahir dari kepentingan tertentu, melainkan dari kegelisahan terhadap kondisi bangsa.
"Semua tudingan itu tidak benar. Gerakan kami murni didasari atas hasil kajian ilmiah dan keresahan nyata yang kami rasakan di Universitas Bung Karno melihat kondisi bangsa saat ini," lanjutnya.
Abdi juga menyinggung soal kemungkinan hadirnya para menteri atau pejabat negara untuk berdialog di lingkungan kampus.
Pada prinsipnya, BEM UBK membuka ruang komunikasi dan diskusi yang bertujuan memberikan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa.
Meski demikian, keterbukaan tersebut tidak diberikan tanpa batas dan tetap disertai sikap kritis dari kalangan mahasiswa.
Mahasiswa Beri Ultimatum 5 Hari ke Gibran
Sebelumnya Wakil Presiden Gibran Rakabuming bertemu sejumlah mahasiswa yang berunjukrasa di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2026).
Wapres menerima pendemo di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan.
Mahasiswa yang bertemu dengan Wapres itu berasal dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Bung Karno dan Universitas MH Thamrin.
Para mahasiswa berjumlah kurang lebih 15 orang mengenakan jas almamater merah dan biru masuk melalui pintu utama, Jalan Medan Merdeka Selatan sekitar pukul 17.20 WIB.
Masuk ke Istana Wapres mereka terlebih dahulu menjalani pemeriksaan melalui pintu metal detector.
Pertemuan tersebut berlangsung tertutup. Sekitar pukul 18.40 WIB, para mahasiswa ke luar istana didampingi Wapres. Setelah foto bersama, Wapres kembali masuk ke dalam, dan para mahasiswa menyampaikan hasil pertemuan kepada awak media.
Pertemuan ini digelar usai mahasiswa BEM UBK menggelar aksi demonstrasi Jalan Medan Merdeka Selatan, sejak siang ini.
Awalnya Koordinator Lapangan Aksi BEM UBK Muhammad Abdimaludin menghentikan aksi demonstrasi.
Dirinya mengungkapkan bahwa 15 perwakilan BEM UBK dipanggil oleh Gibran untuk berdialog dengan para mahasiswa.
Abdi mengatakan pihaknya akan menyampaikan aspirasi dan tuntutan langsung kepada Gibran.
"Kami perwakilan ada 15 orang dan akan menemui bapak Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka," ujar Abdi.
Kemudian 15 perwakilan mahasiswa BEM UBK berjalan kaki kurang lebih 1 Km dari titik demonstrasi dari depan Gedung BSI ke Istana Wakil Presiden.
Para mahasiswa yang mengenakan almamater merah berjalan kaki dikawal oleh tim pengamanan Wapres dan diikuti awak media.
Hasilkan Poin Kesepakatan
Ternyata ada beberapa poin kesepakatan yang telah ditandatangani oleh mahasiswa dan Gibran terkait demo hari ini.
Koordinator aksi dari Universitas Bung Karno, Muhammad Abdi menyebut bahwa Gibran menerima dan mendengarkan aspirasi yang disampaikan oleh para mahasiswa.
"Hasil dari pertemuan sama wakil presiden, Gibran Rakabuming Raka membuahkan hasil, kawan-kawan mahasiswa menyampaikan aspirasi baik dari keluh kesah dari daerah, skala nasional, mereka menyampaikan secara konstitusional ke depan bapak wapres," ungkap Abdi, dilansir TribunnewsBogor.com dari tayangan Kompas TV.
Atas semua aspirasi dan keresahan dari mahasiswa, Gibran mencatatnya di bukunya.
Diungkap Abdi, ia dan mahasiswa lainnya menyampaikan beberapa tuntutan demo hari ini terutama soal polemik Makan Bergizi Gratis ( MBG).
"Respon dari bapak Wapres sangat baik, dia catat hasil dari tuntutan-tuntutan kami dengan buku kecilnya tadi dicatat dengan poin-poinnya yang harus bapak wapres itu ke depannya untuk memperbaiki dan mengevaluasi segala yang janggal di negara hari ini, tentunya MBG dan KMP," pungkas Abdi.
Tak cuma menyampaikan tuntutan, para mahasiswa juga memberikan ultimatum kepada Gibran.
Yakni jika lima hari kesepakatannya dengan Gibran tidak terealisasi, maka mahasiswa akan kembali turun ke jalan.
"Kami dari BEM Universitas Bung Karno memberikan waktu 5x24 jam, ketika aspirasi yang kami sampaikan tidak terealiasasi, maka kami akan melakukan aksi berjilid," ujar Abdi.
"Wapres tadi kan udah catat apa yang kami sampaikan, tadi kami didalam rilis memberikan waktu kepada pemerintah 5x24 jam, ketika tuntutan-tuntutan yang kami sampaikan (tidak dijalankan), maka kami akan tetap di jalan," sambungnya.
Ada beberapa kesepakatan yang telah ditandatangani oleh mahasiswa dan Gibran, di antaranya:
Kluster fiskal dan pendidikan
Kluster krisis moneter dan energi
Usai mendengarkan aspirasi dari para mahasiswa, Gibran mengungkap responnya.
Gibran berjanji akan menyampaikan aspirasi dari mahasiswa itu langsung ke Presiden Prabowo.
"Dia (Wapres) akan mengaudit dan konsolidasi dan diberikan kepada pimpinan khusus presiden Prabowo Subianto," kata Abdi.
Terakhir, Abdi pun mengungkap penolakan yang ia dan rekan mahasiswa lain lakukan terhadap Gibran yakni tawaran untuk makan malam bersama.
"Kami menolak (makan malam dengan Gibran), kami tidak mau ada persepsi buruk terhadap kami," tegas Abdi.
Berikut adalah beberapa poin utama dalam 11 tuntutan mendesak meliputi:
Lalu 9 tuntutan umum mencakup: